Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Self Regulated Learning dan Dukungan Sosial dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa di Masa Pandemi Suroso Suroso; Niken Titi Pratitis; Reni Oktaviana Cahyanti; Farra Lailatus Sa’idah Sa’idah
Keluwih: Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2021): Keluwih: Jurnal Sosial dan Humaniora (April)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/soshum.v2i1.3953

Abstract

Abstract— Student academic procastination is a tendency to procrastinate in completing assignments so that it results in not completing assignments and even hindering his studies in Higher Education One of the causes of internal factors is the lack of strategy and self-regulation or self-regulation, while external factors that are also predicted to cause procastination are social support. This quantitative study was aimed at examining the relationship between self-regulated learning and social support and academic procrastination during the pandemic. Research respondents were 266 students of all majors from various public and private universities whose data were obtained through the google form scale, which was distributed through social media applications. The data analysis technique used is the non-parametric Spearman Brown technique and the parametric Pearson correlation technique. The results of data analysis showed that there was a significant correlation between self-regulated learning and academic procastination (sig.0.029) but there was no significant correlation between social support and academic procastination (sig. 0.903). Keywords: self regulated learning, social support, academic procastination Abstrak— Prokastinasi akademik mahasiswa merupakan kecenderungan perilaku menunda-nunda menyelesaikan tugas hingga berakibat tidak terselesaikannya tugas bahkan terhambat studinya di Perguruan Tinggi. Salah satu faktor internal penyebabnya adalah kurangnya strategi dan pengaturan diri atau regulasi diri (self regulated) sementara faktor eksternal yang juga diprediksi dapat menyebabkan prokastinasi adalah, dukungan sosial. Penelitian kuatitatif iniditujukan untuk menguji hubungan antara self regulated learning dan dukungan sosial dengan prokrastinasi akademik dimasa pandemi. Responden penelitian adalah 266 orang mahasiswa semua jurusan dari berbagai universitas negeri maupun swasta yang datanya diperoleh melalui skala google form, yang disebarkan melalui aplikasi media sosial. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik non parametric spearman brown dan teknik parametric pearson correlation. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara self regulated learning dengan prokastinasi akademik (p= 0,029) tetapi tidak ada korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dengan prokastinasi akademik (p= 0,903). Kata kunci : self regulated learning, dukungan sosial, prokastinasi akademik
EFEKTIFITAS PELATIHAN TEAM BUILDING UNTUK MENINGKATKAN KOHESI SOSIAL KOMUNITAS DEWAN ANAK Laelun Hartati elen; Niken Titi Pratitis
Jurnal Psimawa : Diskursus Ilmu Psikologi dan Pendidikan Vol 9 No 1 (2026): EDISI 15
Publisher : Prodi Psikologi- Fakultas Psikologi & Humaniora - Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/jp.v9i1.7357

Abstract

Dalam beberapa bulan terakhir, komunitas Dewan Anak menunjukkan gejala melemahnya kohesi sosial yang menyebabkan rendahnya interaksi dan partisipasi lintas kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan team building dalam meningkatkan kohesi sosial pada komunitas Dewan Anak yang mengalami penurunan kekompakan dan segmentasi kelompok internal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuasi-eksperimen dengan desain satu kelompok pre-test dan post-test. Pengukuran kohesi sosial dilakukan menggunakan skala adaptasi Group Environment Questionnaire (GEQ). Intervensi diberikan melalui pelatihan team building berbasis experiential learning selama tiga hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor kohesi sosial dari 54,62 pada pre-test menjadi 67,69 pada post-test, yang mengindikasikan bahwa pelatihan team building berpengaruh signifikan terhadap peningkatan rasa memiliki, kepercayaan, partisipasi lintas kelompok, dan kualitas interaksi sosial anggota komunitas.