Iman Amanda Permatasari
CV The Journal Publishing

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEBIJAKAN PUBLIK (TEORI, ANALISIS, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEBIJAKAN) Iman Amanda Permatasari
TheJournalish: Social and Government Vol. 1 No. 1 (2020): February: TheJournalish
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.578 KB)

Abstract

Setelah membaca buku milik Dr. Drs. Chazali H. Situmorang, Apt, MSc, yang berjudul Kebijakan Publik (Teori, Analisis, Implementasi dan Evaluasi Kebijakan), khususnya pada bab implementasi dan bab evaluasi kebijakan, Pereview dapat menyimpulkan bahwa proses implementasi memiliki keterikatan yang kuat dengan evaluasi kebijakan. Implementasi kebijakan adalah variabel paling krusial yang pengaruhnya sangat besar dalam penyelesaian setiap masalah publik. Implementasi juga menjadi pembuktian apakah pemerintah memiliki respon dan cara yang tepat dalam merangkul kepentingan masyarakat. Sementara itu, evaluasi kebijakan merupakan akhir dari tahapan-tahapan kebijakan. Pada tahap ini dapat dilihat bagaimana berjalannya implementasi kebijakan, kekurangan, kelebihan, dan buah dari kebijakan yang dijalankan apakah bersifat positif atau negatif. Evaluasi juga menjadi tolak ukur terhadap kebijakan-kebijakan selanjutnya yang akan diambil pemerintah atau pelaksana. Buku ini ditulis dengan sangat baik, runut dan mudah dipahami. Isinya menjelaskan mengenai implementasi dan evaluasi dengan rinci, dari definisi hingga masalah-masalah yang mungkin dihadapi, disertai dengan beberapa contoh konkrit dalam pelaksanaan kebijakan. Teori-teori yang diambil Situmorang juga dicantumkan secara jelas. Kekurangan dari buku ini adalah pendalaman teori pada langkah-langkah evaluasi kebijakan belum masuk kepada praktik-praktik pelaksanaannya yang paling dalam.
Tata Kelola Pangan di Indonesia: Menuju Sistem Food Governance yang Kolaboratif dan Berkelanjutan Junior Hendri Wijaya; Iman Amanda Permatasari; R Yulianus Gatot
TheJournalish: Social and Government Vol. 7 No. 2 (2026): Social and Government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v7i2.1126

Abstract

Indonesia telah memiliki berbagai regulasi dan kelembagaan di bidang pangan, implementasi tata kelola pangan masih menghadapi berbagai tantangan, seperti fragmentasi kebijakan, ego sektoral, alih fungsi lahan pertanian, ketergantungan terhadap impor pangan, ketimpangan distribusi, food loss dan food waste, dampak perubahan iklim, serta rendahnya tingkat digitalisasi sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika tata kelola pangan di Indonesia serta mengembangkan model konseptual yang mampu memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan dalam penyelenggaraan sistem pangan nasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui telaah terhadap artikel ilmiah bereputasi, laporan organisasi internasional, dokumen kebijakan, dan regulasi nasional yang berkaitan dengan tata kelola pangan. Analisis data dilakukan menggunakan content analysis untuk mengidentifikasi perkembangan konsep food governance, peran aktor, tantangan tata kelola, serta merumuskan model konseptual yang relevan dengan konteks Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola pangan di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan sektoral sehingga koordinasi antarlembaga belum berjalan secara optimal. Kompleksitas sistem pangan menuntut perubahan paradigma dari pendekatan food security menuju food systems governance yang menekankan kolaborasi, integrasi kelembagaan, pemanfaatan teknologi digital, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menawarkan model Integrated Collaborative Food Governance (ICFG) sebagai kerangka konseptual baru yang mengintegrasikan lima dimensi utama, yaitu collaborative leadership, institutional integration, multi-stakeholder participation, digital food governance, dan adaptive sustainability. Model ini menempatkan pemerintah sebagai koordinator (meta-governor) yang memfasilitasi sinergi antara Badan Pangan Nasional, kementerian teknis, pemerintah daerah, sektor swasta, petani, akademisi, dan masyarakat sipil dalam membangun sistem pangan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.