Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Preferensi Oviposisi Nyamuk Aedes aegypti Terhadap Variasi Atraktan (Air Kotoran Sapi Dan Air Kotoran Ayam) Hamsir Ahmad; Sulasmi; Aelizah Rahmasary
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 23 No 2 (2023): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v23i2.82

Abstract

One of the ways can be used to control mosquito vectors is using traps, namely egg traps (ovitrap). The trap will be filled with attractants as substances to attract female mosquitoes to come lay their eggs. Cow or chicken manure mixed with water is one of the ingredients which can be used as an attractant.This research aims to find out the oviposition preference of Aedes aegypti mosquitos to attractant variations (cow and chicken manure). The type of research used is an experiment with 3 replications and a variety of attractants. They are the mixture of water with cow and chicken manure with a concentration of 3% each. The observations were made for 7 days for each replication. The results show that the average number of trapped eggs varied in each medium. It was 145.6 in the cow manure, 55 in the chicken manure, and 25.6 in the control media. The results of statistical test show that the p value in cow manure was 0.013 <0.05 while the p value in chicken manure was 0.570 > 0.05.As a conclusion, there is a significant difference in the oviposition preferences of Aedes aegypti mosquitoes in the cow manure, and there is no significant difference in the oviposition preferences of Aedes aegypti mosquitoes in the chicken manure. The cow manure media is the main preference for Aedes aegypti mosquitoes to oviposition when compared to chicken manure media. It is suggested to the next research to carry out total egg hatchng and add various attractants. In addition, people also need to pay attention to environmental cleanliness to avoid mosquito breeding. Keywords : Attractant, Ovitrap, and Aedes aegypti.
GAMBARAN DENSITAS NYAMUK AEDES AEGYPTY DENGAN KEJADIAN DBD DI DAERAH ENDEMIS DESA PASUI KECAMATAN BUNTU BATU KABUPATEN ENREKANG Hamsir Ahmad; Juherah Juherah; Wahyuni Sahani
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 23 No 1 (2023): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulo.v23i1.418

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cenderung meningkat dengan jumlah penderita dengan penyebaran yang luas. Masalah ini sering muncul dan berulang dengan datangnya musim hujan. Di Indonesia, dengan kurangnya kesadaran akan pentingnya anjuran pemberantasan nyamuk sebagai upaya pencegahan penyakit demam berdarah. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian anak-anak di beberapa negara Asia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kepadatan nyamuk Aedes aegypty dengan kejadian demam berdarah dengue di daerah endemis, Desa Pasui, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah kepala keluarga di Desa Pasui sebanyak 441 kepala keluarga. Sampel yang digunakan adalah 82 rumah. Data diolah dengan tabel SPSS yang diperoleh dari observasi dan wawancara dari jawaban 82 responden kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Angka Bebas Jentik (ABJ) untuk semua lokasi baik Dusun maupun Kecamatan berada pada <95 sedangkan indikator kinerja atau target pengendalian RPJMN adalah Angka Bebas Jentik (ABJ) <95. dan HI berada pada rentang poin 4 dan 5 sehingga dikategorikan kepadatan sedang pada nyamuk aedes aegypty. Untuk kejadian DBD di Kecamatan Buntu Batu ditemukan 12 orang yang pernah mengalami Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ABJ di Desa Pasui Kecamatan Buntu Batu belum memenuhi indikator yaitu bebas dari jentik nyamuk dan untuk House indek rumah masih berada pada kepadatan sedang. Angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam satu tahun terakhir masih ditemukan sebanyak 12 orang di Daerah Endemis, Desa Pasui, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang. Kata kunci: Kepadatan Nyamuk Aedes Aegypty, DBD
ANALISIS FAKTOR RISIKO NYERI PUNGGUNG PADA PEMBUAT BATU BATA DI DESA BULOGADING KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA Zaenab Zaenab; Hamsir Ahmad; Nurwalasriani Nurwalasriani
Media Kesehatan Politeknik Makassar Vol 18 No 1 (2023): Media Kesehatan
Publisher : Direktorat Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v18i1.439

Abstract

Industri batu bata merupakan salah satu industri yang bergerak di bidang tradisional yang dalam proses pembuatannya batu bata dibuat dari tanah liat yang dicetak menggunakan cetakan lalu dijemur kemudian disusun setelah itu di bakar hingga matang. Dalam proses pembuatan batu bata seringkali pekerjanya melakukan sikap atau posisi kerja yang kurang ergonomis yang dapat menyebabkan keluhan fisik berupa nyeri pada otot contohnya nyeri pinggang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan nyeri punggung pada pembuat Batu Bata di Desa Bulogading Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 240 orang. Jumlah sampel sebanyak 160 responden dengan metode total sampling. Analisis data diolah menggunakan uji statistik. Hasil penelitian pada pembuat batu bata menggunakan uji person corelation memiliki hubungan yang signifikan antara umur (p value = 0,000), lama kerja (p value = 0,002), sikap tubuh (p value = 0,000) dengan keluhan nyeri punggung. Kesimpulan yang didapatkan ada hubungan antara umur, lama kerja dan sikap tubuh dengan keluhan nyeri punggung pada pembuat batu bata. Disarankan bagi pembuat batu bata yang sudah berumur 60 tahun untuk mengurangi jam kerja, kemudian disarankan untuk bekerja maksimal 8 jam/hari dan tidak tidak melebihi jam kerja, kemudian bagi pembuat batu bata disarankan pada saat proses pengangkatan batu bata harus mengangkat beban sedekat mungkin dengan tubuh. Kata Kunci : Batu Bata, Ergonomi, Nyeri Punggung, Industri
Penyuluhan Kesehatan Tentang Leptospirosis Pada Siswa Kelas XII SMAN 16 Makassar Sulasmi Sulasmi; Hamsir Ahmad; Nur Salsabila Majid
Media Implementasi Riset Kesehatan Vol 7 No 1 (2026): Media Implementasi Riset Kesehatan (Juni)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mirk.v7i1.2223

Abstract

Leptospirosis merupakan penyakit menular yang prevalensinya meningkat pada musim hujan dan menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan penyuluhan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai leptospirosis pada siswa/i kelas XII UPT SMA Negeri 16 Makassar. Penyuluhan dilaksanakan pada 21 Oktober 2025 dengan melibatkan 32 peserta. Metode pelaksanaannya meliputi pemaparan materi interaktif, penyampaian video edukatif, simulasi gejala awal penyakit, dan sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan peserta: sebelum penyuluhan, hanya 57% peserta memahami tentang leptospirosis dan 43% tentang pencegahannya. Setelah penyuluhan, pengetahuan peserta meningkat menjadi 81% untuk pengenalan penyakit dan 91% untuk pencegahan. Kegiatan ini efektif membangkitkan kesadaran remaja akan pentingnya kewaspadaan terhadap leptospirosis serta mendorong perilaku hidup bersih untuk mencegah penularan penyakit di musim hujan
ANALISIS FAKTOR RISIKO NYERI PUNGGUNG PADA PEMBUAT BATU BATA DI DESA BULOGADING KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA Zaenab Zaenab; Hamsir Ahmad; Nurwalasriani Nurwalasriani
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2023): Media Kesehatan
Publisher : Direktorat Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v18i1.439

Abstract

Industri batu bata merupakan salah satu industri yang bergerak di bidang tradisional yang dalam proses pembuatannya batu bata dibuat dari tanah liat yang dicetak menggunakan cetakan lalu dijemur kemudian disusun setelah itu di bakar hingga matang. Dalam proses pembuatan batu bata seringkali pekerjanya melakukan sikap atau posisi kerja yang kurang ergonomis yang dapat menyebabkan keluhan fisik berupa nyeri pada otot contohnya nyeri pinggang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan nyeri punggung pada pembuat Batu Bata di Desa Bulogading Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 240 orang. Jumlah sampel sebanyak 160 responden dengan metode total sampling. Analisis data diolah menggunakan uji statistik. Hasil penelitian pada pembuat batu bata menggunakan uji person corelation memiliki hubungan yang signifikan antara umur (p value = 0,000), lama kerja (p value = 0,002), sikap tubuh (p value = 0,000) dengan keluhan nyeri punggung. Kesimpulan yang didapatkan ada hubungan antara umur, lama kerja dan sikap tubuh dengan keluhan nyeri punggung pada pembuat batu bata. Disarankan bagi pembuat batu bata yang sudah berumur 60 tahun untuk mengurangi jam kerja, kemudian disarankan untuk bekerja maksimal 8 jam/hari dan tidak tidak melebihi jam kerja, kemudian bagi pembuat batu bata disarankan pada saat proses pengangkatan batu bata harus mengangkat beban sedekat mungkin dengan tubuh. Kata Kunci : Batu Bata, Ergonomi, Nyeri Punggung, Industri
Uji Kemampuan Umbi Gadung (Dioscorea Hispida) Dan Buah Bintaro (Cerbera Manghas) Dalam Mematikan Tikus Hamsir Ahmad; Abd Rahman
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 19 No 1 (2024): Media Kesehatan
Publisher : Direktorat Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v19i1.528

Abstract

The existence of rats is very disturbing and endangers human life because of the role of rats as agents that spread Murine thypus, Leptospirosis, and Salmonellosis. Natural rodenticides that can be used to kill rats with the use of vegetable rodenticides ie. gadung tubers and bintaro fruit because they contain toxic chemicals This research is a pseudo-experiment (Quasi Experimental) with the aim of determining the ability of gadung tubers (Dioscorea hispida) and bintaro fruit (Cerbera magas) in killing rat pests with doses of 20 grams, 40 grams and 60 grams and control with observation time for 10 days, replication was carried out 2 times. The results showed that a dose of 20 grams of gadung tubers can kill rats by 50%, a dose of 40 grams can kill rats by 66%, a dose of 60 grams can kill rats by 66% while a dose of bintaro shows a dose of 20 grams can kill rats by 66%, a dose of 40 grams can kill rats by 33%, a dose of 60 grams can kill rats by 16%. The conclusion of this study is that the results of the study proved that gadung tubers (Dioscorea hispida) with doses of 20 gr, 40 gr and 60 gr were able to kill rats because they had met the requirements for 50% rat death and 20 gr of bintaro fruit (Cerbera magas) was able to kill rats because it had met the requirements for 50% rat death. While at doses of 40 gr and 60 gr are not able to kill rats because they do not meet the requirements of 50% mortality in rats. People can use vegetable rodenticides of gadung tubers 40 grams and bintaro fruit 20 grams as an alternative for environmentally friendly rat control because the treatment is able to kill rats with a smaller dose and high mortality rate.