Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SEBARAN AIR TANAH DANGKAL DI PERMUKAAN SEKITAR PANTAI KECAMATAN TERNATE UTARA KOTA TERNATE Kusrini Kusrini
Jurnal Geocivic Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.828 KB) | DOI: 10.33387/geocivic.v1i2.1102

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi kebutuhan air bersih di permukiman Kecamatan Ternate Utara, dan sebagian masyarakat tetap mengandalkan air tanah dari akuifer dangkal melalui sumur gali atau pun air tanah dari akuifer dalam. Kebutuhan air tanah yang terus berlangsung dan semakin meningkat dari waktu ke waktu dapat berdampak terhadap penyusupan air laut pada akuifer tersebut di sekitar pantai Kecamatan Ternate Utara. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sample, sampel yang dipilih secara cermat dengan mengambil objek penelitian yang selektif dan mempunyai ciri-ciri yang spesifik. Pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan sampel diantaranya adalah sampel berada di dataran dengan kemiringan lereng 2-3%, dekat saluran atau sungai dan lebih diutamakan diambil pada daerah pemukiman.Bahan pendukung dalam pelaksanaan penelitian ini, antara lain:  Citra Landsat 8 OLI/TIRS liputan Kota Ternate tahun 2014; Peta Administrasi Kecamatan Ternate Utara; dan Peta Geologi Kota Ternate. Peralatan penelitian yang digunakan antara lain peralatan laboratorium dan peralatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan sebaran tingkat intrusi air laut di lahan permukiman yang diklasifikasikan dalam empat kategori yaitu tawar, agak payau, payau, dan asin. Interpretasi dari peta ke dalaman muka air tanah, menunjukkan beberapa kelurahan merupakan daerah lepasan air tanah antara lain; Kelurahan Dufa dufa, Kelurahan Sangaji, Kelurahan Sangaji Utara, Kelurahan Kasturian, Kelurahan Salero, dan Kelurahan Soasio. Di kelurahan yang merupakan daerah lepasan (discharge area) air tanah ini umumnya memiliki kedalaman muka air tanah kurang dari 4 (empat) meter dan berdekatan langsung dengan garis pantai. Sementara penyusupan air laut telah berlangsung di permukiman dengan kepadatan penduduk yang tinggi serta berbatasan langsung dengan garis pantai pada lima kelurahan, yaitu Kelurahan Dufa dufa, Sangaji, Sangaji Utara, Kasturian dan Salero dan umumnya memiliki kedalaman muka air tanah kurang dari empat meter. Luas area permukiman yang mengalami intrusi air laut telah melampaui sekitar 95 % dari luas lahan permukimannya pada enam kelurahan di Kecamatan Ternate Utara, dengan salinitas berkat egori payau tertinggi yaitu Kelurahan Dufa dufa, Kelurahan Sangaji, selanjutnya Kelurahan Sangaji  Utara, Kasturian serta Kelurahan Salero.
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS GEOGRAFI SISWA KELAS VIII MTS AR-RIDHA PAISUMBAOS HALMAHERA-SELATAN Kusrini Kusrini; Fahran Mustafa
Jurnal Geocivic Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.641 KB) | DOI: 10.33387/geocivic.v2i2.1475

Abstract

Model problem based learning (PBL) adalah model pembelajaran yang memberi pengertian lebih mendalam serta menekankan pada pengembangan penalaran dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi yang ditunjukkan dengan mendorong siswa untuk mempergunakan analisis kritis dalam pemecahan masalah.  Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas VIII MTs Ar-Ridha Paisumbaos Halmahera Selatan dengan penerapan pembelajaran melalui model Problem Based Learning (PBL). Desain penilitian adalah penilitian tindakan kelas dengan instrument yang digunakan adalah soal tes, lembar observasi guru dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa, dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat ditunjukkan dengan perolehan rata-rata skor hasil belajar siswa sebesar 20% (siklus I) meningkat menjadi 80% (siklus II). Selain itu, aktivitas belajar siswa meningkat yang ditunjukkan dengan perolehan rata-rata skor aktivitas siswa sebesar 70% (siklus I) meningkat menjadi 100% (siklus II). Penerapan pembelajaran model Problem Based Learning (PBL), juga dapat meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa, yaitu jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I adalah 8 siswa (58,33%) meningkat menjadi 25 siswa (95%) pada siklus II dari jumlah siswa 25 orang. Selain itu, aktivitas proses belajar mengajar guru meningkat yang ditunjukkan dengan perolehan rata-rata skor aktivitas proses belajar mengajar guru sebesar 70% (siklus I) meningkat menjadi 100% (siklus II). Kata Kunci:  Model pembelajaran PBL, hasil belajar, IPS geografi
Karakteristik Lokal Pengrajin Gerabah Terhadap Kualitas Produk Gerabah Desa Maregam Kota Tidore Kepulauan Kusrini Kusrini
UNM Geographic Journal Volume 3 Nomor 1 September 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/ugj.v3i1.14602

Abstract

The study was carried out in Maregam Village, South Tidore District, Tidore Islands City. This study aims to determine the local characteristics of pottery craftsmen on the quality of the products produced. The number of pottery craftsmen in the village of Maregam is 66 households. Pottery is only done by women (wives) who have inherited it from generation to generation and has become a tradition in the community in the village of Maregam. Making pottery is one of the main livelihoods for residents of Maregam Village besides fishermen and farmers. This research is descriptive using secondary data and field survey data with a questionnaire instrument and direct interviews with key informants at the research location with triangulation data analysis.Penelitian dilaksanakan di Desa Maregam, Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lokal pengrajin gerabah terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Jumlah pengrajin gerabah di desa Maregam terdapat 66 KK. Kerajinan gerabah hanya dikerjakan oleh kaum perempuan (istri) yang telah mewarisinya secara turun temurun serta sudah menjadi tradisi dalam masyarakat di Desa Maregam. Pembuatan gerabah merupakan  salah satu mata pencaharian utama untuk penduduk Desa Maregam selain nelayan dan petani. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan data sekunder dan data survey lapangan dengan alat instrument kuesioner dan wawancara langsung terhadap informan kunci di lokasi penelitian dengan analisis data triangulasi.