This Author published in this journals
All Journal Media Pustakawan
Dwi Surtiawan
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membangun Budaya Kepustakawanan Indonesia: Reaktualisasi atau Reborn? Dwi Surtiawan
Media Pustakawan Vol 18, No 1 (2011): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.764 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i1.804

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas tentang identitas kepustakawanan Indonesia dengan pendekatan kebudayaan, khususnya budaya organisasi. Budaya organisasi memiliki potensi sebagai sumber keunggulan kompetitif, oleh karena itu budaya organisasi harus didesain sedemikian rupa sehingga menjadi suatu nilai yang unik dan hanya dimiliki organisasi tersebut. Perpustakaan perlu menemukan budaya organisasinya, karena (1) positioning perpustakaan di dalam benak masyarakat masih belum menguntungkan, (2) perubahan yang terjadi di perpustakaan sangat cepat, bukan saja sistem operasi dan organisasi, tetapi sampai pada level paradigma dan (3) tanpa ada perubahan yang signifikan, bukan tidak mungkin perpustakaan hilang karena kalah bersaing dengan Lembaga informasi yang baru. Upaya menciptakan budaya perpustakaan setidaknya harus dilakukan dengan mengaktualisasikan beberapa hal, yaitu (1) sejarah perpustakaan, (2) nilai dasar dan keyakinan, (3) simbol yang kasat mata dan (4) Bahasa dan ritual.
Membangun Profesionalitas Pustakawan Indonesia Dwi Surtiawan
Media Pustakawan Vol 16, No 3&4 (2009): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.653 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v16i3&4.915

Abstract

Sampai saat ini di kalangan sebagian ilmuwan dan masyarakat awam berpendapat jika pustakawan bukan suatu profesi, namun masih sebatas pertukangan belaka. Topik perdebatan juga klasik, sekitar apakah ada landasan akademis (ilmiah) sehingga pustakawan layak disebut profesi? Bukankah hanya dengan menjalani magang bekerja beberapa bulan saja, seseorang bisa melakukan pekerjaan di perpustakaan? Bilamana pustakawan memang sebuah profesi, bagaimana peran sertanya dalam kehidupan di masyarakat? Dan masih berderet rangkaian pertanyaan terkait yang muncul. Alih-alih mendebat yang hanya menghabiskan energi dan waktu, hal utama untuk pustakawan adalah dengan membuktikan dirinya memang layak disebut profesional di bidang perpustakaan dan berpengaruh besar bagi masyarakat luas.Profesionalisme pada hakekatnya merupakan pengakuan pihak luar terhadap kompetensi, kinerja, sikap dan layanan yang diberikan seorang profesional apapun profesinya. Adanya standardisasi kompetensi pustakawan tinggal menunggu waktu saja. Pustakawan harus menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat profesional di bidang kepustakawanan. Tetapi pelaksanaan standardisasi kompetensi (sertifikasi) harus dimaknai sebagai proses awal saja. Tujuan utamanya adalah menjadi insan pustakawan profesional yang mampu mengemban profesinya agar berguna untuk sebagian besar masyarakat, dengan tercapainya tujuan perpustakaan. Pustakawan merupakan profesi yang di dalamnya melekat upaya mencerdaskan masyarakat. Pustakawan juga seorang pendidik dan harus berpendidikan, untuk itu meningkatkan kualitas diri dengan terus belajar menambah ilmu pengetahuan merupakan keniscayaan. Dorongan untuk meningkatkan kualitas diri yang bisa dimaknai dengan meningkatkan profesionalitas idealnya muncul dari dalam. Sebesar apapun fasilitas, kemudahan dan insentif bagi pustakawan, tetapi bila kesadaran tidak muncul dari dalam, perubahan menuju kebaikan akan berjalan dengan lamban. Untuk itu perlu dorongan agar pustakawan bertindak profesional.