wahyu purwanta
Pusat Teknologi Lingkungan-BPPT

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Laju Produksi dan Karakterisasi Polutan Organik Lindi dari TPA Kaliwlingi, Kabupaten Brebes Purwanta, Wahyu; Susanto, Joko Prayitno
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.145 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i2.2036

Abstract

Salah satu hasil proses biodegradasi sampah di TPA adalah lindi yang merupakan polutan organik yang berbahaya bagi lingkungan karena berpotensi mencemari tanah dan air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas lindi dari sampah di TPA Kaliwlingi Brebes melalui uji lisimeter. Kuantitas lindi penting untuk memperkirakan spesifikasi disain unit pengolahan termasuk metode pengolahannya. Sedangkan karakteristik lindi penting untuk menentukan efisiensi pengolahan atau target kadar polutan yang diinginkan agar sesuai standard baku mutu. Dari pengamatan diperoleh kuantitas lindi per massa sampah rata-rata mencapai 1.060 liter/kg, sedangkan nilai pH lindi rata-rata 7,6 atau cenderung alkaline. Dari data pengamatan, semakin tinggi kadar air akan semakin besar kuantitas lindi yang dihasilkan. Karakterisasi lindi terhadap parameter BOD5, COD, NH3-N dan TKN menghasilkan nilai yang bervariasi. Nilai rata-rata serta rentang minimal-maksimal yang didapat; BOD5 90,7 mg/l (65 mg/l-130 mg/l), COD 9.679,7 mg/l (6.300 mg/l-12.200 mg/l), NH3-N 134,4 mg/l (80 mg/l-190 mg/l) dan TKN 672,5 mg/l (540 mg/l-890 mg/l). Rasio BOD5/COD sebesar 0,01 menunjukkan tingkat low biodegradability dalam materi organiknya, hal ini disebabkan waktu pengamatan yang relatif singkat dan proses degradasi biologis masih berlangsung.Nilai rasio BOD5/COD yang diperoleh belum menunjukkan nilai yang representatif untuk sampah di TPA Kaliwlingi. Hasil dari karakterisasi lindi untuk beberapa parameter  menunjukkan bahwa biomassa atau sampah yang diteliti tergolong usia muda dan masih dalam proses dekomposisi.Kata kunci : karakterisasi, produksi, organik, lindi, TPA sampah
PENGEMBANGAN DAN PEMBERLANJUTAN TEKNOLOGI PEMANTAUAN LINGKUNGAN PERAIRAN LAUT (SEAWATCH INDONESIA) purwanta, wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 3 No. 3 (2002): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.433 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v3i3.261

Abstract

Sebagai sebuah infrastruktur yang bernilai investasi tidak sedikit, upaya menjaga kesinambungan sistem Seawatch sangatlah penting.Secara umum permasalahan yang muncul dalam pengoperasian dan pengembangan sistem ini dapat dikategorikan sebagai masalah teknis dan non-teknis. Secara teknis masalah yang terjadi pada sistem buoy sebagian besar disebabkan oleh faktor ketidak-akraban lingkungan laut bagi sistem elektronik. Sementara pada aspek teknis pada pusat kendali lebih kepada aspek keandalan (reliability) sistem dan masalah penyebaran termasuk pengaturan aksesnya. Adapun faktor non-teknis utama adalah aspekyang berkaitan dengan ekonomi dalam arti apakah nilai tambah yang dihasilkan sistem Seawatch sebanding dengan biaya pengadaan, pengembangan, dan operasionalnya. Dalam menjaga kesinambungan ke depan suatu upaya bagaimana menekan biaya operasional dan meningkatkan manfaat dan kemanfaatan data dan atau informasi yang dihasilkan menjadi penting. Peningkatan kemampuan pada aspek teknik-praktis-operasional dan peningkatan pemahaman (meaning atau know-how) pada sistem pemantauan diperlukan agar diperoleh pilihan-pilihan pengukuran dan koleksi data yang lebih ekonomis. Sementara penyebaran data dan informasi yang ada perlu segera dilakukan dalam kaitan memberi manfaat dalam jangka panjang khususnya dalam pembangkitan arti pentingnya data dan informasi kelautan.
PENYISIHAN TIMBAL (Pb) DARI TANAH TERKONTAMINASI DENGAN PROSES ELEKTROMIGRASI purwanta, wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 6 No. 3 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.426 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v6i3.348

Abstract

This study is trying to apply a new method in remediation electrokinetic byinserting conductive solution between cathode and soil to be treated. This is purposed in keeping the pH in low condition and preventing the precipitation of heavy metals in the soil adjacent to the cathode that often happen in the previous electrokinetic methods. Concentration of Pb (C0), period (t), concentration of conductive solution were selected as parameters, both with artificially contaminated sand and naturally contaminated soil experiments. The experiment with natural soil C0 = 975 ppm gave lower efficiency at 32,84% when it compares with sand as the medium, with the experiment in the same condition at 87,68%. Concentration of KCl also influenced theperformance of system which was shown by the increasing in removal efficiency. The double increase of conductive solution concentration does not proportionally increase the flux of Pb. Although desorption in the natural soil take time longer than in the sand the removal efficiency relatively low. This is caused by the immobile state of Pb in the natural soil and the complexity of chemical reaction between heavy metals with surface of soil particle.
MERANCANG SISTEM BUOY DAN SENSOR SEBAGAI PERANGKAT PEMANTAUAN LINGKUNGAN PERAIRAN YANG MURAH, HANDAL DAN MANDIRI purwanta, wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v2i3.225

Abstract

Dalam rangka alih teknologi khususnya dalam perancangan sistem pemantauan lingkungan perairan yang murah, handal dan mandiri, maka pada tahun 2000 dimulai perancangan buoy dan sensor yang ditujukan baik bagi pemantauan perairan darat (waduk dan sungai) maupun laut. Sistem ini pada dasarnya terdiri atas seperangkat buoy pengukur serta pusat pengolahan data yang saling terhubungkan dengan telemetri radio (VHF/HF).Beberapa parameter yang dapat diukur dengan sistem sensor antara lainparameter bawah air dan permukaan air seperti tekanan udara, kecepatan dan arah angin, konduktivitas, Kelarutan Oksigen, arah kecepatan arus, tinggi gelombang kekeruhan perairan. Rekayasa dan pengembangan diarahkan pada aspek fungsi dan kinerja dasar sistem buoy yang real time. Beberapa perangkat keras dari sistem buoy antara lain ; transducer, on-board computer, conditioning signal, converter, data acquitition controller, storage media dan instrument komunikasi data.
PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN STRATEGI ADAPTASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI BANDAR UDARA HASANUDDIN, MAKASSAR Indriatmoko, Robertus Haryoto; Purwanta, Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.462 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.33

Abstract

Salah satu sektor pembangunan di Indonesia yang tidak bebas dari ancaman perubahan iklim adalah sektor transportasi udara. Oleh karena, perlu disiapkan strategi adaptasi dampak perubahan iklim. Bandara Hasanuddin Makassar berpotensi terkena dampak peningkatan suhu permukaan, kelembaban udara dancurah hujan dalam sepuluh tahun terakhir. Jika melihat data emisi gas polutan (non-GRK) terlihat bahwa polusi udara belum menjadi ancaman nyata. Namun ancaman yang akan segera dialami adalah berubahnya beberapa parameter meteorologis seperti suhu permukaan, kelembaban dan intensitas curah hujan. Berdasarkan data pemantauan oleh otoritas bandara memperlihatkan untuk rentang waktu 10 tahun sejak 2003 hingga 2013, telah terjadi kenaikan suhu permukaan rata-rata sebesar 10C. Kenaikan suhu permukaan ini juga diikuti kenaikan kelembaban pada rentang waktu yang sama sebesar 5%. Perubahan ketiga komponen iklim ini akan memberi dampak pada sistem penerbangan sehubungan dengan fenomena perubahan iklim. Melalui analisis risiko dan peluang untuk tiap perubahan komponen iklim, akan dapatditentukan dampak negatif dan dampak positif dari suatu fenomena cuaca dan iklim. Ancaman utama atau dampak negatip perubahan iklim bagi bandara Hasanuddin adalah potensi banjir, kekeringan, kebutuhan energi yang meningkat, rusaknya infrastruktur seperti runway, taxiway dan apron serta terganggunya operasional penerbangan akibat cuaca ekstrim. Strategi adaptasi yang tepat untuk bandara Hasanuddinantara lain dengan peningkatan kinerja sistem drainase, sumur resapan, penerapan efisiensi energi dan penggunaan energi ramah lingkungan, penerapan eco-office serta efisiensi proses dan prosedur kerja dalam pelayanan penumpang di bandara.Kata kunci : bandar udara, adaptasi, perubahan iklim
PENGOLAHAN RAW DATA PARAMETER PERAIRAN LAUT MENJADI USABLE DATA DALAM UPAYA DISEMINASI DATA KELAUTAN SEAWATCH INDONESIA purwanta, wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 1 (2003): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.443 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v4i1.267

Abstract

Antara tahun 1996 sampai dengan 2000, sistem Seawatch Indonesia telahberhasil mengukur berbagai parameter kelautan baik fisik oceanografi maupunkimia biologis khususnya dibeberapa perairan terpilih di Indonesia. Data-data initerkumpul melalui perangkat pengukuran yang near real time dengan buoy dansensor sebagai ujung tombak kolektor data. Keseluruhan data yang terkumpulharus diolah agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan baik sektorkelutan, lingkungan hidup maupun iptek kelautan itu sendiri. Tulisan inimemaparkan aspek latar belakang sistem Seawatch sekaligus langkah-langkahpengolahan data menjadi data yang siap didiseminasi dengan menggunakanMATLAB dan ORIGIN.
PERFORMANCE TESTS OF COMPOST AND PADDY SOIL MEDIA BED ON GHG (CH4 & CO2) ELIMINATION IN LANDFILL Purwanta, Wahyu
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 8, No 1: Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.07 KB)

Abstract

One method to reduce emissions of CH4 from municipal solid waste landfill is to modify the final cover layer. Methane (CH4) oxidation by methanotrophs bacteria in the soil cover layer can reduce the concentration of the CH4 emission to the atmosphere. Through field experiments, tested the effect of media bed thickness, moisture and nutrient content in the form of a media bed type that is compost and paddy soil. In general, the efficiency of oxidation by using compost media is higher than the use of paddy soil cover. For both media bed, moisture content 30% more efficient in the oxidation of CH4 compared to 20%. Moisture content determines the rate of gas diffusion between media bed with its gas phase (CH4 and O2). While for a thickness of 25 cm also produced a higher oxidation rate than the 15 cm because of the methanotrophs population.keywords: landfill gas; biofiltration; methane oxydation
PERUBAHAN PARAMETER BIOGEOFISIK DAN LINGKUNGAN TPA SAMPAH LEUWIGAJAH PASCA BENCANA LONGSOR Purwanta, Wahyu
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol 4, No 3: Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.287 KB)

Abstract

This study is conduct to evaluate the changes of biogeophysical aspects of Leuwigajah Dumping Area (TPA) after the slidding event of municipal solid wastes in 2005. It is necessary to reuse the TPA in the future through rehabilitation and revitalitation.The study is important due to the detail engineering design (DED) of new TPA which is still in an on going process, whereas need some consideration from technical and non-technical aspects. The result of geological survey showed that there is no signifi cant changes in geological condition, whether the changes were found in groundwater and surface water quality, before and after the slidding event. At the other side, the result of existing solid waste material showed that a high heavy metals content was found in the bulk material. It isalso found that the quality of degraded material yet is closed to compost, with a C/N ratio between 12,04 to 15,74. This compost-soil is recommended for daily cover soil at the TPA. So, before operating a new TPA, landfi ll mining must be done as initial activity.To reduce or minimize environmental impact the new TPA has to apply sanitary landfi ll method.Key words : biogeophysical, post slidding , Leuwigajah dumping area
Evaluasi Penerapan Insinerator Sampah Skala Kecil di TPST Kabupaten Sidoarjo Purwanta, Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.17 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4199

Abstract

ABSTRACT The waste's production rate in Sidoarjo Regency is estimated at 1,216 tpd. Around 464 tpd (ton per day) are transported to Jabon Landfill, and about 298 tpd are treated at the Integrated Garbage Treatment Center (TPST), 3R Treatment Center, and the Bank of Garbage. Therefore, there are still 454 tpd of waste that has not yet been managed, potentially harming the environment. The still limited garbage service level to be transported to the landfill has made the community take the initiative to process the garbage with incinerators placed at the existing TPST. These incinerators can reduce the waste up to 25% to 30% by weight of the waste that enters the TPST. In this research, ten incinerators were studied in the TPST. From the sample conditions obtained, almost all incinerators were operated below the technical standards required for optimum operation and minimum environmental impact. The combustion temperature is generally below 800 °C, the gas residence time is less than 2 seconds, and there is no turbulence. Therefore, the black smoke often occurs due to incomplete combustion. Air pollution control installations such as cyclones and scrubbers are malfunctioning and rusty due to high temperatures and acidic environments. Incinerator management hardly relies on community contributions. However, it is generally only enough for employee salaries. Furthermore, there is no incinerator maintenance. On the other hand, social conflicts due to incinerator smoke are reported to have not yet occurred because the location of TPST is generally still far from residential areas. Keywords: incinerator, small scale, operation, environmental   ABSTRAK Tingkat timbulan sampah Kabupaten Sidoarjo adalah 1.216 ton/hari, dimana sekitar 464 ton dibawa ke TPA Jabon dan 298 ton ditangani di TPST, TPS 3R, dan Bank Sampah. Hal ini berarti masih ada 454 ton sampah yang tidak terkelola dan berpotensi lari ke lingkungan. Masih terbatasnya tingkat pelayanan sampah untuk diangkut ke TPA telah membuat masyarakat berinisiatif mengolah sampahnya dengan insinerator yang ditempatkan di TPST yang ada. Keberadaan insinerator ini mampu mengurangi berat sampah hingga 25% hingga 30% berat sampah yang masuk ke TPST. Melalui penelitian terhadap sepuluh insinerator di TPST, diperoleh kondisi bahwa hampir semua insinerator beroperasi di bawah standar teknis yang dipersyaratkan bagi tercapainya operasi optimum dan minimnya dampak lingkungan. Suhu pembakaran umumnya berada di bawah 800 0C, waktu tinggal gas kurang dari 2 detik dan tidak terjadi turbulensi, sehingga sering terjadi asap yang hitam akibat pembakaran tidak sempurna. Kondisi instalasi pengendalian pencemaran udara seperti cyclone dan scrubber banyak yang tidak berfungsi dan berkarat akibat tidak tahan suhu tinggi dan lingkungan yang asam. Pengelolaan insinerator mengandalkan iuran warga namun umumnya hanya cukup untuk honor pekerja sehingga tidak ada untuk perawatan insinerator. Konflik sosial akibat asap insinerator belum terjadi karena lokasi TPST umumnya masih jauh dari permukiman warga. Kata Kunci:  insinerator, skala kecil, operasi, lingkungan
Evaluasi Penerapan Insinerator Sampah Skala Kecil di TPST Kabupaten Sidoarjo Purwanta, Wahyu
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.17 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v22i1.4199

Abstract

ABSTRACT The waste's production rate in Sidoarjo Regency is estimated at 1,216 tpd. Around 464 tpd (ton per day) are transported to Jabon Landfill, and about 298 tpd are treated at the Integrated Garbage Treatment Center (TPST), 3R Treatment Center, and the Bank of Garbage. Therefore, there are still 454 tpd of waste that has not yet been managed, potentially harming the environment. The still limited garbage service level to be transported to the landfill has made the community take the initiative to process the garbage with incinerators placed at the existing TPST. These incinerators can reduce the waste up to 25% to 30% by weight of the waste that enters the TPST. In this research, ten incinerators were studied in the TPST. From the sample conditions obtained, almost all incinerators were operated below the technical standards required for optimum operation and minimum environmental impact. The combustion temperature is generally below 800 °C, the gas residence time is less than 2 seconds, and there is no turbulence. Therefore, the black smoke often occurs due to incomplete combustion. Air pollution control installations such as cyclones and scrubbers are malfunctioning and rusty due to high temperatures and acidic environments. Incinerator management hardly relies on community contributions. However, it is generally only enough for employee salaries. Furthermore, there is no incinerator maintenance. On the other hand, social conflicts due to incinerator smoke are reported to have not yet occurred because the location of TPST is generally still far from residential areas. Keywords: incinerator, small scale, operation, environmental   ABSTRAK Tingkat timbulan sampah Kabupaten Sidoarjo adalah 1.216 ton/hari, dimana sekitar 464 ton dibawa ke TPA Jabon dan 298 ton ditangani di TPST, TPS 3R, dan Bank Sampah. Hal ini berarti masih ada 454 ton sampah yang tidak terkelola dan berpotensi lari ke lingkungan. Masih terbatasnya tingkat pelayanan sampah untuk diangkut ke TPA telah membuat masyarakat berinisiatif mengolah sampahnya dengan insinerator yang ditempatkan di TPST yang ada. Keberadaan insinerator ini mampu mengurangi berat sampah hingga 25% hingga 30% berat sampah yang masuk ke TPST. Melalui penelitian terhadap sepuluh insinerator di TPST, diperoleh kondisi bahwa hampir semua insinerator beroperasi di bawah standar teknis yang dipersyaratkan bagi tercapainya operasi optimum dan minimnya dampak lingkungan. Suhu pembakaran umumnya berada di bawah 800 0C, waktu tinggal gas kurang dari 2 detik dan tidak terjadi turbulensi, sehingga sering terjadi asap yang hitam akibat pembakaran tidak sempurna. Kondisi instalasi pengendalian pencemaran udara seperti cyclone dan scrubber banyak yang tidak berfungsi dan berkarat akibat tidak tahan suhu tinggi dan lingkungan yang asam. Pengelolaan insinerator mengandalkan iuran warga namun umumnya hanya cukup untuk honor pekerja sehingga tidak ada untuk perawatan insinerator. Konflik sosial akibat asap insinerator belum terjadi karena lokasi TPST umumnya masih jauh dari permukiman warga. Kata Kunci:  insinerator, skala kecil, operasi, lingkungan