Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Effect of Extraction Time on Unreacted Oil Removal in Biodiesel Purification Using Deep Eutectic Solvent Helda Niawanti; Siti Zullaikah
Reaktor Volume 18 No. 2 June 2018
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.55 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.18.2.122-127

Abstract

Rice bran oil (RBO) based biodiesel contains unreacted oil such as monoglyceride (MG), diglyceride (DG) and triglyceride (TG) to be purified. The liquid-liquid extraction (LLE) method was used for purification using Deep Eutectic Solvent (DES). The objective of this work was to study the effect of extraction time on unreacted oil removal. RBO containing 16.49% oil with free fatty acids (FFA) content of 44.75%. Acid catalyzed methanolysis was used for biodiesel production under operating conditions: T = 60°C, t = 8 hours, molar ratio of oil/methanol  was 1/10, H2SO4 1% w/w of RBO. Crude biodiesel containing 89.05% fatty acid methyl ester (FAME), 0.05% FFA, TG 4.03%, DG 4.01%  and MG 0.30%. DES was made from choline chloride and ethylene glycol with 1/2 molar ratio, while molar ratio of biodiesel/DES was 1/2. The extraction time was varied from 15 to 240 minutes at 30°C. The highest TG, DG and MG removal were obtained at 240 minutes, they were 3.01%, 0.22% and 0.03%, respectively. FAME and FFA content were 96.55% and 0.03%. Keywords: biodiesel; DES; extraction; unreacted oil; purification
PEMILIHAN JENIS PELARUT PADA EKSTRAKSI TANIN DARI DAUN AVERRHOA BILIMBI DENGAN METODE SOXHLETASI Helda Niawanti; Novy Pralisa Putri
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 9 NOMOR 2 DESEMBER 2020
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v9i2.9391

Abstract

Salah satu komponen dalam proses produksi yang harus diperhatikan dalam proses aplikasi green chemistry di industri adalah zat warna.  Pewarna yang lebih banyak digunakan selama ini adalah jenis pewarna sintetis karena harganya yang lebih murah. Namun, pewarna sintetis ini memiliki kekurangan yaitu berbahaya bagi lingkungan dan dapat menimbulkan reaksi alergi pada tubuh manusia jika digunakan sebagai bahan baku kosmetik. Zat warna alami merupakan solusi dari permasalahan tersebut, salah satu pewarna alami adalah tanin yang dapat diekstraksi dari daun Averrhoa bilimbi. Ekstraksi dilakukan dengan metode solid-liquid extraction dengan menggunakan alat soxhlet. Pelarut merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada hasil ekstraksi. Penelitian ini mempelajari efek dari jenis pelarut yaitu etanol, etanol/air dengan komposisi 90/10 (v/v) dan etanol/air dengan komposisi 80/20 (v/v). Ekstraksi dengan ketiga pelarut dilakukan pada waktu 30, 60, 120, 240, dan 480 menit. Pelarut etanol/air dengan komposisi 90/10 (v/v) memberikan waktu ekstraksi lebih singkat yaitu 60 menit dengan kadar tanin sebesar 5,509% ± 0,125. Sedangkan pelarut etanol mencapai kadar tanin 5,489% ± 0,073 dengan waktu ekstraksi yang lebih panjang yaitu 480 menit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis pelarut berpengaruh pada ekstraksi tanin dikarenakan kelarutan senyawa tanin menjadi lebih cepat ketika ditambahkan air sebagai pelarut.Kata Kunci: Tanin, Averrhoa bilimbi, ekstraksi, soxhlet, pelarut
Pemanfaatan Limbah Lemak Ayam Broiler (Gallus domesticus) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodiesel Melalui Proses Transesterifikasi Reysha Vinanza Pratama; Mardiana Mardiana; Helda Niawanti
Jurnal Chemurgy Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Chemurgy-Desember 2018
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.757 KB) | DOI: 10.30872/cmg.v2i2.2232

Abstract

Biodiesel adalah alkil ester dari rantai panjang asam lemak yang berasal dari bahan lemak seperti nabati atau lemak binatang. Biodiesel merupakan bahan bakar diesel alternatif dari bahan mentah yang dapat diperbaharui. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh persentase katalis NaOH pada pembuatan biodiesel dari lemak ayam terhadap penurunan persentase free fatty acid (FFA), nilai densitas, yield, dan persentase fatty acid methyl ester (FAME) dengan proses transesterifikasi. Bahan baku yang digunakan berupa lemak ayam yang didapatkan dari pedagang ayam di “Pasar Pagi Kota Samarinda”. Kondisi operasi dari proses transesterifikasi pembuatan biodiesel yaitu temperatur 60° C, kecepatan pengadukan pada skala 5, waktu transesterifikasi 75 menit, serta rasio molar perbandingan minyak ayam dan metanol adalah 1:6. Variasi katalis yang digunakan yaitu 0,25 %, 0,5 %, 0,75 %, 1 %, 1,25 % yang dilakukan secara duplo. Hasil penelitian menunjukan bahwa penurunan FFA terbesar yaitu pada variasi katalis 1% sebesar 2,7164%, densitas seluruh sampel sesuai dengan SNI yaitu 850-890 kg/m3, yield terbesar yaitu pada variasi katalis 0,25% dengan nilai rata-rata sebesar 77,395 %, serta kadar FAME yang dihasilkan pada persentase katalis 1% adalah sebesar 45,1679 %.Kata kunci: biodiesel, lemak ayam, katalis, transesterifikasi, duplo.
REVIEW PERKEMBANGAN METODE PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PEMURNIAN DALAM PEMBUATAN BIODIESEL Helda Niawanti
Jurnal Chemurgy Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Chemurgy-Juni 2020
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/cmg.v4i1.4107

Abstract

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang digunakan pada mesin diesel. Biodiesel dapat diproduksi dari berbagai jenis biomassa yang ada di alam. Pengolahan biodiesel adalah proses konversi dari trigliserida menjadi fatty acid metil ester (FAME). Metode produksi biodiesel berkembang dengan berbagai macam proses yang dipilih berdasarkan kondisi bahan baku dan kualitas biodiesel yang ingin dicapai. Produksi biodiesel dapat menggunakan metode konvensional seperti esterifikasi dengan katalis asam dan transesterifikasi dengan katalis basa. Selain itu juga terdapat metode baru seperti proses subkritis dan superkritis dengan tanpa adanya katalis. Metode umum pemurnian biodiesel adalah dengan proses wet washing dan dry washing, suatu metode konvensional untuk menghilangkan kotoran biodiesel seperti sabun, katalis, gliserol dan residu alkohol menggunakan air sebagai bahan pencuci. Selain itu, asam juga dapat digunakan sebagai bahan pencuci, seperti asam fospat, asam sulfat dan asam klorida. Dry washing merupakan metode pemurnian menggunakan resin penukar ion. Proses pemurnian biodiesel juga bisa dilakukan dengan menggunakan membran. Selain itu, juga ada cairan ionik dan pelarut eutektik yang terbentuk dari campuran garam halida organik dan senyawa organik yang bisa diaplikasikan dalam pemurnian biodiesel. Kata kunci: biodiesel, pemurnian, metode, FAME, bahan bakar
PENGARUH RASIO PATI DAN KITOSAN TERHADAP SIFAT FISIK BIOPLASTIK DARI PATI BIJI CEMPEDAK (Artocarpus champeden) Ari Santoso; Wemphy Ambalinggi; Helda Niawanti
Jurnal Chemurgy Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Chemurgy-Desember 2019
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360 KB) | DOI: 10.30872/cmg.v3i2.3577

Abstract

Penggunaan plastik sintetik setiap harinya semakin meningkat. Plastik sintetik sulit terdegradasi di alam sehingga diperlukan plastik yang terbuat dari bahan alam yang mudah terdegradasi atau bisa disebut dengan bioplastik. Salah satu bahan alam yang bisa digunakan adalah pati dan kitosan. Pati yang digunakan pada penelitian adalah pati dari biji cempedak. Pembuatan bioplastik dapat dilakukan dengan bahan pati, kitosan, gliserol, asam asetat, dan akuades. Metode pembuatan bioplastik yang digunakan adalah pemanasan selama 30 menit pada suhu 80˚C. Variabel yang digunakan yaitu variasi massa pati dan kitosan 1:1 ; 1:2 ; dan 1:3. Uji bioplastik yang dilakukan pada penelitian ini antara lain uji daya serap air dan uji biodegradasi. Berdasarkan hasil uji daya serap air rasio massa pati dan kitosan 1:1 memiliki daya serap yang paling kecil sebesar 23,94% dan untuk hasil uji biodegradasi rasio massa pati dan kitosan 1:3 mengalami degradasi dengan cepat sebesar 35,17%.Kata Kunci : pati, biji cempedak, kitosan, bioplastik, daya serap air, biodegradasi
EKSTRAKSI TANIN DARI DAUN PSIDIUM GUAJAVA MENGGUNAKAN METODE SOXHLET Helda Niawanti; Fitri Yani; Mu’min Herman; Husnul Rafliansyah
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 7, No 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.226

Abstract

Daun Psidium guajava adalah bahan baku alami yang mengandung senyawa bioaktif, salah satunya adalah tanin. Tanin digunakan pada berbagai industri seperti tekstil, farmasi, kosmetik, dan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh waktu ekstraksi dan rasio solid-liquid terhadap kandungan tanin ekstrak daun Psidium guajava. Daun segar dan kering diekstraksi dengan etanol dengan perbandingan solid-liquid 1/20 dan 1/60 (b/v). Temperatur ekstraksi pada suhu 80 °C dan waktu ekstraksi 30, 45, 60, 75, dan 90 menit. Kadar tanin tertinggi diperoleh pada waktu 60 menit dan perbandingan solid-liquid 1/20 (b/v) masing-masing sekitar 17 % dan 12 % untuk sampel daun kering dan basah. Sebaliknya, penambahan rasio pelarut tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kandungan tanin yang diekstraksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan waktu ekstraksi meningkatkan perpindahan massa tanin sampai tercapai tahap kesetimbangan.Kata kunci: ekstraksi, tanin, guava, soxhlet, etanol
Characterization of Natural Face Toner from Rice-washed Water Tantra Diwa Larasati; Novy Pralisa Putri; Helda Niawanti; Linda Eka Pratiwi; Delthania Ekaristi Paulina Gedoan
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jstk.v16i2.10850

Abstract

Toner is a skin treatment that serves to refresh and clean facial skin. This study used rice-washed water as the main ingredient for producing toner. Rice-washed water is the main ingredient because it contains abundant nutrients such as carbohydrates in the form of starch, fat, protein, gluten, cellulose, hemicellulose, sugar, vitamins, and minerals. This study aims to determine the effect of toner application made from rice-washed water on the skin, storage time on toner quality, and the production process. The method used in this study uses a simple method of soaking with a rice/water with a various ratio (kg/L). The analysis results show that the toner has a pH of 6.4, considered safe for all skin types with good moisture. The effect on skin moisture was analyzed on six respondents. The toner has a viscosity that is not too thick with a cloudy white color caused by rice grains. Rice grains are beneficial for the skin because they can regenerate skin cells. Rice-washed water toner for seven days contains fat, manganese, protein, oil, fat, and is odorless.