Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Panggung Poskolonial Indonesia dalam Narasi "Memoar Tanah Rucuk" Timoteus Anggawan Kusno
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3382.239 KB) | DOI: 10.24071/ret.v4i2.421

Abstract

Rezim otoritarian Orde Baru menggunakan “sejarah” sebagai perangkat ideologis yang memiliki peran kunci dalam membangun ingatan bersama. Lengsernya Suharto dari kekuasaan rupanya tidak lantas merubah cara “sejarah” dipandang. Sebagai sebuah sistem pikir, Orde Baru telah dengan ketat memistifikasi cara manusia Indonesia membaca, dan mendudukkan “sejarah”. Proyek seni “Memoar Tanah Runcuk” merupakan sebuah upaya untuk menantang cara pembacaan “sejarah” yang terlanjur (di)mapan(kan) dan menjadi versi tunggal. Sebagai sebuah karya seni, proyek yang meleburkan narasi fiksi dengan ingatan historis ini berupaya mendemistifikasi kekakuan cara pandang atas “sejarah”, sekaligus mendudukannya dalam perspektif pascakolonial. Tulisan ini membongkar segenap proses penciptaan, pendekatan, metodologi, maupun bangunan fiksi dan segenap studi yang mendasari karya seni Memoar Tanah Runcuk yang dikembangkan oleh penulis.