Lilis Sucahyo
Departemen Teknik Mesin Dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PERFORMANCE ANALYSIS OF WORKING FLUIDS ON ORGANIC RANKIE CYCLE (ORC) MODEL WITH BIOMASS ENERGY AS A HEAT SOURCES Lilis Sucahyo; Muhamad Yulianto; Edy Hartulistiyoso; Irham Faza
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 8, No 3 (2019): September
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1410.827 KB) | DOI: 10.23960/jtep-l.v8i3.175-186

Abstract

Organic Rankine Cycle (ORC) is an electricity power technology particularly suitable for medium-low temperature heat sources and/or for small available termal power. This paper presents the simulation and performance analysis of working fluids R-134a, R-414B, R-404A and R-407C on ORC with biomass energy as a heat source. Simulation of the ORC system using Cycle Tempo software. The property of working fluids is obtained by using Reference Fluid Properties (Refprop). The best result performance of ORC was shown by working fluid R-404A with thermal efficiency 7.54 % and electric power output ranges between 0.075 kW. This condition operated on turbine inlet temperature at 60 oC, difference turbine working temperature of 15 oC, condensing temperature 25 oC and water boiler mass flow rate 3 lpm.
Pertumbuhan dan Efisiensi Penggunaan Energi pada Budidaya Selada dalam Plant factory dengan Beberapa Perlakuan Fotoperiode Slamet Widodo; Fuad Heru Setiawan; Mohamad Solahudin; Lilis Sucahyo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkptb.2022.010.02.08

Abstract

Cahaya merupakan faktor penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Elemen penting dari pencahayaan meliputi kualitas (spektrum cahaya) dan kuantitas (intensitas dan lama penyinaran/fotoperiode). Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan dan efisiensi penggunaan energi pada selada yang dibudidayakan secara hidroponik dalam plant factory dengan beberapa perlakuan fotoperiode. Selada dibudidayakan secara hidroponik dengan sistem Deep Flow Technique (DFT) dengan beberapa perlakuan fotoperiode (terang/gelap) yaitu 24/0 jam, 18/6 jam, dan 12/12 jam. Untuk perlakuan 18/6 jam sendiri diberikan dalam beberapa siklus terang/gelap berbeda yaitu 18/6 jam (1 siklus), 9/3 jam (2 siklus), 6/2 (3 siklus), dan 3/1 jam (6 siklus). Hasil pengamatan meunjukkan bahwa perlakuan 24/0 jam menghasilkan pertumbuhan dan hasil panen yang paling baik di antara perlakuan lainnya pada semua parameter pertumbuhan yang diamati. Dari efisiensi penggunaan energi, perlakuan 18/6 jam (1 siklus) dan 6/2 jam (3 siklus) memberikan hasil lebih baik dibandingkan perlakuan 24/0 jam. Hasil yang diperoleh ini bisa menjadi alternatif strategi penerapan pencahayaan buatan untuk memperoleh kondisi yang optimum baik dari sisi pertumbuhan dan efisiensi penggunaan energi.
KAJIAN SISTEM HIDROPONIK MENGGUNAKAN ULTRASONIC ATOMIZER UNTUK PEMBIBITAN TSS (TRUE SHALLOT SEED) BAWANG MERAH Lilis Sucahyo; Mohamad Solahudin; Shandra Amarillis
Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram dan Perhimpunan Teknik Pertanian (PERTETA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.911 KB) | DOI: 10.29303/jrpb.v11i1.488

Abstract

TSS (True Shallot Seed) merupakan benih botani alternatif selain umbi yang sangat potensial untuk digunakan dalam proses budidaya bawang merah. Proses pembibitan di petani umumnya menggunakan metode tebar langsung pada lahan dengan tingkat persentase tumbuh yang rendah. Hal tersebut menjadi permasalahan dalam penerapan TSS di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi pembibitan benih TSS menggunakan metode hidroponik, khususnya sistem aeroponik dengan modul ultrasonic atomizer sebagai pengabutan larutan nutrisi. Percobaan menggunakan 3 jenis varietas TSS yaitu Lokananta, Tuktuk dan Sanren. Proses penyemaian bibit dilakukan selama 7 minggu pada ruangan dengan kisaran suhu 23,5-29 oC serta kelembapan relatif sebesar 54,1-75,7 %. Penyinaran fotosintesis menggunakan cahaya LED White dengan nilai photosynthetic photon flux density (PPFD) rata-rata sebesar144 mmol/m2/s. Diperolah hasil performa performa pengabutan ultrasonic atomizer sebesar 89,71 % pada konsentrasi larutan nutrisi 135-1.048 ppm. Sistem aeropnik mampu menghasilkan bibit bawang merah TSS dengan performa keberhasilan pembibitan rata-rata sebesar 89,29 %. Varietas Lokananta, Tuktuk dan Sanren secara berurutan memiliki tinggi tanaman rata-rata sebesar 32 ± 3,61 cm, 34,47 ± 4,52 cm dan 30,2 ± 3,53 cm dengan jumlah daun rata-rata sebanyak 4,07 helai, 4,33 helai dan 4,01 helai. Keragaan tanaman tersebut sesuai dengan kriteria bibit TSS bawang merah. Penggunaan TSS dapat menjadi alternatif penyediaan bibit berkualitas untuk petani bawang merah di Indonesia.  
Utilization of Crude Glycerol Waste from Biodiesel Production as an Additive to Improve the Quality of Tea Dreg Biopellet Lilis Sucahyo; Imelda Hellen ABR Sembiring; Dyah Wulandani
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 12, No 3 (2023): September 2023
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v12i3.571-582

Abstract

Biodiesel production using the transesterification method generates a large amount of crude glycerol as by-products. Crude glycerol waste can be reused and utilized as an additive in the formulation of biopellet. Tea dregs are a waste produced by the beverages industry that can be used as green fuel in the form of biopellet as an environmentally friendly energy source. This study aims to analyze and characterize biopellet from tea dregs with crude glycerol as an additive to increase the quality. The biopellet formulation contains six levels of crude glycerol composition percentage: 0% (as control), 5%, 10%, 15%, 20%, and 25%. The parameters for the quality assessment of biopellet refer to the SNI 8675:2018 standard. The best formulation of biopellet was obtained in the 10% treatment with properties of density value of 0.93 g/cm3, pellet durability of 98.09%, moisture content of 8.10%, volatile matter content of 73.37%, ash content of 6.08% and calorific value of 16.38 MJ/kg. The addition of up to 10% crude glycerol as an additive has been shown to improve the quality of tea dregs biopellet. Keywords:  Additive, Biopellet, Crude glycerol, Tea dregs.
Formulasi Biopelet dengan Campuran Limbah Tongkol Jagung dan Kayu Sengon sebagai Bahan Bakar Padat Terbarukan: Biopellet Formulation with a Mixture of Corn Cob Waste and Sengon Wood as Renewable Solid Fuel Lilis Sucahyo; Dyah; Shania Zavira
Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis
Publisher : Politeknik Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51852/jaa.v8i1.770

Abstract

Limbah tongkol jagung dan kayu sengon merupakan hasil pengolahan pertanian dan perkebunan yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan dalam bentuk bahan bakar padat. Cadangan energi fosil yang semakin berkurang dan ini menjadikan biomassa sebagai alternatif sumber energi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi dan menentukan formulasi biopelet limbah tongkol jagung, limbah kayu sengon, dan kombinasi campurannya sebagai bahan bakar padat terbarukan. Terdapat beberapa perlakuan antara lain perlakuan campuran (tongkol jagung : kayu sengon) yang dilakukan yaitu A1 (100% tongkol jagung), A2 (100% kayu sengon), A3 (80% : 20%), A4 (70% : 30%), A5 (60% : 40%), A6 (50% : 50%). Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan A2 dengan bahan 100% kayu sengon dan perlakuan A3 dengan campuran komposisi 80% tongkol jagung dan 20% kayu sengon menjadi perlakuan dengan komposisi terbaik berdasarkan standar mutu SNI 8675-2018. Pada perlakuan A2 diperoleh nilai kerapatan sebesar 0,47 g/cm3, kadar air 7,25%, ketahanan (durability) 93,35%, kadar abu 1,83%, dan nilai kalor 17,17 MJ/kg, sedangkan perlakuan A3 diperoleh nilai kerapatan sebesar 0,59 g/cm3, kadar air 8,87%, ketahanan (durability) 97,99%, kadar abu 3,5%, dan nilai kalor 17,13 MJ/kg. Limbah tongkol jagung dan limbah kayu sengon dapat dikembangkan sebagai bahan bakar padat dalam bentuk biopelet.
Life Cycle Assessment of Melon (Cucumis Melo L) Production in Tropical Greenhouse, Indonesia Supriyanto Supriyanto; Arkandithya Naufal Pratama; Erniati Erniati; Lilis Sucahyo
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 14, No 1 (2025): February 2025
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v14i1.226-239

Abstract

Recently, melon cultivation in controlled environments such as greenhouse are popular to improve productivity and quality. However, environmentally friendly productions are necessary for preserving ecosystems and reducing environmental impact. This research aimed to evaluate the environmental impact using a life cycle assessment approach. Research was conducted using a life cycle assessment with six categories evaluated such as Global Warming Potential (GWP), Stratospheric Ozone Depletion (SOD), Terrestrial Acidification (TAC), Freshwater Eutrophication (FEU), Terrestrial Ecotoxicity (TEC), and Human Carcinogenic Toxicity (HCT) for kilograms of fresh melon. The result of GWP was 2.137 kg CO2 eq; SOD at 0.39(10-5) kg CFC-11 eq; TAC at 3.93(10-3) kg SO2 eq; FEU at 0.44(10-3) kg P eq; TEC at 4.62 kg 1.4-DCB eq; and HCT at 0.13 kg 1.4-DCB eq. Furthermore, the main contribution of environmental impact was cultivating media such as cocopeat and rice husk charcoal. The result of this research is important to improve greenhouse-based melon production. Keywords: Greenhouse, GWP, Life cycle assessment, Melon.