Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH IDENTIFIKASI KOLEKTIF TERHADAP INGROUP CRITICISM (STUDI PADA KELOMPOK SUPORTER SEPAKBOLA) Cahyaning Widhyastuti; Amarina Ariyanto
Jurnal Ecopsy Vol 5, No 3 (2018): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.837 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v5i3.5490

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji tentang peran identifikasi kolektif terhadap kesediaan memberi kritik pada kelompok dimana kita menjadi anggotanya (ingroup criticism). Kelompok yang menjadi partisipan penelitian ini adalah salah satu kelompok suporter sepakbola dengan kohasivitas kelompok yang tinggi dan termasuk dalam lima kelompok suporter yang memiliki jumlah anggota paling banyak di Indonesia.  Partisipan penelitian ini berjumlah 37 orang laki-laki dengan rentang usia antara 17-42 tahun (M = 23,81, SD = 6,21), yang merupakan anggota kelompok suporter klub bola X. Analisis regresi dilakukan dua kali; pertama regresi antara skor identifikasi kolektif (total)  terhadap ingroup criticismyang dilihat dari jumlah kritik yang dituliskan oleh partisipan. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada pengaruh identifikasi kolektif terhadap ingroup criticism. Analisis regresi setiap aspek identifikasi kolektif terhadap ingroup criticismenunjukkan hasil yang signifikan pada aspek satisfaction,centrality, dan individual self-stereotyping. Sedangkan untuk aspek solidarity dan ingroup homogeneity tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ingroup criticism.
The Influence of Gender Role Attitude on Marriage Attitude in Young Adulthood Cahyaning Widhyastuti; Nida Muthi Annisa; Ade Daniatul Mugfiroh; Balqis Nurul Fazrin
Psychosocia : Journal of Applied Psychology and Social Psychology Vol. 2 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/psychosocia.v2i1.383

Abstract

This research is a quantitative research with regression approach, that aims to determine the impact of gender role attitudes on marriage attitudes among young adults in Indonesia. It involved 113 participants (M = 20.53), and data were collected using a Google Form that included a gender role attitude scale and a marriage attitude scale. Data analysis was conducted through simple linear regression using SPSS Version 25. The results indicate that gender role attitudes significantly influence marriage attitudes. This suggests that a person's view on gender roles can affect their perception and evaluation of marriage.
A Descriptive Study of Parenting Sense of Competence (PSOC) in unmarried early adulthood Pradiptya S. Putri; Cahyaning Widhyastuti; Adinda Destia P. S; Luccyana Stiffany
Psychosocia : Journal of Applied Psychology and Social Psychology Vol. 2 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : Indonesian Scientific Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61978/psychosocia.v2i2.404

Abstract

Age maturity begins when individuals prepare for the wedding and become parents. Unfortunately​ , the existing fatherless phenomenon influences the individual, especially in the belief that they are to parenting. So many choose​ for no own child or tend to consider becoming a parent as things that make it difficult. Research This aims to know the parenting sense of competence (PSOC) picture in early adulthood that has not been married. Research about PSOC has been done, especially in individuals already married, but research on individuals​ unmarried in early adulthood is still tiny. Research is done using a descriptive analysis method. Data was collected through a PSOC questionnaire with 17 statement items. The respondents are individuals unmarried in early adulthood, aged 21-24 years old, who have not married. Research results show an average value of 62.0. with the average value known, as many as 92 out of 162 respondents have a PSOC that is classified as low. It means most respondents still do not believe they can care for later. For that matter, this needs to be improved so as not to impact a parent's early adulthood life moments negatively.
Mengembangkan Warga Negara, Bukan Sekadar Tenaga Kerja: Urgensi Civic Engagement dalam Pendidikan di Era Society 5.0 Khorinah Nur Ajijah; Cahyaning Widhyastuti; Astri Firdasannah
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 32 (2026): Konsepsi 2026: Konferensi Nasional Studi dan Eksplorasi Psikologi
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia menunjukkan kecenderungan semakin kuatnya orientasi pendidikan pada kebutuhan pasar kerja dan industri. Kondisi ini berpotensi menggeser fungsi pendidikan sebagai sarana pembentukan kesadaran sosial dan tanggung jawab kewargaan. Di sisi lain, generasi muda Indonesia menghadapi paradoks berupa meningkatnya akses pendidikan dan teknologi yang tidak selalu diikuti oleh tingginya keterlibatan sosial. Fenomena rendahnya partisipasi pemuda dalam organisasi, ruang pengambilan keputusan, serta munculnya kecenderungan orientasi individual yang tercermin dalam fenomena #KaburAjaDulu menunjukkan pentingnya penguatan civic engagement dalam pendidikan. Esai ini bertujuan menganalisis urgensi civic engagement sebagai orientasi pendidikan di era Society 5.0. Pembahasan dilakukan melalui kajian konseptual mengenai hubungan antara perkembangan teknologi digital, keterhubungan sosial, dan partisipasi kewargaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat memperluas partisipasi sosial apabila dimanfaatkan secara aktif dan kritis, tetapi juga berpotensi menghasilkan keterlibatan semu yang bersifat pasif dan performatif. Oleh karena itu, pendidikan perlu mengintegrasikan civic engagement melalui pembelajaran berbasis proyek, pengalaman sosial langsung, pembelajaran partisipatif, serta penguatan literasi digital yang berorientasi pada empati dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, pendidikan di era Society 5.0 tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik dan profesional, tetapi juga warga negara yang aktif, kritis, dan peduli terhadap kehidupan masyarakat.