Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Lingkungan sebagai Media Pembelajaran dan Pengaruhnya terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 3 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i3.24

Abstract

This study aimed to analyze the intensity of utilization of the environment as a medium of learning and its influence on the competency of agricultural extension agents. This study uses a survey of PNS, agricultural extension in the districts of Karawang and Garut district of West Java Province. Samples randomly taken as much as 170 people. Results Descriptive analysis is generally known to use the media environment as a medium of learning is low. The low utilization is particularly true in the dimension of the natural environment and observing the intensity of agricultural business environment, while the deepening of independent innovation in the medium category. Regression analysis found that use of the media environment that significantly influence the intensity of the deepening of the competency of agricultural extension agents are independent innovation. Therefore it is necessary to attempt to “Learning with the Environment Movement” through concrete steps in boosting the agricultural extension agents to study the environment at the place of duty. Need to conduct further research on the influence of environmental media utilization of improved competence of other professions such as teacher, lecture, etc. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis intensitas pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran dan pengaruhnya terhadap kompetensi penyuluh pertanian. Penelitian menggunakan metode survai terhadap penyuluh pertanian PNS di kabupaten Karawang dan kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Sampel diambil secara random sebanyak 170 orang. Hasil analisis deskriptif diketahui secara umum pemanfaatan media lingkungan sebagai media pembelajaran adalah rendah. Rendahnya pemanfaatan ini terutama terjadi dalam dimensi intensitas mengamati lingkungan alam dan lingkungan usaha pertanian, sedangkan pendalaman inovasi mandiri dalam kategori sedang. Hasil analisis regresi diketahui bahwa pemanfaatan media lingkungan yang berpengaruh signifikan terhadap kompetensi penyuluh adalah intensitas pendalaman inovasi mandiri. Oleh karena itu perlu upaya “Gerakan Belajar dengan Lingkungan” melalui langkah-langkah nyata dalam mendorong penyuluh pertanian untuk belajar dengan lingkungan di tempat tugasnya. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemanfaatan media lingkungan terhadap peningkatan kompetensi pada profesi lain, seperti guru, dosen, dan profesi lainnya.
Kuliah Kerja Nyata Tematik Pos Pemberdayaan Keluarga Sebagai Model Pengabdian Masyarakat Di Perguruan Tinggi Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 5 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i5.49

Abstract

The Tridharma of higher education and colleges have directed university to care about problems in society, including through devotion to the community activities. Posdaya Thematic KKN is a community service model that focuses on empowering families and communities, especially in aspects of education, health, entrepreneurship, and environment. Through KKN students are put into life within the community in shaping the institute or expand existing social institution to become a Posdaya. Through this Posdaya students with the community identify problems and mobilize all the potential that exists for the advancement of society. Students can synergize and implement what they have learnt into community live, practice their carefulness, leadership, cooperation dan learn local wisdom and the values and norms of society. Posdaya thematic KKN is a system that needs preparation, execution, coaching, mentoring, monitoring and evaluation and as well as continually follow-up activities. The implementation of KKN also encourages coordination, advocacy, and collaboration with relevant parties including the private sectors through their Corporate Social Responsibility (CSR) programs. ABSTRAKTridharma Perguruan Tinggi mengatur perguruan tinggi untuk peduli memecahkan masalah di masyarakat, di antaranya melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posdaya merupakan model pengabdian masyarakat yang memfokuskan pada pemberdayaan keluarga dalam aspek pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan lingkungan. KKN menempatkan mahasiswa tinggal bersama masyarakat dalam membentuk lembaga atau mengembangkan masyarakat terutama lembaga kemasyarakatan yang telah ada menjadi Posdaya. Melalui wahana Posdaya ini mahasiswa bersama masyarakat mengindentifikasi permasalahan dan menggerakkan semua potensi yang ada demi kemajuan masyarakat. Mahasiswa dapat mensinergikan dan mengimplemen-tasikan keilmuan yang ditekuninya dengan kehidupan masyarakat, melatih kepedulian, kepemimpinan, kerjasama, mempelajari kearifan lokal, tatanan nilai, serta norma masyarakat. KKN Tematik Posdaya merupakan sistem yang perlu persiapan, pelaksanaan, bimbingan, pendampingan, monitoring dan evaluasi, dan kegiatan tindak lanjut secara berkesinambungan. Pelaksanaan KKN juga mendorong koordinasi, advokasi, dan kerjasama dengan pihak terkait termasuk melibatkan perusahaan swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Televisi Pembangunan Pedesaan Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 5 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i5.490

Abstract

This paper is a study in the follow advice from the research writer (2009), about the need to realize the Television Rural Development in order to meet the growing information needs for improving the quality of rural communities. Through literature review and discussion of results is known that themedium of television is the most popular mass media and society tend to increase every year. Media thatpresents a visual audio message is also able to influence the behavior and community life. RealizingRural Development TV broadcasts does not always mean to build a new television station, but it can bemade happen by optimizing the public television station TVRI especially with its digital technology thatcould overcome the frequency limitations. This broadcast aired nationally for 24 hours, via a specialchannel with an eight-hour-a-day broadcast pattern, which is then repeated in the afternoon and evening,so the villagers can follow the show within their appropriate opportunity. ABSTRAKTulisan ini merupakan kajian dalam menindaklanjuti saran dari hasil penelitian penulis (2009),tentang perlunya mewujudkan Televisi Pembangunan Pedesaan guna memenuhi kebutuhan informasiyang terus berkembang bagi peningkatan kualitas SDM masyarakat pedesaan. Melalui hasil kajian literaturdan bahasan diketahui bahwa media televisi merupakan media massa yang paling digemari masyarakatdan setiap tahun cenderung meningkat. Media yang menyajikan pesan audio visual ini juga mampumempengaruhi perilaku dan kehidupan masyarakat. Untuk merealisasikan Siaran Televisi PembangunanPerdesaan tidak perlu membangun setasiun televisi baru, akan tetapi mengoptimalkan TVRI sebagaisetasiun televisi publik, baik menggunakan teknologi analog apalagi teknologi digital yang bisa mengatasiketerbatasan frekuensi. Siaran ini mengudara secara nasional selama 24 jam, melalui satu channelkhusus dengan pola siaran 8 jam per hari, yang kemudian diulang pada sore dan malam harinya,sehingga masyarakat desa dapat mengikuti sesuai kesempatan yang dimilikinya. Substansi acaradikembangkan mengacu pada prinsip-prinsip pembangunan masyarakat pedesaan yang sesuai dengankebutuhan dan potensi masyarakat desa.
Pengembangan Kompetensi Penyuluh Pertanian Berbasis Media Massa Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 6 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i6.501

Abstract

This study aimed is to analyze the intensity of the use of mass media, the suitability of the substance of the mass media with the needs of extension education, and their effects on the competency of agricultural extension agents. The mass media mentioned in this study were newspapers, magazines, books, radio, television and the internet. This research was conducted by survey method on the paddy extension agent PNS within districts of Karawang and the vegetable extension agent government employee in the district of Garut, West Java. Samples were randomly taken as much as 170 people. The result of descriptive analysis showed that the intensity of mass media utilization was low. The intensity of particular mass media utilization especially newspapers, books, radio and the internet were in a very low category. Utilization of the magazine was in fair category. Only the intensity of television media utilization was in the high category, even though their substances were less in accordance with the needs of the extension education. The multiple regression analysis found that the mass media that influence the competency of agricultural extension agents was the magazine by which the substance was in accordance with the needs of extension education, accessible, and continuous. On the other hand the high intensity of television media utilization was potential to increase the competency of agricultural extension agents. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis intensitas pemanfaatan media massa, kesesuaian substansi media massa dengan kebutuhan penyuluhan, dan pengaruhnya terhadap kompetensi penyuluh pertanian. Media massa yang dimaksudkan adalah koran, majalah, buku, radio, televisi, dan internet. Penelitian ini dilakukan dengan metode survai terhadap penyuluh pertanian PNS padi di kabupaten Karawang dan penyuluh sayuran di kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Sampel diambil secara random sebanyak 170 orang. Hasil analisis deskriptif diketahui secara umum intensitas pemanfaatan media massa adalah rendah. Secara khusus intensitas pemanfaatan media: koran, buku, radio, dan internet dalam kategori sangat rendah. Pemanfaatan majalah dalam kategori sedang, dan hanya intensitas pemanfaatan media televisi dalam kategori tinggi walaupun substansinya kurang sesuai dengan kebutuhan penyuluhan. Melalui analisis regresi berganda diketahui bahwa media massa yang berpengaruh terhadap kompetensi penyuluh adalah majalah yang substansinya sesuai dengan kebutuhan penyuluhan, mudah diakses, dan dilakukan secara kontinyu. Di sisi lain, intensitas pemanfaatan media televisi yang tinggi memiliki potensi sebagai media yang dapat digunakan untuk peningkatan kompetensi penyuluh.
Televisi Mendidik Karakter Bangsa: Harapan dan Tantangan Oos M Anwas
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 16 No. 9 (2010)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v16i9.517

Abstract

Character education is an effort to embed intelligence in thinking, appreciation in attitude, and practice in the form of behavior which is consistent with the values and norms as well as noble personality. Therefore we need inuring, modeling, and a conducive environment within family, school, community, and support from the mass media, especially television exposure. The school principal, teachers, parents, and communities are required to be role models for younger generations. However, habituation and ideals in the daily behavior are not easy. Television media with different characteristics is hopefully able to minimize these constraints. Television is the most popular mass media. Television also can dramatize and photograph the reality of everyday life in society in audio-visual based. The reality mentioned here comprises the appreciation and cultivation of religious teachings, the nation’s cultural diversity, local knowledge, natural resources, social life, development of creativity, including the history of national struggle and folklore. Certain presentation format could optimize the concept of drama, soap opera, or a true story. Characterization and location setting describe Indonesian territory that accommodate the diversity culture, ethnic, religion, and the local environment. The role of community is very important to influence television station in order to broadcast educating programs. Similarly, government commitment and policy as well as private concerns is expected i order to instill character education through television. ABSTRAK Pendidikan karakter merupakan upaya menanamkan kecerdasan dalam berpikir, penghayatan dalam bersikap, dan pengamalan dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma serta akhlak mulia. Oleh karena itu, diperlukan pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang kondusif baik di keluarga, sekolah, masyarakat, serta dukungan exposure media massa khususnya televisi. Kepala sekolah, guru, orangtua, dan masyarakat dituntut menjadi teladan bagi generasi muda. Namun, pembiasaan dan keteladanan dalam berperilaku sehari-hari tidak mudah. Media televisi dengan berbagai karakteristiknya optimis dapat meminimalisir kendala tersebut. Televisi merupakan media massa yang paling digemari. Televisi juga dapat mendramatisasi dan memotret realitas kehidupan sehari-hari di masyarakat dalam bentuk audio visual. Realitas tersebut merupakan penghayatan dan penanaman ajaran agama, keanekaragaman budaya bangsa, kearifan lokal, kekayaan alam, kehidupan sosial kemasyarakatan, pengembangan kreativitas, termasuk sejarah perjuangan bangsa dan cerita-cerita rakyat. Format sajian dapat mengoptimalkan konsep drama, sinetron, atau kisah nyata. Penokohan dan setting lokasi menggambarkan wilayah Indonesia dengan mengakomodir keragaman budaya, suku, agama, dan lingkungan lokal. Untuk mewujudkan harapan ini peran masyarakat sangat penting dalam mempengaruhi stasiun televisi untuk menyiarkan acara yang mendidik. Begitu pula diperlukan komitmen dan kebijakan pemerintah, serta kepedulian swasta dalam menanamkan pendidikan karakter melalui televisi.