Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora
Vol 4, No 2 (2016)

Panggung Poskolonial Indonesia dalam Narasi "Memoar Tanah Rucuk"

Timoteus Anggawan Kusno (Unknown)



Article Info

Publish Date
18 Mar 2017

Abstract

Rezim otoritarian Orde Baru menggunakan “sejarah” sebagai perangkat ideologis yang memiliki peran kunci dalam membangun ingatan bersama. Lengsernya Suharto dari kekuasaan rupanya tidak lantas merubah cara “sejarah” dipandang. Sebagai sebuah sistem pikir, Orde Baru telah dengan ketat memistifikasi cara manusia Indonesia membaca, dan mendudukkan “sejarah”. Proyek seni “Memoar Tanah Runcuk” merupakan sebuah upaya untuk menantang cara pembacaan “sejarah” yang terlanjur (di)mapan(kan) dan menjadi versi tunggal. Sebagai sebuah karya seni, proyek yang meleburkan narasi fiksi dengan ingatan historis ini berupaya mendemistifikasi kekakuan cara pandang atas “sejarah”, sekaligus mendudukannya dalam perspektif pascakolonial. Tulisan ini membongkar segenap proses penciptaan, pendekatan, metodologi, maupun bangunan fiksi dan segenap studi yang mendasari karya seni Memoar Tanah Runcuk yang dikembangkan oleh penulis.

Copyrights © 2016






Journal Info

Abbrev

Retorik

Publisher

Subject

Arts Humanities Education Languange, Linguistic, Communication & Media Social Sciences

Description

Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora was founded in 2001 with the aim of seeking a new scientific ethos in the humanities with an interdisciplinary, political, and textual spirit. It was, and still remains, the aspiration of Retorik to foster humanities research with a scientific ethos capable of ...