Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RELEVANSI ISLAM, BUDAYA, DAN KEARIFAN LOKAL MANGANAN LAUT PADA MASYARAKAT PALANG TUBAN TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL Jamal Ghofir; Siswoyo
Tadris : Jurnal Penelitian dan Pemikiran Pendidikan Islam Vol 15 No 2 (2021): Tadris : Jurnal Penelitian dan Pemikiran Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi PAI, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51675/jt.v15i2.179

Abstract

Kehadiran Islam sebagai agama yang hadir di Bumi Nusantara menjadi perbincangan khususnya para cendekiawan. Sebagai agama baru setelah Hindu-Budha. Ia mampu menarik simpati masyarakat Nusantara untuk masuk dan mengikutinya. Keluwesan Islam dalam konteks budaya, tradisi dan kearifan lokal menjadi pertimbangan tersendiri bagi masyarakat. Islam dengan kultur budaya mampu masuk ke urat nadi bahkan jantung tradisi masyarakat Nusantara. Dengan kemajemukan masyarakat baik dari segi tradisi, budaya, etnis, bahasa, dan agama. Mampu dipertemukan dengan mengedepankan nilai-nilai tasamuh dalam keragaman. Relasi antara agama dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Islam yang sudah tersitem rapi pada masa rasulullah Saw di Kota Madinah menjadi pijakan kita untuk meneladinya. Sendi-sendi keragaman yang hadir pada masyarakat yang beraneka ragam agama, suku, ras, dan budaya dapat dipersatukan dalam sebuah ikatan kebersamaan yang kuat. Islam sebagai agama minoritas mampu menjadi ujung tombak terciptanya kedamaian dan keharmonisan anak bangsa. Tauladan tersebut dapat diterapkan di Bumi Nusantara yang secara kultur dan budaya sangat berbeda. Kemajemukan yang ada terkadang menjadi pemantik pertikaian antar anak bangsa. Keberadaan Islam yang mengedepankan nilai-nilai tradisi dan budaya menjadi benteng kekuatan kultur Nusantara. Kenapa demikian? Dapat dibuktikan sampai detik ini keberadaan Islam sebagai sebuah agama yang mayoritas menjadi payung keharmonisan bagi yang minoritas. Multikulturalisme yang hadir menjadi pengikat antar anak bangsa untuk saling bergandengan tangan dalam membangun dan mengembangan tradisi dan kebudayaan.
PENGARUH REWARD INTRINSIK DAN EKTRINSIK TERHADAP KINERJA GURU MELALUI KOMITMEN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN MA’ARIF NU TUBAN Siswoyo Siswoyo
Jurnal Ilmu Manajemen (JIMMU) Vol 3, No 1 (2018): MARET
Publisher : MAGISTER MANAJEMEN UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jimmu.v3i1.10139

Abstract

            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penghargaan intrinsik dan ekstrinsik terhadap guru yang bekerja melalui komitmen organisasi, populasi penelitian adalah seluruh guru dan karyawan ketiga sekolah yaitu MTs Maarif 19 orang; SMA Muallimin 17 orang, dan SMK YPM 12 Tuban 53 orang, jadi total populasi 89 orang. Seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian (sensus). Data penelitian dianalisis menggunakan analisis bagian dengan program SPSS 17 versi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah; (1) Imbalan intrinsik mempengaruhi komitmen organisasi; (2) Imbalan ekstrinsik mempengaruhi komitmen Organisasi; (3) Imbalan intrinsik mempengaruhi kinerja guru; (4) Imbalan ekstrinsik mempengaruhi kerja guru; (5) Komitmen organisasi mempengaruhi kinerja guru.Kata Kunci:  Imbalan Intrinsik dan Ekstrinsik, Komitmen dan Kerja             The aim of the research is for analyzing the influence of Intrinsic and extrinsic reward to the teachers working through the organization commitment, the population of the research were all teachers and staffs of the three school, they were MTs Maarif 19 people; SMA Muallimin 17 people, and SMK YPM 12 Tuban 53 people, so the total of population 89 people. All the population member was taken into the research sample (sensus). The data of the research was analyzed using a part analysis with SPSS 17 program version. The conclusion of the research are; (1) Intrinsic reward influenced the commitment of the organization; (2) Extrinsic reward influenced the commitment of the Organization; (3) Intrinsic reward influenced the teachers’ working; (4) Extrinsic reward influenced the teacher’ working; (5) the commitment of the organization influenced the teacher’ working.Keywords:  Intrinsict and Extrinsict rewards, Commitment and Working 
ANALISIS KOMPARASI MODEL PELAYANAN ASKES DAN BPJS DI PUSKESMAS KOTA BATU Siswoyo Siswoyo; Mita Diyanti
Jurnal Ilmu Manajemen (JIMMU) Vol 7, No 1 (2022): MARET
Publisher : MAGISTER MANAJEMEN UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jimmu.v7i1.14811

Abstract

             Perbedaan model pelayanan Askes setelah berlakunya Undang - undang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) no 24 tahun 2011, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Khusus untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari 2014. Secara operasional, pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan Pemerintah No.101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI); Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan dan Peta Jalan JKN (Roadmap Jaminan Kesehatan Nasional). Jenis penelitian normatif dan menggunakan pendekatan konseptual, analisis yang digunakan adalah Structural Equation Modeling (SEM). Metode ini dipilih karena SEM dapat menjelaskan hubungan antar variabel teramati (observed variables) dengan varibel-variabel laten melalui indikator indikatornya. Sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut: Peserta Askes lebih mudah untuk mendapatkan pelayanan ditingkat pertama maupun di tingkat lanjutan. Pada dasarnya pelayanan BPJS berjenjang dari tingkat pertama (Puskesmas, klinik, praktek dokter keluarga, RS kelas D pratama) setelah dari tingkat pertama tidak teratasi baru di rujuk ke tingkat lanjutan (rumah sakit/dr. spesialis), kecuali dalam kondisi darurat peserta BPJS bisa langsung datang ke Rumah sakit. Untuk saran sebagaimana pelayanan Askes selama ini sudah cukup baik mengingat sekarang Askes sudah berubah menjadi BPJS maka pelayanan yang selama ini diterima peserta Askes untuk tetap sesuai prosedur yang selama ini ada bisa di pertahankan.Kata Kunci:  Perbedaan, Pelayanan, Kepuasan            The difference in the Askes service model after the enactment of the BPJS Law (Social Security Administering Body) no. 24 of 2011, which consists of BPJS Health and BPJS Employment. Especially for the National Health Insurance (JKN) will be held by BPJS Health whose implementation will begin on January 1 2014. Operationally, the implementation of JKN is set out in Government Regulations and Presidential Regulations, including: Government Regulation No. 101 of 2012 concerning Contribution Assistance Recipients (PBI) ; Presidential Regulation No. 12 of 2013 concerning Health Insurance and the JKN Roadmap (National Health Insurance Roadmap). This type of research is normative and uses a conceptual approach, the analysis used is Structural Equation Modeling (SEM). This method was chosen because SEM can explain the relationship between observed variables and latent variables through its indicators. So it can be concluded as follows: Askes participants are easier to get services at the first level or at the advanced level. Basically, BPJS services are tiered from the first level (Puskesmas, clinics, family doctor practices, class D pratama hospitals) after the first level is not resolved, then they are referred to the advanced level (hospital / dr. specialist), except in an emergency situation BPJS participants can come straight to the hospital. For suggestions, such as the Askes service so far, it has been quite good considering that now Askes has changed to BPJS, the services that have been received by Askes participants to continue according to the existing procedures can be maintained.Keywords: Difference, Service, Satisfaction