Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INTERNAL FOCALIZATION OF CHARACTERS IN FRANKENSTEIN BY MARY SHELLEY Nurjaya, Muhammad Luthfi; Juanda, Juanda
Apollo Project: Jurnal Ilmiah Program Studi Sastra Inggris Vol. 11 No. 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/apollo.v11i1.5925

Abstract

This research analyses the internal focalization of characters in the novel Frankenstein by Mary Shelley. Based on narratology, focalization can be divided into three kind zero focalization, internal focalization and external focalization. Internal focalization is when narrator knows what character thoughts, they cannot explain the thought of others character. Frankenstein by Mary Shelley told us about the story about a man named Victor Frankenstein who created monster and brought that back to life. After that Victor was terrorized by the monster and ruin his life. The story mostly uses internal focalization as every character told the story through their perspective. This paper uses a qualitative method. The data are collected and represented in direct quotes from the book. The theory that is used in this research is based on Gérard Genette's theory about narratology, which is provide the information about how the story is told based on narrator. The research reveals that Mary Shelley uses more than one internal focalization in Frankenstein. The first is coming from Captain Walton to Victor Frankenstein to the monster and come back to Victor and ended with Captain Walton. The shifts point of view in internal focalization shows others character perspective about how the story goes.
Kesalahan Berbahasa Sunda pada Siswa Dwibahasawan di SLTP Taruna Bakti Bandung . Juanda
Humaniora Vol 22, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1386.173 KB) | DOI: 10.22146/jh.997

Abstract

The aim of this research is to investigate written Sundanese errors made by pupils of SLTP Taruna Bakti Bandung. The results show that four types of errors were detected: phonological, morphological, syntactic, and lexical. The phonological errors are close related to such phonemes as /a/ and /u/, /d/ and /y/, /d/ and /r/, /e/, and /a/, /o/ and /u/. The morphological errors include types of lexical errors include the use of loan words or borrowing sich as antusias, bakar, cermin, dalam, gorok, hilang, jatuh, kupas, lestari, madu, pecah, runcing, serius, tinggi, untuk, and wajah.
Dinamika Penggunaan Ragam Bahasa Dialek Jawa Barat: Antara Politik dan Demokrasi Juanda .
Journal Social and Humaniora Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.08 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2018.v18.i02.p03

Abstract

Bahasa Sunda merupakan bahasa dialek yang ada di Jawa Barat. Bahasa Sunda saat ini masih digunakan oleh para penuturnya untuk komunikasi sehari-hari, Namun, dalam penggunaannya, bahasa Sunda di perkotaan sudah mulai tergeser oleh bahasa asing atau bahasa Indonesia walaupun sebenarnya pemerintah sudah ada upaya memasukkan mata pelajaran bahasa Sunda pada pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar sampai tingkat menengah. Program pemerintah ini nampaknya belum begitu memberikan hasil yang menggembirakan dalam peningkatan kompetensi berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Salah satu hal yang menjadi fenomena dalam penggunaan bahasa Sunda adalah penerapan ”undak usuk basa”. Faktor penyebab semakin menurunnya kemampuan penggunaan ragam bahasa ini adalah tidak pernah dibiasakannya penggunaan ragam bahasa tersebut baik di lingkungan formal maupun di lingkungan nonformal seperti lingkungan keluarga atau masyarakat Beberapa kosakata yang mulai tidak dikenali masyarakat terutama kalangan pelajar atau mahasiswa seperti penggunaan kata astana, pasarean, pajaratan. Kata ini memiliki arti yang sama artinya makam. Namun, Kata ini sering diganti dengan kata makam atau kuburan dalam komunikasi sehari-hari, seharusnya kata tersebut digunakan sesuai dengan ragamnya. Astana untuk loma , pasarean untuk bahasa halus buat diri sendiri, sedangkan pajaratan bahasa halus untuk orang lain. Contoh :“Luhureun pasir eta teh aya astana”, “Pasarean pun adi teh tacan ditembok da taneuhna tacan padet”, “pajaratan pun aki mah dicirian ku hanjuang beureum”. Tulisan ini mencoba mengangkat beberapa kosakata bahasa Sunda yang masih dirasakan asing oleh penutur aslinya dan belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Tujuannya untuk lebih memperkenalkan lagi atau mengingatkan lagi bentuk-bentuk kosakata yang seharusnya dipilih. Dari sudut pandang politik berbahasa bahwa penerapan ragam bahasa atau undak-usuk bahasa ini merupakan bagian berbudaya bahasa lokal yang harus dilestarikan sementara sisi demokrasi bahwa setiap penutur memiliki kebabasan untuk menggunakan ataupun tidak.