UKM Tempe Sumurrejo yang berlokasi di Dusun Dampyak, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, masih menerapkan proses fermentasi tempe secara manual dengan waktu fermentasi relatif lama, yaitu 36–48 jam, serta kondisi suhu dan kelembapan yang tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut berpotensi menurunkan kualitas tempe dan meningkatkan risiko kegagalan produksi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Pratama (PMP) ini bertujuan untuk merancang, memasang, dan mengimplementasikan alat fermentasi tempe otomatis yang dilengkapi dengan sistem pemantauan dan pengendalian suhu serta kelembapan berbasis PLC, SCADA, dan Internet of Things (IoT). Sistem dikembangkan menggunakan PLC Outseal Mega V3, mikrokontroler ESP32, serta sensor DHT21 untuk memantau suhu dan kelembapan secara real-time, dengan aktuator berupa heater dan exhaust fan sebagai pengendali lingkungan fermentasi. Metode pelaksanaan meliputi survei dan identifikasi kebutuhan mitra, perancangan dan pengujian alat, pemasangan di lokasi mitra, pelatihan pengoperasian dan perawatan alat, serta pendampingan pasca-implementasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa alat fermentasi tempe otomatis mampu menjaga kestabilan suhu pada rentang optimal 30–35 °C dan menghasilkan tempe matang fase transisi secara lebih konsisten dengan kapasitas hingga 40 buah tempe per siklus fermentasi. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses produksi, kualitas hasil tempe, serta kemandirian dan kompetensi mitra dalam pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis otomasi dan IoT.