Dewi Marbawati
Balai Litbang P2B2 Banjarnegara, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

BAKTERI LEPTOSPIRA PATOC I MERUPAKAN STRAIN BAKTERI DALAM KELOMPOK NON PATOGEN YANG SERING DITEMUKAN PADA PENDERITA LEPTOSPIROSIS Bina Ikawati; Dewi Marbawati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.783 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1306

Abstract

Leptospirosis is one of zoonotic disease that needs serious attention from health practiciant and health programmer. This disease includes in the emerging infectious disease. Reseach from Loka Litbang P2B2 Banjarnegara in 2008 showed Leptospira of strain Patoc I (one of strain that include in non patogenic bacteria) found in 60,4% of 63 human blood sample that positive for Leptospira which Microscopic Aglutination Test (MAT). Literature studies on Leptospira bacteria strain Patoc I thus done about to know the reason why strain Patoc I usually found in Leptospirosis case, and wheter positive Patoc I in human spesimen indicates someone suffering from leptospirosis. Result showed Leptospira Sp strain Patoc I (Ames) or Patoc I (Paris) or Patoc I ATCC 23582 include in serovar Patoc, serogroup Semaranga, Genomospecies Leptospira biflexa, Genera Leptospira, family Leptospiraceae, ordo Spirochaetales, class Spirochaetes, Phylum Spirochaetes, Super Kingdom Bacteria. Patoc I usually showed cross reaction with many leptospira patogenic bacteria. Therefore Patoc I used as common indicator of Leptospirosis. Positive with Patoc I mostly indicates leptospirosis sufferer but probably from strain that not available in "batteray antigen test MAT" inlaboratory diagnosis. Research in laboratorium showed there was possibility of Patoc I genetic mutation.
PEMERIKSAAN LEPTOSPIROSIS SECARA LABORATORIS (HASIL PELATIHAN DI BALAI PENELITIAN VETEREINER BOGOR) Dewi Marbawati; Hari Ismanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 1 Juni 2010
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.891 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i1.1307

Abstract

Pelatihan pemeriksaan leptospirosis dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan laboratoriurn bakteriologi yang ada di Loka litbang P2B2 Banjarnegara agar memiliki kemampuan melakukan pemeriksaan Leptospirosis. Beberapa materi yang diberikan dalam pelatihan ini diantaranya teori umum Leptospirosis dan pemeriksaan Leptospirosis secara laboratoris dengan metode MAT (Microscopic Aglutination Test). Pelatihan ini dilaksanakan mengingat bidang penelitian di Loka Litbang P2B2 Banjarnegara yang lebih fokus ke bidang penyakit bersumber rodensia, bahkan 3 tahun terakhir ini telah melakukan penelitian mengenai Leptospirosis.
TEKNIK ISOLASI - IDENTIFIKASI Yersinia pestis SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT PES (HASIL PELATIHAN DI BALAI BESAR VETERINER BOGOR) Dewi Marbawati; Hari Ismanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.032 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1319

Abstract

Teknik isolasi dan identifikasi Y. pestis mempunyai prinsip- prinsip umum pertumbuhan yaitu terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap pengkayaan, seleksi pada media agar dan uji biokimia. Tahap pengkayaan dilakukan dengan cara menimbang sebanyak 10-25 gram spesimen kemudian dimasukkan dalam blender atau plastik steril dan ditambah 90-225 ml media pengkayaan (dapat menggunakan Buffered Peptone Water (BPW), Brain Heart Infusion (BHI) atau menggunakan Nutrient Broth). Setelah itu dibuat suspensi spesimen 10%, kemudian dilakukan homogenisasi selama ± 2 menit dan diinkubasikan pada suhu 37 derajat Celcius selama 24 jam.
Hymenolepis sp, Cacing Pita Parasit Pada Tikus dan Manusia Dewi Marbawati
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 6 Nomor 2 Des (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.433 KB) | DOI: 10.22435/blb.v6i2.1322

Abstract

Endoparasit pada tikus banyak macamnya. Hymenolepiphydae merupakan genus cacing pita yang biasa terdapat pada tikus. Cacing Pita (Cestoda) pada umumnya memiliki ciri tubuh terdiri dari rangkaian segmen-segmen yang masing-masing disebut proglotid. Kepala disebut skoleks dan memiliki alat isap (sucker) dan ada yang memiliki kait (rostellum) terbuat dari kitin. Pembentukan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut strobilasi.
IDENTIFIKASI TIKUS (HASIL PELATIHAN DI LABORATORIUM MAMALIA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA, JAKARTA) Dewi Marbawati; Hari Ismanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 7 Nomor 2 Desember 2011
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.467 KB) | DOI: 10.22435/blb.v7i2.1332

Abstract

Pelatihan identifikasi tikus dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di Instalasi Rodentologi Loka litbang P2B2 Banjarnegara, Jawa Tengah, dengan tujuan supaya peserta dapat melakukan identifikasi tikus secara baik dan benar. Pelatihan dilaksanakan selama 4 hari dari tanggal 23 – 27 Agustus 2010, di Laboratorium Mamalia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bertempat di Cibinong Bogor. Pelatihan dipandu oleh Ir. Maharadatun Kamsi, M.Sc, dan Drs. A. Suyanto, M.Sc dibantu oleh beberapa orang stafnya. Beberapa materi yang diberikan dalam pelatihan ini diantaranya mengenai taksonomi, habitat dan perilaku, teknik dasar identifikasi serta pengawetan tikus.
PENGAWETAN TIKUS (HASIL PELATIHAN DI LABORATORIUM MAMALIA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA, JAKARTA) Dewi Marbawati; Hari Ismanto
BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA Volume 7 Nomor 2 Desember 2011
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara Badan Litbangkes Kemenkes RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.471 KB) | DOI: 10.22435/blb.v7i2.1333

Abstract

Pada artikel sebelumnya dimuat mengenai hasil pelatihan identifikasi tikus yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan SDM Instalasi Rodentologi Loka litbang P2B2 Banjarnegara tanggal 23 – 27 Agustus 2010, di Laboratorium Mamalia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bertempat di Cibinong Bogor. Beberapa materi yang diberikan dalam pelatihan ini diantaranya mengenai taksonomi rodentia (tikus), habitat dan perilaku tikus, teknik dasar identifikasi serta pengawetan tikus. Pada terbitan kali ini dituliskan materi mengenai pengawetan tikus.