B. WIWEKO
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Evaluasi pasca Radiofrequency Thermal Ablation pada Mioma Uteri dan Adenomiosis F. DINATA; B. WIWEKO; A. HESTIANTORO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 2, April 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.743 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui manfaat miolisis dengan radiofrequency thermal ablation terhadap mioma uteri dan adenomiosis. Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat deskriptif. Bahan dan cara kerja: Delapan orang pasien yang menderita mioma uteri dan atau adenomiosis bergejala menjalani miolisis dengan radiofrequency thermal ablation baik transvaginal maupun per laparoskopik. Satu bulan pascaoperasi, pasien dievaluasi kembali ukuran massa dengan ultrasonografi dan perubahan gejala yang berkaitan dengan kedua patologi uterus tersebut. Hasil: Dari pasien yang diteliti, 5 pasien (62,5%) menderita adenomiosis, dan 3 pasien (37,5%) menderita mioma uteri. Rata-rata diameter dan volume massa paling besar per pasien berturut-turut adalah 4,6 cm (1,4 - 9,0) dan 694,3 cm3 (11,5 - 3061,8). Tujuh pasien (87,5%) mengeluh dismenorea, dan hanya 1 pasien mengeluh menorragia. Tiga pasien (37,5%) menjalani miolisis laparoskopik. Tidak terdapat komplikasi intraoperatif atau pascaoperatif. Rata-rata reduksi volume massa pada follow-up 1 bulan adalah 67,5%; reduksi mioma uteri mencapai 81,5%; sedangkan adenomiosis 59,1%. Pada follow-up tersebut, semua pasien menyatakan keluhan dismenorea atau menorragia menghilang. Kesimpulan: Pada penelitian pendahuluan ini, miolisis dengan radiofrequency thermal ablation telah berhasil mengurangi volume mioma uteri dan adenomiosis serta menghilangkan gejalanya. Diperlukan follow-up serial dan penelitian tambahan untuk menilai efikasi dan keamanan teknik ini. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 79-85] Kata kunci: mioma uteri, adenomiosis, miolisis, radiofrequency
Profil Resistensi Insulin pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta B. WIWEKO; R. MULYA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 2, April 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.017 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi dan profil resistensi insulin pada pasien sindrom ovarium polikistik (SOPK) di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Tempat: Poliklinik Imunoendokrinologi Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas Indonesia, RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Rancangan/rumusan data: Studi Potong Lintang Deskriptif. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan rekam medis pasien SOPK yang telah dilakukan pemeriksaan meliputi anamnesis adanya oligomenore, pemeriksaan fisik (tanda hirsutisme), pengukuran indeks massa tubuh (IMT), pemeriksaan hormonal (estrogen, LH, FSH dan prolaktin), pemeriksaan gula darah puasa dan insulin puasa serta pemeriksaan USG transvaginal untuk menilai kedua ovarium. Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan kriteria Rotterdam sedangkan resistensi insulin berdasarkan kriteria Muharam. Hasil: Dari 44 rekam medis pasien SOPK yang berhasil dikumpulkan dan memenuhi kriteria penelitian, didapatkan 68% pasien sudah menikah dan 93% pasien berusia di atas 20 tahun. Amenore sekunder merupakan jenis gangguan haid terbanyak yang menyebabkan pasien mencari pertolongan, ditemukan pada 61% pasien. Infertilitas juga merupakan keluhan terbanyak, ditemukan dengan persentase yang sama dengan amenore sekunder yaitu 61%. Pada penelitian ini, pasien SOPK yang telah menikah datang dengan keluhan infertilitas yang disertai gangguan haid atau sebaliknya sehingga bila persentasenya dijumlahkan akan melebihi 100%. Keluhan hirsutisme hanya ditemukan pada 18% pasien. Tujuh puluh tiga persen pasien SOPK gemuk dengan IMT ≥ 25. Pasien yang mengalami resistensi insulin sebanyak 75% dengan ratarata IMT 28,6 kg/m2. Dari 32 orang pasien yang obesitas, 84% mengalami resistensi insulin sedangkan dari 12 pasien yang tidak gemuk, 50% juga mengalami resistensi insulin. Pemeriksaan hormonal yang lengkap (estrogen, FSH, LH dan prolaktin) dilakukan pada 38 orang pasien dan 79% terdapat peningkatan LH/FSH dengan rasio ≥ 1. Pada 27 orang yang mengalami resistensi insulin, 81,5% terdapat rasio LH/FSH yang lebih tinggi, demikian juga halnya dengan 11 orang yang tidak mengalami resistensi insulin, 90,9% terjadi penigkatan rasio LH/FSH. Kesimpulan: SOPK adalah kondisi klinis dan metabolik yang sering ditemui pada perempuan usia reproduksi. Patofisiologi terjadinya SOPK sampai saat ini belum jelas tapi resistensi insulin diperkirakan sebagai salah satu etiologinya. Prevalensi resistensi insulin ditemukan bervariasi dari berbagai penelitian tergantung metoda yang digunakan. Dengan menggunakan kriteria Muharam, 75% pasien SOPK pada penelitian ini mengalami resistensi insulin dan dari 32 orang pasien yang obesitas ditemukan 84% mengalami resistensi insulin sedangkan pasien yang tidak gemuk, 50% juga terdapat resistensi insulin. Penanganan terhadap resistensi insulin pada pasien SOPK tampaknya akan mencegah dan memperbaiki disfungsi reproduksi maupun komplikasi jangka panjang yang akan ditimbulkannya. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 93-8] Kata kunci: resistensi insulin, sindrom ovarium polikistik
Kadar progesteron hari hCG sebagai prediktor reseptivitas endometrium B. WIWEKO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Menilai korelasi antara kadar progesteron pada hari penyuntikan hCG dengan reseptivitas endometrium pada hari transfer embrio (TE). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan desain cross sectional. Dilakukan pengukuran kadar progesteron hari hCG pada 55 pasien yang mengikuti program FIV di Klinik Yasmin RSCM perio-de Januari - November 2008. Nilai referensi reseptivitas endometrium adalah kombinasi antara nilai indeks pulsasi arteri uterina < 3 dan morfologi endometrium klasifikasi C (Gonan dan Casper). Analisis multivariat dilakukan terhadap progesteron sebagai variabel utama dan usia, kadar estradiol, LH serta reseptivitas endometrium hari hCG sebagai variabel perancu. Hasil: Kejadian luteinisasi prematur pada penelitian ini sebesar 45,5% dengan klasifikasi endometrium reseptif sebesar 33,3% (dibandingkan dengan 35,5% pada kelompok non luteinisasi prematur). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar progesteron hari hCG dengan reseptivitas endometrium hari TE (p=0,446). Reseptivitas endometrium hari hCG memiliki nilai area under the curve (AUC) terbesar (0,82; p = 0,001) untuk meramalkan reseptivitas endometrium hari TE dibandingkan dengan usia (AUC 0.67; p = 0,038) dan kadar progesteron (AUC 0,56; p = 0,446). Analisis multivariat mendapatkan variabel reseptivitas endometrium hari hCG dan interaksi antara variabel usia de-ngan kadar progesteron hari hCG sebagai prediktor reseptivitas endo-metrium hari TE (nilai AUC 0,82). Terdapat korelasi positif antara AUC kadar estradiol hari hCG terhadap kejadian luteinisasi prematur (AUC = 0,74). Kesimpulan: Kadar progesteron hari hCG tidak dapat digunakan sebagai prediktor tunggal untuk meramalkan reseptivitas endometrium hari TE. Reseptivitas endometrium hari hCG dan interaksi antara usia dengan kadar progesteron hari hCG merupakan model prediktor yang baik terhadap reseptivitas endometrium hari TE. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 118-23] Kata kunci: kadar progesteron hari hCG, reseptivitas endometrium hari hCG, reseptivitas endometrium hari TE, usia