Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EFEKTIVITAS VENTILASI RUMAH LINGKUNGAN PADAT DI PERUMNAS DEPOK TIMUR Dian Nugraha
Lakar: Jurnal Arsitektur Vol 1, No 1 (2018): Lakar: Jurnal Arsitektur
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.014 KB) | DOI: 10.30998/lja.v1i1.3206

Abstract

Di iklim tropis lembab, pada umumnya bangunan-bangunan didesain dengan sistem penghawaan alami yang memaksimalkan kecepatan angin untuk dapat mendinginkan struktur bangunan ataupun pencapaian kenyamanan fisiologis. Konsep desain dengan sistem penghawaan alami yang memaksimalkan kecepatan angin, selain memperhatikan pergerakan aliran angin, juga melihat pengaruh lingkungan dan bangunan sekitar terhadap aliran angin tersebut. Kenyamanan termal dipengaruhi oleh lingkungan fisik, antara lain temperatur udara, kelembaban relatif, kecepatan angin, dan dipengaruhi oleh lingkungan non fisik, antara lain jenis kelamin, umur, pakaian yang digunakan dan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Dengan padatnya bangunan dan bentuk hunian yang hanya mempunyai satu fasade, maka perlu siasat untuk dapat memanfaatkan kondisi iklim dan bentuk atap pada bangunan rumah tinggal. Penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisa kinerja penghawaan alami dengan ventilasi atap bangunan rumah sederhana pada lingkungan dengan kepadatan tinggi. Perlu strategi dalam perencanaan desain perumahan yang berkepadatan tinggi dalam mensiasati ventilasi alami untuk kenyamanan thermal dalam bangunan. Penelitian ini juga untuk menganalisa letak elemen ventilasi atap yang optimal dan mempunyai kontribusi dalam menciptakan dan mempengaruhi kenyamanan fisiologis penghuni.
ANALISIS KENYAMANAN VISUAL PADA RUANG STUDIO ARSITEKTUR GEDUNG 3 UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI Muhammad Sega Sufia Purnama; Mukhamad Risa Diki Pratama; Dian Nugraha
Lakar: Jurnal Arsitektur Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.579 KB) | DOI: 10.30998/lja.v5i1.12290

Abstract

Pencahayaan pada siang hari yang disebabkan oleh sinar matahari dapat di kontrol dengan penataan ventilasi yang tepat. Pencahayaan dapat mempengaruhi tingakat kecerahan pada suatu objek,  penataan ventilasi menjadi solusi dalam kecerahan pada ruangan. Penataan ventilasi dapat beberapa macam sesuai kebutuhan. Kajian ini dapat dijadikan acuan dalam memperbaiki desain interior studio yang sudah ada dan bisa menjadi sebuah pengetahuan untuk mahasiswa dalam memahami tentang pentingnya pencahayaan dalam sebuah desain. Tujaan penelitian ini untuk mengetahui intensitas di ruang studio sudah sesuai dengan standar SNI, juga untuk melihat persebarannya di dalam ruang studio dan pada akhirnya bisa memberikan masukan alternatif desain yang lebih baik. Metode penilitian ini di lakukan dengan pengamatan pada siang hari dengan software Dialux Evo 10. Hasil penelitian menunjukan bahwa terlihat nilai intensitas cahaya paling banyak ada di dekat jendela. Nilai lux mampu mencapai 1000 lux. Perlahan menjauh dari jendela, nilai intensitas menurun hingga paling dekat pintu adalah 400 lux, di bawah pas jendela insensitas rendah dan kolom sedikit mempengaruhi.
Pola Pemanfaatan Permainan di Scientia Square Park Serpong Kasus : zona adventure playground dian nugraha
Faktor Exacta Vol 11, No 2 (2018)
Publisher : LPPM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.376 KB) | DOI: 10.30998/faktorexacta.v11i2.2429

Abstract

Usia anak merupakan usia keemasan karena anak dalam proses pengembangan baik pengembangan dalam fisik, intelektual, sosial maupun emosional. Taman Bermain merupakan salah satu sarana dalam membantu proses pengembangannya,karena didalam taman bermain anak dapat melakukan aktivitas fisik,intelektual maupun social dan emosional.  Dalam taman bermain terdapat beberapa permainan, dimana permainan ini mempunyai karakter yang berbeda sehingga anak-anak dapat memilih jenis permainan yang disukai.  Dari jenis-jenis permainan yang . terdiri dari 4 jenis permainan yaitu lacer, home shesaw, double rock trail, slowly & twisa..ada, ada beberapa yang disukai oleh anak ini  dapat  terlihat dari pemanfaatan permainan yang sering digunakanMelalui Peta Perilaku anak dalam pola pemanfaatan arena bermain merupakan metode yang digunakan dalam penelitian ini, peta perilaku digunakan untuk mengetahui secara natural perilaku apa saja dalam arena bermain yang timbul pada saat bermain. Suasana bermain yang aktif pada anak khususnya di Taman Bermain Scientia Park di Serpong . Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui Pola permainan apa saja yang banyak dimanfaatkan oleh anak-anak.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan melalui peta perilaku anak dalam menggunakan permainan, dari pengamatan ini diharapkan didapat hasil yang senatural mungkin tentang perilaku yang berhubungan langsung permainan yang digunakan. Dalam penelitian ini diharapkan menghasilkan masukan dalam penggadaan pola permainan yang disukai oleh anak.
Desain Musala di Desa Sukaharja, Sukamakmur, Bogor Dian Nugraha; Muhammad Sega Sufia Purnama; Mukhamad Risa Diki Pratama
Jurnal PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol 6, No 2 (2023): Jurnal PkM: Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jurnalpkm.v6i2.16542

Abstract

terencana dan banyak hal lain membuat tempat tersebut kurang terawat. Musala di Desa Sukaharja adalah desa yang terletak di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Berjarak lebih dari 60 km dari pusat kota Bogor. Kondisi Musala sudah tidak layak digunakan lagi. Hal ini tentu membuat peribadahan yang dilakukan akan mengurangi kekhusyuan. Melihat kondisi tersebut mitra memiliki keinginan untuk memugar bangunan musala tersebut akan tetapi tidak mempuyai tenaga ahli dalam perencanaan bangunan yang baik sehingga kami memberanikan diri melakukan diskusi dengan Kepala Desa untuk melakukan desain ulang terhadap musala. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dimulai dengan melakukan survei lokasi secara langsung. Kedua adalah  diskusi bersama mitra. Ketiga mendesain dibantu oleh mitra. Perspektif yang ingin diubah oleh tim adalah tempat beribadah yang estetis, menarik dan representatif dibutuhkan untuk membuat masyarakat tertarik untuk datang. Desain musala ini mencoba memberikan pemahaman kepada penggunanya bahwa sebuah bangunan yang terlihat baik dan indah haruslah berfungsi optimal dalam memberikan kenyamanan dan keamanan penggunanya. Jadi, keindahan itu bisa mencul dengan sendirinya saat elemen desain tersebut bisa berfungsi melindungi penggunanya. Hasil dari pengabdian masyarakat ini adalah adanya tindak lanjut pembangunan musala tersebut agar dapat segera digunakan 
Hubungan Antara Iluminasi Cahaya Alami dan Perolehan Panas Internal pada Model Ruang Tropis Dian Nugraha; Mukhamad Risa Diki Pratama; Muhammad Sega Sufia purnama
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4690

Abstract

Abstract: Passive cooling is a critical strategy for reducing energy consumption in buildings located in hot–humid tropical climates, where cooling demand is strongly influenced by both solar heat gains and internal loads from artificial lighting. While daylight-oriented façade design is widely studied for visual comfort, its contribution to reducing lighting-related internal heat gains remains insufficiently explored. This study investigates the relationship between daylight illuminance and internal heat gains from artificial lighting through a simulation-based assessment of a representative tropical room model. Using DIALux, a single office-like space (4 m × 5 m) was simulated under 24 façade configurations derived from variations in window-to-wall ratio (20%, 40%, and 60%), façade orientation (north, south, east, and west), and shading condition (shaded and unshaded). Daylight simulations were conducted on 21 March and 21 June between 08:00 and 16:00. Illuminance results were compared against a 500 lux task-plane threshold to determine the number of lamps required, which was then used as an indicator of lighting energy use and associated internal heat gains. The results show that small openings (20% WWR) consistently require the highest artificial lighting across all orientations. Larger openings do not automatically guarantee daylight sufficiency, particularly for east- and west-facing façades after midday. Shading was found to reduce excessive solar exposure but, in some cases, increased lighting demand due to uneven daylight distribution. Overall, north- and south-facing façades demonstrated superior performance. The study concludes that integrating daylight illuminance analysis with lighting-related heat gain assessment provides a practical framework for linking visual performance and passive cooling strategies in tropical architecture. Keyword: daylight illuminance, internal heat gain, shading device, tropical climate Abstrak: Pendinginan pasif merupakan strategi penting untuk mengurangi konsumsi energi pada bangunan yang berlokasi di iklim tropis panas-lembap, di mana kebutuhan pendinginan sangat dipengaruhi oleh perolehan panas matahari dan beban internal dari pencahayaan buatan. Sementara desain fasad berorientasi pencahayaan alami telah banyak dikaji dalam konteks kenyamanan visual, kontribusinya terhadap pengurangan beban panas internal yang berasal dari pencahayaan buatan masih belum cukup dieksplorasi. Penelitian ini menyelidiki hubungan antara iluminansi pencahayaan alami dan beban panas internal dari pencahayaan buatan melalui penilaian berbasis simulasi terhadap model ruang tropis yang representatif. Dengan menggunakan DIALux, satu ruang tipe kantor (4 m × 5 m) disimulasikan di bawah 24 konfigurasi fasad yang berasal dari variasi rasio jendela terhadap dinding (20%, 40%, dan 60%), orientasi fasad (utara, selatan, timur, dan barat), serta kondisi peneduhan (dengan peneduhan dan tanpa peneduhan). Simulasi pencahayaan alami dilakukan pada tanggal 21 Maret dan 21 Juni antara pukul 08.00 hingga 16.00. Hasil iluminansi dibandingkan dengan ambang batas bidang kerja sebesar 500 lux untuk menentukan jumlah lampu yang dibutuhkan, yang kemudian digunakan sebagai indikator penggunaan energi pencahayaan dan beban panas internal yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bukaan kecil (WWR 20%) secara konsisten memerlukan pencahayaan buatan paling tinggi di semua orientasi. Bukaan yang lebih besar tidak secara otomatis menjamin kecukupan pencahayaan alami, khususnya pada fasad yang menghadap timur dan barat setelah tengah hari. Peneduhan ditemukan mampu mengurangi paparan radiasi matahari berlebih, namun dalam beberapa kasus justru meningkatkan kebutuhan pencahayaan akibat distribusi cahaya alami yang tidak merata. Secara keseluruhan, fasad yang menghadap utara dan selatan menunjukkan kinerja yang lebih unggul. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi analisis iluminansi pencahayaan alami dengan penilaian beban panas dari pencahayaan memberikan kerangka kerja praktis untuk menghubungkan kinerja visual dan strategi pendinginan pasif dalam arsitektur tropis. Kata Kunci: iluminansi pencahayaan alami, beban panas internal, perangkat peneduh, iklim tropis