Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Puisi Gus Mus “Talbiyah Dalam Kesendirian’’ Sebagai Alternatif Dakwah Pada Masa Pandemi Covid-19 Lina Masruuroh; Hafifah Aprianti; Mohammad Fajar Amertha
Jurnal Kopis: Kajian Penelitian dan Pemikiran Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Kopis: Kajian Penelitian dan Pemikiran Komunikasi Penyiaran Islam, Febru
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/kpi.v4i2.2391

Abstract

Poetry is an expression of the soul that abstracts, summarizes the atmosphere of ideas in transcendental life and human experience, which is why da'wah messages can still be conveyed through poetry. One such poem was created by Gus Mus, with the titled Talbiyah dalam Kesendirian. The poem succeeded in touching feelings and attracting the attention of many audiences on Instagram social media, because it is considered very relevant to the pandemic situation and the conditions experienced by many people in the world during the pandemic mass. This study aims to explore the semantics of Talbiyah dalam Kesendirian poetry. The theory used is semantics. The study methodology used is qualitative with a library study approach. The analysis was carried out by identifying the elements of meaning including lexical - grammatical, referential - non-referential, denotative - connotative, words - terms, conceptual - associative, idiomatic - proverbs, and figurative meanings. The results of the study show (1) the meaning of the poem contains a message of da'wah in the form of reflections on glorifying the Oneness of Allah SWT, God's response to humans who have only been encouraging to this group of people, reflection on a request to God to lead back on the path that right at His command. (2) This solitude poetry can be used as an alternative to da'wah during the pandemic.
Makna Istitha’ah Berhaji dalam Web Series Naik–Naik ke Tanah Suci Pendekatan Semiotika Asri Ramah Sari; Lina Masruuroh
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v4i1.124

Abstract

Ibadah haji merupakan ibadah personal yang diwajibkan bagi orang Islam, minimal sekali selama hidupnya, dengan catatan memiliki istitha’ah atau kemampuan. Menurut Shibab, istitha’ah meliputi aspek finansial, kesehatan fisik, dan mental, serta kemampuan meninggalkan keluarga dalam keadaan aman ketika berhaji. Namun, saat ini, makna “mampu” dalam berhaji telah mengalami pergeseran. Banyak orang yang sebenarnya tidak mampu secara finansial, namun mengusahakan dengan keras untuk bisa berhaji. Pergeseran makna ini salah satunya direpresentaikan secara menarik dalam web series yang berjudul "Naik-Naik ke Tanah Suci" yang ditayangkan di channel BPKH RI. Salah satu simbol di film tersebut menyiratkan pesan bahwa berhaji bukanlah hak istimewa orang kaya, tetapi merupakan impian spiritual yang dapat diraih siapa saja yang berusaha. Representasi tersebut dibentuk secara sadar melalui konstruksi tanda, baik verbal, visual, maupun narasi yang memiliki makna mendalam. Sehingga, tujuan studi ini adalah mengetahui makna istitha’ah berhaji ditinjau dari simbol-simbol visual, verbal, dan naratif dalam web series Naik-Naik ke Tanah Suci. Studi ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan semiotika Roland Barthes. Hasil studi menunjukkan, web series ini membentuk narasi istitha’ah berhaji, tidaklah selalu berkaitan dengan materi. Tetapi juga berkaitan dengan mengusahakan dan memampukan diri secara sungguh-sungguh. Istitha’ah yang selainnya meliputi fisik, administratif, dan pengetahuan atau pemahaman haji.