p-Index From 2021 - 2026
0.702
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Verstek
Edy Herdyanto., S.H., M.H
Faculty Of Law, Universitas Sebelas Maret

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KAJIAN KESESUAIAN TATA CARA PENGHENTIAN PENUNTUTAN PERKARA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN BERDASARKAN RESTORATIVE JUSTICE Aulia Ramadhani; Edy Herdyanto
Verstek Vol 10, No 1 (2022): JANUARI - APRIL
Publisher : Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jv.v10i1.61417

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kasus tindak pidana penganiayaan yang dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice karena kesepakatan dua belah pihak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai kesesuaian syarat syarat serta tata cara penghentian penuntutan perkara tindak pidana penganiayaan berdasarkan restorative justice dengan ketentuan Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia no 15 tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif. Jenis Penelitian hukum ini normatif dan bersifat preskriptif. Diketahui dalam proses penghentian penuntutan yang dilakukan oleh penuntut umum yang tertuang dalam Surat Penghentian     Penuntutan Nomor: PRINT-507/L.2.34/Eoh.2/03/2021  bahwa  penghentian  penuntutan  berdasarkan  restorative justice dengan terdakwa Muammer Khadapi Siregar sesuai dengan Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia no 15 tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif.Kata Kunci : Penghentian Penuntutan, Penganiayaan, Restorative JusticeABSTRACT: This study shows that in the case of a criminal act of persecution, the termination of prosecution is based on restorative justice because of the agreement of two parties. This study aims to  provide an  explanation  of  the suitability of  the conditions and procedures for stopping prosecution of criminal acts of persecution based on restorative justice with the provisions of the Republic of Indonesia Prosecutor's Regulation No. 15 of 2020 concerning Termination of Prosecution based on Restorative Justice. This type of legal research is normative and prescriptive. It is known in the process of stopping the prosecution carried out by the public prosecutor as stated in the Termination of Prosecution Letter Number: PRINT-507/L.2.34/Eoh.2/03/2021 that the termination of prosecution based on restorative justice with the defendant Muammer Khadapi Siregar is in accordance with the Regulations of the Prosecutor's Office of the Republic of Indonesia 15 of  2020 concerning Termination of  Prosecution based on Restorative Justice.Keywords: Termination of Prosecution, Persecution, Restorative Justice
KAJIAN KESESUAIAN TATA CARA PENGHENTIAN PENUNTUTAN PERKARA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN BERDASARKAN RESTORATIVE JUSTICE (Studi Surat Penghentian Penuntutan Nomor: PRINT- 507/L.2.34/Eoh.2/03/2021) Aulia Ramadhani; Edy Herdyanto
Verstek Vol 10, No 1: 2022
Publisher : Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jv.v10i1.63928

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kasus tindak pidana penganiayaan yang dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice karena kesepakatan dua belah pihak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai kesesuaian syarat syarat serta tata cara penghentian penuntutan perkara tindak pidana penganiayaan berdasarkan restorative justice dengan ketentuan Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia no 15 tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif. Jenis Penelitian hukum ini normatif dan bersifat preskriptif. Diketahui dalam proses penghentian penuntutan yang dilakukan oleh penuntut umum yang     tertuang     dalam     Surat     Penghentian     Penuntutan     Nomor:     PRINT-507/L.2.34/Eoh.2/03/2021  bahwa  penghentian  penuntutan  berdasarkan  restorative justice dengan terdakwa Muammer Khadapi Siregar sesuai dengan Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia no 15 tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif.Kata Kunci : Penghentian Penuntutan, Penganiayaan, Restorative JusticeABSTRACT: This study shows that in the case of a criminal act of persecution, the termination of prosecution is based on restorative justice because of the agreement of two parties. This study aims to  provide an  explanation  of  the suitability of  the conditions and procedures for stopping prosecution of criminal acts of persecution based on restorative justice with the provisions of the Republic of Indonesia Prosecutor's Regulation No. 15 of 2020 concerning Termination of Prosecution based on Restorative Justice. This type of legal research is normative and prescriptive. It is known in the process of stopping the prosecution carried out by the public prosecutor as stated in the Termination of Prosecution Letter Number: PRINT-507/L.2.34/Eoh.2/03/2021 that the termination of prosecution based on restorative justice with the defendant Muammer Khadapi Siregar is in accordance with the Regulations of the Prosecutor's Office of the Republic of Indonesia 15 of  2020 concerning Termination of  Prosecution based on Restorative Justice.Keywords: Termination of Prosecution, Persecution, Restorative Justice
KEKUATAN PEMBUKTIAN VISUM ET REPERTUM PADA TINDAK PIDANA PERSETUBUHAN YANG DILAKUKAN SECARA PAKSA TERHADAP ANAK (Studi Kasus: Putusan Nomor 121/Pid.sus/PN.Kdl/2020) Dyah Retno Pujaningrum; Edy Herdyanto
Verstek Vol 10, No 1 (2022): JANUARI - APRIL
Publisher : Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jv.v10i1.63927

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan pembuktian Visum Et Repertum pada tindak pidana persetubuhan yang dilakukan secara paksa terhadap anak dengan ketentuan KUHAP. Jenis penelitian yang digunakan dalam menyusun penelitian hukum ini adalah penelitian hukum doktrinal atau normatif. Sifat penelitian hukum ini adalah preskriptif dan terapan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kasus (case study). Hasil penelitian menjelaskan bahwa kekuatan pembuktian Visum Et Repertum dalam pembuktian tindak pidana persetubuhan yang dilakukan secara paksa terhadap anak menjadi suatu alat bukti yang penting. Hal ini dikarenakan tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa merupakan tindak pidana yang berhubungan dengan tubuh manusia, sehingga dibutuhkan bantuan dokter untuk melakukan pemeriksaan. Terlebih lagi pada kasus yang korbannya adalah anak, karena anak tidak secakap orang dewasa, ketika sesuatu terjadi pada dirinya, terkadang anak sulit dalam menjelaskan keadaan apa yang telah terjadi kepadanya dan mengenai pertimbangan hakim dalam memutus perkara persetubuhan yang dilakukan secara paksa terhadap anak.Kata Kunci: Visum Et Repertum, Pembuktian, Persetubuhan AnakAbstract: This research aimed to comprehend the verification power of Visum Et Repertum on the criminal act of sexual intercourse done forcedly to children with the Criminal Code provision. The type of research used in arranging the legal research was doctrinal or normative legal research. The character of this research was prescriptive and applied. The research approach used was a case approach (case study). The result of the research explained that the verification power of Visum Et Repertum in sexual intercourse crime verification done forcedly to children became essential evidence. It was because the crime carried out by the defendant was a criminal act related to the human body, so that it needed a doctor’s help to do a checkup. Furthermore, in a case whose victim is a child because children are not as competent as adults when something happens to them, sometimes children have difficulty explaining what situation happened to them and regarding the judge’s consideration in deciding a sexual intercourse case done forcedly to children.Keywords: Visum Et Repertum, Verification, Children Sexual Intercourse
Keterangan Ahli Keimigrasian Sebagai Sarana Pembuktian Dakwaan Penuntutan Umum Dan Pertimbangan Hakim Dalam Memutus Perkara Pelanggaran Keimigrasian (Studi Putusan Nomor : 107 /Pid.Sus/2016 Pn.Lgs) Christian Adhi Nugroho; Edy Herdyanto., S.H., M.H
Verstek Vol 6, No 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.686 KB) | DOI: 10.20961/jv.v6i3.39164

Abstract

       Penelitian ini bertujuan mengetahui tentang kesesuaian pembuktian penuntut umum dalam kesaksian keterangan ahli oleh pihak keimigrasian di persidangan dengan pasal 113 ayat 2 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 dalam perkara Keimigrasian yang telah diputuskan oleh pertimbangan hakim.       Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan studi kepustakaan. Pembahasan didasarkan pada teori-teori, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen, jurnal-jurnal hukum, karya tulis, serta referensi-referensi yang relevan terhadap penelitian yang dilakukan. Teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan oleh penulis untuk mengumpulkan data yaitu adalah studi kepustakaan. Studi kepustakaan sangat penting sebagai dasar teori maupun sebagai data pendukung. Dalam studi kepustakaan ini peneliti mengkaji/menelusuri dan mempelajari buku-buku, jurnal, arsip, dan dokumen maupun peraturan perundangan-undangan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Teknik analisis penulis yang dipergunakan dalam penulisan hukum ini adalah deduksi silogisme. Sedangkan yang dimaksud deduksi silogisme adalah metode yang berpangkal dari pengajuan premis mayor yang kemudian diajukan premis minor, kemudian  dari keduanya dapat ditarik kesimpulan atau conclusion jadi terdapat berhubungan yang menimbulkan timbal-balik.      Hasil penelitian menunjukkan bahwa Para terdakwa melakukan penangkapan ikan yang melampaui batas territorial perairan Negara mereka. Para terdakwa tidak dapt menunjukkan dokumen tentang keberadaan mereka dan surat ijin dari Badan Imigrasi Indonesia.        Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberian Keterangan Ahli yang diajukan oleh Penuntut Umum yaitu Ahli Keimigrasian yang menjelaskan pelanggaran-pelanggaran hukum Keimigrasian dijadikan pertimbangan Hakim untuk menyatakan Terdakwa bersalah melanggar Undang-Undang Keimigrasian UU R.I Nomor. 6 tahun 2011 Pasal 113 ayat 2. Para terdakwa dikenai hukuman sesuai Undang-Undang yang berlaku.        Kata Kunci : Keterangan Ahli, Keimigrasian, Hukum