Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBEDAAN HAKIKI ALAT BUKTI DENGAN BARANG BUKTI Monang Siahaan
Jurnal Surya Kencana Dua : Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Surya Kencana Dua: Dinamika Masalah Hukum & Keadilan
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.431 KB) | DOI: 10.32493/SKD.v3i2.y2017.511

Abstract

In the general community, including members of Parliament and leaders other laws do not understand the difference of evidence and evidence, so to put something in order to group them as evidence based only on estimates or the unexpected, such as in Article 184 Criminal Procedure Code to enter user as evidence, so The concept also Prof.Dr.Indroharto enter the evidence and the judge's conviction as evidence. After knowing the difference of evidence with evidence will be able to determine what can be grouped as evidence. To determine the evidence is very important to know because the system proving that embrace the Indonesian criminal law is Wettelijk Negatief Stelsel ie at least two items of evidence and the judge assured.Keywords: Difference of evidence with evidence.
PREVALENSI KASUS-KASUS RUDAPAKSA TUMPUL PADA KORBAN HIDUP PADA TAHUN 2021 DAN 2022 DI RS. BHAYANGKARA ANTON SOEDJARWO PONTIANAK muhammad ridho; Monang Siahaan; Muhammad Ibnu Kahtan
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2026.7.1.19485

Abstract

Rudapaksa menggunakan benda tumpul adalah kasus yang paling umum, baik pada korban hidup maupun mati. Di Indonesia, tercatat 269.324 dugaan tindakan kriminal pada tahun 2019, menurun menjadi 247.218 di tahun 2020. Di Kalimantan Barat, terdapat 1.375 kasus dugaan tindak kriminal pada tahun 2021. Mengatahui prevalensi kasus-kasus rudapaksa tumpul pada korban yang masih hidup di RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak pada tahun 2021 dan 2022. Desain penelitian deskriptif dengan metode cross bagian. Pengambilan sampel dilakukan di unit forensik Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak pada tahun 2021 dan tahun 2022 dengan populasi dan sampel penelitian adalah korban rudapaksa sakit. Tercatat pada kasus rudapaksa tumpul, terdapat 481 kasus (81,94%) pada tahun 2021 dan 588 kasus (81,21%) pada tahun 2022. Jenis kasus yang paling dominan adalah kekerasan fisik, dengan 386 kasus (75,69%) pada tahun 2021 dan 516 kasus (81,13%) pada tahun 2022. Luka memar merupakan jenis luka yang paling banyak, yakni 294 kasus (44,68%) pada tahun 2021 dan 354 kasus (44,58%) pada tahun 2022. Kelompok usia yang paling sering menjadi sasaran adalah 20-25 tahun pada tahun 2021 dan 15-20 tahun pada tahun 2022, dengan perempuan sebagai golongan yang paling banyak menjadi korban. Terdapat peningkatan kasus rudapaksa pada tahun 2021 dan 2022, meskipun tidak signifikan.