Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONSTRUKSI GENDER PADA IDENTITAS PEREMPUAN DALAM NOVEL LARUNG KARYA AYU UTAMI Maria Benga Geleuk; Anindya Kusuma Wardani
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol 3, No 2 (2020): JURNAL KREDO VOLUME 3 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.13 KB) | DOI: 10.24176/kredo.v3i2.4462

Abstract

Ayu Utami merupakan pengarang yang seringkali mengangkat kehidupan para perempuan Indonesia dalam karyanya. Para kritikus yang membedah karya-karya Utami menemukan bahwa karyanya berhubungan dengan politik tubuh perempuan, seksualitas, dan kesetaraan gender. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, belum pernah ada yang menyinggung cara perempuan membangun identitas mereka. Identitas merupakan hal penting bagi seorang perempuan dalam menentukan kehidupannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji identitas tiga tokoh perempuan dalam novel Larung karya Ayu Utami. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskritif, yaitu menelusuri proses perubahan dan perbedaan identitas pada ketiga tokoh perempuan. Hasil penelitian menunjukan adanya perubahan identitas perempuan, yakni Yasmin, Cok, dan Shakuntala. Pada awalnya mereka mengalami ketertindasan di masa kanak-kanak. Akan tetapi, saat beranjak dewasa, pemikiran mereka berubah, yakni menjadi lebih kritis terhadap pendidikan dan hubungan seksual. Selain itu, ada perbedaan identitas yang ditunjukan oleh tiga tokoh perempuan. Di mana mereka berani mengidentifikasi identitas mereka di tengah masyarakat patriarki sesuai dengan pilihan mereka.  Temuan yang ada membuktikan bahwa telah terjadi pergeseran di masa pasca Orde Baru mengenai identitas perempuan. Perempuan mulai kritis mempertanyakan kedudukannya di tengah masyarakat. Perempuan juga mulai memiliki kesadaran untuk berani dan bebas dalam menentukan kehidupannya, baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan rumah tangga. 
Ketidakadilan Gender pada Pernikahan dalam “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi” Karya Eka Kurniawan Anindya Kusuma Wardani; Maria Benga Geleuk
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 3 No 3 (2020)
Publisher : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.302 KB) | DOI: 10.30872/diglosia.v3i3.52

Abstract

Marriage is a sacred, religious, and has long-term purposes activity. Marriage is assumed as making a legal relationship between a couple within opposite sex. Rather than being a simple activity, marriage is a complex activity which has various aims that are teaching and taking care children, working together with the couple, and other happiness purposes. However, this picture of marriage seems missing in the work of Eka Kurniawan in the book of Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Through this book, the readers can see the opposite condition of marriage compared to marriage’s stereotypes within the society. It also shows there are gender inequality practices throughout the story. Using Critical Feminism theory and descriptive-qualitative method, this research purpose is to analyze three short stories by Eka Kurniawan entitle (1) Gincu ini Merah, Sayang, (2) Cerita Batu, and (3) Pelajaran Memeliharan Burung Beo, to find how gender inequality depicted and the portrait of marriage which in the short stories. These three short stories show similar problem in a marriage which resulted in divorce. Through the process, this study found two main portraits of marriage in the works of Eka Kurniawan, that are (1) in marriage there are gender inequality practices which makes women suffer in various areas. (2) The relationship between male and female characters shows an unhealthy relationship in which women always suffers. Both result shows that marriage is not always about happiness, but its face has been changed due to unhealthy relationship. In all unhealthy marriage, woman always captures as the victims which legitimizing woman position as a submissive in a relationship even in the modern society.