Annisa Rengganis
universitas muhammadiyah cirebon

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

AHA CENTRE: IMPLIKASI TERHADAP DISASTER MANAGEMENT (DM) DAN DISASTER RISK REDUCTION (DRR) DI INDONESIA Annisa Rengganis
SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi Vol 11 No 01 (2017): Volume 11 Nomor 01 Januari-Juni 2017
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) - Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jsfk.v11i01.1431

Abstract

Dalam tahun-tahun terakhir telah terjadi perubahan besar dalam sikap dan perilaku orangorang dalam mengahadapi bencana alam. Mulanya, penekanan lebih diberikan pada respon kemanusiaan dan aktivitas tanggap darurat. Sementara, hanya ada sedikit perhatian pada strategistrategi pengurangan bencana yang justru mempunyai potensi untuk menyelamatkan ribuan nyawa bahkan hanya melalui dengan cara-cara yang sederhana. Gagasan untuk melakukan suatu tinjauan global terhadap inisiatif-inisiatif pengurangan bencana muncul dalam Dekade Internasional PBB untuk pengurangan Bencana Alam (United Nations International Decade for Natural Disaster Reduction) 1990-1999. Dalam sidang umum PBB tersebut mengusung tema “ Dekade Internasional untuk Pengurangan Bencana Alam” (International Decade for Natural Disaster Reduction/IDNDR) dimana melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan komitmen yang lebih luas terhadap semua aktivitas yang dapat mengurangi konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan bencana alam. Berlanjut pada tahun 1994 saat konferensi Dunia tentang Pengurangan Bencana Alam (World Conference on Natural Disaster Reduction) di Yokohama yang menekankan bahwa setiap Negara memiliki tanggung jawab utama dan berdaulat untuk melindungi penduduk, infrastruktur, serta asset sosial dan ekonomi pada tingkat nasional dari dampak bencana alam. Sebagai penerus IDNDR, sidang umum PBB 2000 kemudian membentuk Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana (International Strategy for Disaster Reduction/ISDR). ISDR bertujuan untuk membangun komunitas yang berdaya tahan terhadap bencana dengan menggalakkan peningkatan kesadaran tentang pentingnya pengurangan bencana sebagai suatu komponen yang tak dapat dipisahkan dari pembangunan berkelanjutan. Strategi-strategi ISDR dilandaskan pada strategi Yokohama dan Mandat Jenewa tahun 1999.Melalui resolusi No. 54/219, Sidang Umum PBB menetapkan dua mekanisme untuk pelaksanaan ISDR, yaitu secretariat Antar Lembaga (Inter-Agency Secretariat) dan Gugus Tugas Antar Lembga untuk Pengurangan Bencana (Inter-Agency Task Force on Disaster Reduction). Ini ditegaskan kembali melalui resolusi No. 56/195 pada bulan Desember 2001. Sidang Umum tersebut menghimbau para pemerintah untuk membentuk platform atau focal point pada tingkat nasional untuk pengurangan bencana, dan untuk memperkuatnya jika memang sudah ada, melalui pendekatan multi-sektoral dan antardisiplin. Upaya-upaya ini kemudian menyebar ke beberapa Negara di dunia, tidak terkecuali Negara kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. ForumRegional ASEAN (ASEAN Regional Forum/ARF) sebagai salah satu platform lain yang terdiri dari Negara-negara ASEAN dan 13 mitra dialog tambahan: Australia, Kanada, Cina, Uni Eropa, India, Jepang, Republik Korea, Mongolia, Selandia Baru, Papua Nugini, Federasi Rusia dan Amerika Serikat. Paling tidak, dibawah payung ARF sejumlah kelompok terbentuk untuk mendorong kerjasama di bidang-bidang khusus termasuk bencana dan penyelamatan. Sebelum kemudian di tahun 2011 terbentuk AHA Center yang menjadi ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management yang berpusat di Indonesia
INTERNATIONAL CRIMINAL COURT DALAM HUMANITARIAN ACTION Annisa Rengganis
SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi Vol 11 No 02 (2017): Volume 11 Nomor 02 Juli-Desember 2017
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) - Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jsfk.v11i02.1439

Abstract

The presence of the International Criminal Court (ICC) through its Roma1998 Statutes in 2002 at least provide fresh air for the law enforcement agencies for the international community. I rate, the presence of the ICC is a missing link after the formation of the International Court of Justice (ICJ) which only has authority over the country as its subject matter. Unlike the ICJ, ICC formation is motivated by the demand for justice for the many crimes incredible cruel (heinous crime), such as genocide (genocide), crimes against humanity (crimes against humanity), war crimes (war crimes) that has caused human casualties very large. As a case study this paper is a crime against humanity in Darfur are handled by ICC judiciary. In the present paper will see that so far, the international legal instruments are able to optimally ensnare the perpetrators of crimes against humanity. Thus, it is necessary that international criminal justice agencies have the authority to break the impunity and independent institution.
AKSI DAN KOORDINASI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH (BPBD) KABUPATEN KUNINGAN PADA TAHAP MITIGASI BENCANA Annisa Rengganis
SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi Vol 14 No 01 (2020): Volume 14 No 01 Januari Juni 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) - Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jsfk.v14i01.1509

Abstract

Penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yaitu serangkaian kegiatan penanggulangan bencana sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Seringkali bencana hanya ditanggapi secara parsial oleh pemerintah. Bahkan bencana hanya ditanggapi dengan pendekatan tanggap darurat (emergency response). Kurang adanya kebijakan pemerintah yang integral dan kurangnya koordinasi antar elemen dianggap sebagai beberapa penyebab yang memungkinkan hal itu dapat terjadi. Pola penanggulangan bencana mendapatkan dimensi baru dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Dimensi baru peraturan tersebut adalah (1) Penanggulanganbencana sebagai sebuah upaya menyeluruh dan pro aktif dimulai daripengurangan risiko bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi; (2) Penanggulangan bencana sebagai upaya yang dilakukan bersama oleh para pemangku kepentingan dengan peran dan fungsi yang saling melengkapi; (3) Penanggulangan bencana sebagai bagian dari proses pembangunan sehinggamewujudkan ketahanan (resilience) terhadap bencana. Dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di daerah, pemerintah membentuk BPBD sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 dan Perka BNPB Nomor 3 Tahun 2008. BPBD di Kabupaten Kuningan didirikan sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang secara resmi berdiri sejak tanggal 4 Januari 2009. Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai organisasi perangkat daerah dibentuk dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi penanggulangan bencana. Inisiatif pemerintah daerah membentuk BPBD menjadi konsentrasi yang menarik, terutama dalam aspek penanggulangan bencana sebelum dan sesudah dibentuknya BPBD. Disaster management is an integral part of national development, namely a series of disaster management activities before, during, and after a disaster. Often disasters are only partially responded to by the government. Even disasters are only responded to with an emergency response approach. Lack of an integral government policy and lack of coordination between elements are considered as some of the possible causes for this to happen. Disaster management patterns get a new dimension with the issuance of Law Number 24 of 2007 concerning Disaster Management. The new dimensions of this regulation are (1) Disaster management as a comprehensive and pro-active effort starting from disaster risk reduction, emergency response, rehabilitation, and reconstruction; (2) Disaster management as a joint effort by stakeholders with complementary roles and functions; (3) Disaster management as part of the development process to create resilience to disasters. In carrying out disaster management in the regions, the government forms BPBD by the mandate of Law Number 24 of 2007 and Perka BNPB Number 3 of 2008. BPBD in Kuningan Regency was established by Regional Regulation (Perda) Number 10 of 2009 concerning Regional Apparatus Organization (OPD). ) which was officially established on January 4, 2009. The Regional Disaster Management Agency as a regional apparatus organization was formed in the context of carrying out disaster management tasks and functions. Local government initiatives to form BPBD are an interesting concentration, especially in the aspect of disaster management before and after the formation of BPBD.
PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN MELALUI KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUBE) Eka Wildanu; Annisa Rengganis; Riyan Riyan
SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi Vol 15 No 01 (2021): Volume 15 No 01 Januari-Juni 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) - Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jsfk.v15i01.1958

Abstract

Kabupaten Cirebon merupakan sebuah kabupaten dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 310.302 Kepala Keluarga menurut pendataan terakhir Januari 2020. Beberapa program Pengentasan kemiskinan pernah dijalankan untuk mengatasinya. Namun sampai ini kemiskinan di Indonesia masih belum terselesaikan karena program yang dijalankan hanya berbentuk pembangunan fisik. Dari permasalahan tersebut Pemerintah Indonesia sejak tahun 1982 mengeluarkan Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai alternatif program yang memadukan konsep Pemberdayaan kemiskinan dengan pemberdayaan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai pemberdayaan masyarakat dalam Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Desa Purwawinangun Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon. Dalam mendeskripsikan pemberdayaan masyarakat dalam KUBE, Metode yang digunakan Peneliti adalah kualitatif deskriptif dengan teknik indepth interview, pengamatan observasi non partisipatif dan studi dokumentasi.Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberdayaan masyarakat dalam KUBE di Desa Purwawinangun secara umum berjalan baik dan memiliki relevansi sebagai program yang memberdayakan masyarakat khususnya Keluarga Miskin. Hal ini karena pelaksanaan KUBE di Desa Purwawinangun sudah berhasil melibatkan stakeholders lain serta memenuhi kriteria dari pemberdayaan masyarakat sendiri. Namun, masih terdapat beberapa aspek yang ada dalam kriteria pemberdayaan masyarakat yang belum bisa dijalankan dengan maksimal.
ANALISIS PENERAPAN E-GOVERNMENT SISTEM KEPENDUDUKAN INFORMASI DAN LAYANAN (SIPENDIL) DALAM PELAYANAN PUBLIK DI DESA SITIWINANGUN KECAMATAN JAMBLANG KABUPATEN CIREBON Subhan Subhan; Annisa Rengganis; Serin Andrayani
SOSFILKOM : Jurnal Sosial, Filsafat dan Komunikasi Vol 15 No 02 (2021): Volume 15 No 02 Juli-Desember 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) - Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jsfk.v15i02.2319

Abstract

This study aims to determine the E-Government Application of Population Services and Information Systems in Public Services in Sitiwinangun Village, Jamblang District, Cirebon Regency.This research method is descriptive research with a qualitative approach. Data was collected using observation, interviews, and documentation. Researchers used data triangulation and source triangulation to check the validity of research data. Data analysis in this study uses three components consisting of data reduction, data presentation, and concluding.The results showed that the E-Government Application of Population Services and Information Systems in Public Services in Sitiwinangun Village, Jamblang District, Cirebon Regency had implemented the dimensions of Support, Value/Value and Ability/Capacity along with their indicators.The people of Sitiwinangun Village, Jamblang District, as users of the Public Service Population Service and Information System application, are satisfied with the services provided by the service officers at the Sitiwinangun Village Office, Jamblang District, Cirebon Regency. But not many people use the application due to the lack of more intensive socialization to the community.