Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Conceptions of the Vernacular Settlement Architecture Orientation: A Literature Study of Research Results I Kadek Merta Wijaya; Ngakan Ketut Acwin Dwijendra
International Journal of Engineering and Emerging Technology Vol 6 No 1 (2021): January - June
Publisher : Doctorate Program of Engineering Science, Faculty of Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IJEET.2021.v06.i01.p12

Abstract

Architectural researchers have conducted researches on the architectural orientation of vernacular settlements, both explicitly and implicitly. The study results differ based on the understanding of the resident's culture of the community, their beliefs, and the context of their settlements. They understand that vernacular settlement architectural orientation results in a different orientation direction in one territory from another in Indonesia. Indonesia is an archipelago country with various tribes spread throughout the Indonesian archipelago. Each ethnic group has a different culture of living, so that the orientation of the Settlement as a form of relationship between tribal people and their "priority" is also different. The complexity of vernacular payments in Indonesia is fascinating to trace the grand conception through inductive studies. This study aimed to examine the conceptual orientation of the elaborate architectural direction of vernacular settlements in Indonesia using the literature method through the hermeneutic approach. The object of the study is the publication of research results in the form of journals and proceedings. The research results are (1) the conception of symbolic analogy, which means expressing an identity of immanent and transcendental relationships between people in a vernacular architectural territory with their "priority"; and (2) logical conception, understanding the existence of a place of residence as a necessity of life.
PEMANFAATAN LAHAN KOSONG MENJADI RUANG PUBLIK TERPADU DI DENPASAR, BALI Chindy Dewi; Ni Kadek Ari Manik Lukita; I Kadek Merta Wijaya
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol 3 No 2 (2022): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v3i2.6769

Abstract

Keberadaan ruang publik terbuka di Denpasar kurang tertata dan belum merata. Ruang publik terbuka menjadi fasilitas wisata, edukasi, dan ruang olahraga yang digandrungi oleh para wisatawan dan masyarakat lokal untuk menghabiskan waktu di siang atau sore hari untuk berkumpul, bercengkrama, berjemur, minum, makan, berolahraga, dan menikmati suasana yang disuguhkan. Karakter kegiatan yang muncul membutuhkan ruang terbuka yang dekat dengan tempat wisata. Kondisi tersebut memerlukan rancangan fasilitas yang mewadahi kegiatan dan juga merespon permasalahan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model rancangan ruang publik yang mewadahi berbagai fungsi kegaiatan secara terpadu, dan rancangan ini mampu mengurangi efek dari kepadatan produktivitas di kota Denpasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif melalui tahapan kajian terhadap karakter aktivitas, permasalahan kawasan, fungsi ruang public terbuka, serta kondisi eksisting lahan di Denpasar, Sanur. Selanjutnya merumuskan konsep dan tema perancangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kontekstual fungsi. Penelitian ini menghasilkan skematik desain bentuk, struktur, landscape, tata ruangan, dan material bangunan yang mampu memunculkan karakteristik bangunan Bali.
Pendampingan dan Pengembangan Usaha BUMDes di Desa Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Bali I Kadek Merta Wijaya; Putu Gede Suranata; I Gusti Ayu Ratih Permata Dewi
Jurnal Sutramas Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BUMDes dibentuk oleh pemerintah dalam upaya untuk kesejahteraan masyarakat desa melalui kemandirian desa dengan mengembangkan berbagai usaha desa. Dalam pengembangan usaha desa diperlukan suatu strategi pengembangan yang salah satunya adalah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berasal dari masyarakat setempat. BUMDes yang dimiliki oleh Desa Dauh Puri Kangin yang hanya memiliki satu usaha yaitu toko kelontong dan stafnya berasal dari tenaga yang diperbantukan, sedangkan Desa Dauh Puri Kangin memiliki potensi dalam pengembangan usaha desa. Pengabdian ini bertujuan untuk melakukan pendampingan dalam bentuk pelatihan pengembangan, analisis ekonomi, dan perencanaan usaha BUMDes, sehingga dapat menciptakan kemandirian masyarakat dalam pengembangan BUMDes-nya. Tujuan kegiatan ini yaitu melatih masyarakat Desa Dauh Puri Kangin dalam pengembangan, analisis ekonomi, dan perencanaan usaha dalam upaya untuk kemandirian masyarakat dalam pengembangan usaha desa untuk kesejahteraan masyarakat. Pengembangan dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan strategi dalam menentukan jenis usaha yang relevan dan berpotensi untuk dikembangkan. Analisis ekonomi dalam bentuk pelatihan dalam penyusunan analisis dana yang diterima, dikelola, dan hasil kegiatan usaha. Pelatihan perencanaan usaha berupa sosialisasi dalam merencanakan bidang usaha BUMDes yang tepat sasaran dan tujuan BUMDes. Pelatihan ini sebagai upaya dalam memberikan pelatihan kepada masyarakat desa sehingga mampu mandiri dalam pengembangan BUMDes di Desa Dauh Puri Kangin.
Desain Peremanjaan Fasilitas Tempat Parkir Objek Wisata Pantai Lebih dalam Upaya Meningkatkan Hospitality Pengunjung I Kadek Merta Wijaya; Dewa Ayu Nyoman Sriastuti; I Ketut Sugihantara; Lilik Antarini
Jurnal Sutramas Vol. 4 No. 02 (2024): SUTRAMAS VOLUME 04 NO 2
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The beach has more appeal as a transit and culinary tourist attraction. Visitors who travel from Denpasar to Gianyar or Klungkung rest at Sangat Beach while enjoying seafood culinary delights. More Beach Culinary started from the feedback from fishermen on Plus Beach which was sold on the beach. Apart from that, More Beach is a place to carry out melasti for the people of More Village. The development of Morekebang Beach as a transit and culinary area has an impact on parking facilities which are inadequate in terms of the number and quality of parking spaces. This service activity aims to produce a master plan design for the arrangement of parking spaces that accommodates the needs for the number of vehicles, arrangement of vehicle types, and the quality of comfort for visitors who park their vehicles at Sangat Beach. This activity method is carried out in four stages, namely the problem mapping method, conceptual design proposal, induction in the form of a master plan arrangement drawing, and focus group discussion with the community/managers of the Pantai Sangat tourist attraction. The results of this activity are in the form of a master plan for rejuvenating parking facilities according to zoning regulations, planning shade trees, drainage and lighting utility networks, and driver rest areas.
Pengembangan Ekowisata Berbasis Hutan Desa Lebih dengan Konsep Tri Hita Karana untuk Mendukung Keberlanjutan Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi I Kadek Merta Wijaya; Ni Wayan Meidayanti Mustika; I Wayan Jawat; Dewa Ayu Nyoman Sriastuti
Jurnal Abdi Daya Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Abdi Daya Vol.5 No.1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.5.1.2025.27-38

Abstract

Hutan Desa Lebih merupakan kawasan seluas 3 hektar yang direboisasi dengan pohon mahoni pada tahun 2014 untuk mencegah erosi, mengingat posisinya berada di atas permukiman warga. Saat ini kawasan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya berfungsi sebagai ruang hijau dengan potensi terbatas. Permasalahan utama adalah rendahnya pemanfaatan hutan desa, padahal terdapat potensi sumber mata air suci di Pura Taman Beji serta aktivitas ekonomi masyarakat melalui UMKM kuliner berbasis hasil laut. Pengabdian ini bertujuan mengkaji potensi Hutan Desa Lebih untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata berbasis kearifan lokal dengan konsep Tri Hita Karana. Fokus utamanya adalah bagaimana pengembangan ekowisata dapat mendukung pelestarian lingkungan, meningkatkan ekonomi lokal, serta menjaga keharmonisan sosial budaya. Metode yang digunakan adalah studi deskriptif-kualitatif dengan pendekatan analisis potensi sumber daya alam, sosial-ekonomi, serta kearifan lokal masyarakat. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola desa, serta kajian literatur terkait konsep ekowisata dan keberlanjutan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata dapat dilakukan melalui beberapa program: (1) jalur tracking dari desa menuju hutan; (2) lintasan ATV dan area istirahat; (3) fasilitas eco-glamping; (4) ruang komunal untuk kegiatan masyarakat; dan (5) tempat melukat di Pura Taman Beji. Pengembangan ini mendukung keberlanjutan dengan tiga pilar utama: pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi melalui UMKM kuliner, dan penguatan nilai spiritual serta sosial budaya. Dengan demikian, Hutan Desa Lebih berpotensi menjadi destinasi ekowisata unggulan yang sejalan dengan visi-misi desa dan tujuan SDGs.
SOSIALISASI PENGEMBANGAN EKOWISATA MELALUI MATERPLAN FASILITAS PENUNJANG WISATA DI DESA LEBIH, GIANYAR, BALI I Kadek Merta Wijaya; Dewa Ayu Nyoman Sriastuti; Lilik Antarini
Jurnal Abdi Daya Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Abdi Daya Vol.5 No.2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.5.2.2025.40-52

Abstract

Desa Lebih, yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali, memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata berbasis alam dan budaya lokal. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal dan masih menghadapi berbagai tantangan khususnya dalam hal perencanaan fasilitas penunjang dan keterlibatan masyarakat serta kurangnya pemahaman masyarakat mengenai konsep ekowisata yang berkelanjutan. Kegiatan sosialisasi pengembangan ekowisata melalui penyusunan masterplan fasilitas penunjang wisata bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat setempat mengenai pentingnya pengembangan fasilitas penunjang ekowisata yang ramah lingkungan dan berbasis partisipasi komunitas. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi observasi lapangan, wawancara dan diskusi kelompok terarah/ focus group discussio (FGD), serta penyusunan masterplan yang melibatkan pemangku kepentingan lokal serta masyarakat. Materi sosialisasi mencakup konsep dasar ekowisata, identifikasi potensi lokal, peran serta masyarakat, serta desain fasilitas yang sesuai dengan prinsip ekowisata. Hasil kegiatan menunjukkan adanya antusiasme dan partisipasi aktif dari masyarakat, serta munculnya beberapa usulan konkret terkait pengembangan fasilitas seperti jogging track, lapangan mini soccer, tempat meditasi dan yoga, tempat even gathering,wedding, restoran, glamping, kolam renang dan pemandian air panas,water tubbing, information centre dan stand UMKM berbahan lokal. Selain itu, kegiatan ini memperkuat sinergi antara warga, aparat desa, dan pelaku wisata dalam merancang rencana pengembangan fasilitas penunjang ekowisata berbasis potensi lokal untuk mendukung implementasi masterplan.Diharapkan melalui kegiatan ini, Desa Lebih dapat menjadi contoh desa wisata yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Keberlanjutan program ini memerlukan dukungan lintas sektor, serta pendampingan berkelanjutan dalam proses perencanaan dan implementasi pengembangan ekowisata.