Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA KOLESTEROL TOTAL, TRIGLISERIDA DAN STATUS VASKULER (ABI) PADA PASIEN KAKI DIABETIK DI RSUD DR.H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG Juspeni Kartika
Jurnal Medika Malahayati Vol 3, No 3 (2016): Volume 3 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.327 KB) | DOI: 10.33024/jmm.v3i3.2022

Abstract

Diabetes melitus merupakan gangguan kronik pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak akibatketidakcukupan sekresi insulin dan resistensi insulin pada jaringan yang dituju. Tujuan penelitian untuk mengetahuihubungan antara kolesterol total, trigliserida dan status vaskuler (ABI) pada pasien kaki diabetik di RSUD DR. H. AbdulMoeloek Bandar Lampung.Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Data diambil denganmemperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan jumlah sampel sebanyak 36 orang, responden dengantrigliserida<150 mg/dl dengan nilai ABI normal (0,9-1,2) sebanyak 3 orang (8,4%), dan responden dengan trigliserida>150mg/dl dengan nilai ABI tidak normal 24 orang (67,2%), sedangkan responden dengan trigliserida ≥150 dengan nilai ABInormal (0,9-1,2) tidak ada (0%), dan responden dengan trigliserida ≥150 dengan nilai ABI tidak normal sebanyak 9 orang(25,2%). Responden dengan kolesterol total <220 mg/dl dengan nilai ABI normal (0,9-1,2) sebanyak 21 orang (58,8%), danresponden dengan kolesterol total <220 mg/dl dengan nilai ABI tidak normal sebanyak 5 orang (14%), sedangkanresponden dengan kolesterol total ≥220 mg/dl dengan nilai ABI normal (0,9-1,2) sebanyak 6 orang (16,8%), dan respondendengan kolesterol total ≥220 mg/dl dengan nilai ABI tidak normal sebanyak 4 orang (11,2%). Analisis statistik menggunakanSPSS 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara status vaskuler (nilai ABI) dengan nilai kolesterol total memilikihubungan yang sangat lemah (r = 0,177), dan korelasi antara status vaskuler (nilai ABI) dengan nilai trigliserida memilikihubungan yang sangat lemah (r = 0,05).
Evaluasi Pengelolaan Obat Antibiotik di Puskesmas dalam Mendukung Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Aisyah Qinthara Nabila Putri; Rasmi Zakiah Oktarlina; Ayu Tiara Fitri; Juspeni Kartika
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i1.9537

Abstract

Antimicrobial resistance (AMR) represents a serious global health threat caused by the irrational use of antibiotics. In Indonesia, this issue has become more complex due to the high rate of antibiotic purchases without prescriptions and weak distribution control. This study aims to evaluate the effectiveness of antibiotic management in community health facilities, particularly Puskesmas, and to identify factors influencing antibiotic use practices in support of the national antimicrobial resistance control program. A qualitative method with a literature study approach was used, reviewing national and international scientific sources, including WHO reports, the Indonesian Ministry of Health, and the National Action Plan for Antimicrobial Resistance Control (RAN-PRA) 2020–2024. The findings show that approximately 41% of antibiotics are still obtained without prescriptions, and 70.75% of pharmacies in Indonesia continue to sell antibiotics freely. Both public and healthcare workers’ awareness of AMR remains low, as antibiotics are often misused for viral infections. Although national policies such as RAN-PRA adopt a One Health approach, their implementation still faces challenges, including limited resources, weak monitoring, and regional disparities. Puskesmas plays a strategic role in education, supervision, and reporting on antibiotic use but requires capacity strengthening and intersectoral collaboration. This study concludes that AMR control demands synergy among government, medical professionals, academics, and the public through enhanced education, stricter antibiotic distribution control, and evidence-based policymaking. Continuous efforts are essential to preserve antibiotic effectiveness and strengthen Indonesia’s national health resilience against global antimicrobial resistance threats.