Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Arsitektur Regionalisme; Sebagai Wacana Menuju Arsitektur Tanggap Lingkungan Berkelanjutan Bonifacio Bayu Senasaputro
ULTIMART Jurnal Komunikasi Visual Vol 10 No 2 (2017): Ultimart: Jurnal Komunikasi Visual
Publisher : Universitas Multimedia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.007 KB) | DOI: 10.31937/ultimart.v10i2.777

Abstract

Arsitektur Modern merupakan bentukan Arsitektur yang hadir pada periode Arsitektur yang menawarkan teknologi konstruksi yang dapat diproduksi secara massal. Salah satu implementasinya adalah, kehadirannya ke dalam citra bentuk geometri sederhana tanpa ornamen, serta tata ruang berimplikasi pada fungsi ke dalam struktur organisasi yang menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Bentukan yang muncul pada Arsitektur Modern salah satunya adalah, langgam International Style. Langgam ini mengkategorikan dan memperluas pandangan secara umum tentang implementasi Arsitektur yang dapat diterapkan pada lingkung geografis di seluruh dunia. Permasalahan umum yang teridentifikasi adalah terputusnya rantai entitas yang menghubungkan antara Arsitektur, dengan lingkung binaan yang berada di sekitarnya. Beberapa masalah yang muncul dalam perwujudannya seperti bentuk eksplorasi teknologi konstruksi modern yang memiliki kecenderungan mengaburkan nilai – nilai dan jati diri Arsitektur lokal, serta permasalahan iklim mikro yang patut diselesaikan melalui eksplorasi terhadap ciri fisik geografi dan iklim dari suatu wilayah. Regionalisme merupakan suatu bentuk cara pandang Arsitektur dari suatu wilayah setempat, yang memiliki ciri – ciri, sistem tata nilai, dan metode implementasi yang unik untuk diterapkan, dan hadir sebagai wujud kritik terhadap hadirnya Arsitektur Modern beserta dengan International-Style nya. Kajian ini bertujuan untuk menemukan peranan dari Arsitektur Regionalisme, ditinjau dari berbagai unsur dan elemen yang membentuk sistem lingkung binaan yang bersinergi dan kontekstual dengan lingkungan setempat. Studi dalam kajian ini menggunakan metode analisis deskriptif – kualitatif, melalui pendekatan preseden beberapa karya Arsitektur Regionalism sebagai contoh kasus terapan. Hasil dari kajian ini adalah, Regionalisme hadir sebagai unsur penyelaras dan penyeimbang, yang menciptakan sebuah dialog yang saling bersinergi antara teknologi, seni, nilai budaya yang berkembang, dengan lingkung alam geografis yang melebur menjadi satu keutuhan dalam realitas Arsitektur. Kata kunci: regionalisme, identitas (kontekstual), lingkung berkelanjutan
Optimalisasi Kenyamanan Audial dalam Akustik Gereja: Studi Kasus Gereja Mater Dei Lampersari Semarang Fransiska Helena Putri; Bonifacio Bayu Senasaputro
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 13 No. 3 (2024): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v13i3.393

Abstract

Gereja menjadi tempat yang dipandang khusuk, hening dan damai bagi umat Katolik, namun pada kondisi Gereja Mater Dei-Lampersari dirasa belum cukup ideal dalam menanggapi isu tersebut. Hal ini dipengaruhi karena letak bangunan yang berada di lingkup permukiman dan persimpangan jalan. Oleh karena itu kualitas akustik sebuah gereja dianggap penting untuk menunjang kenyamanan audial umat gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas akustik gereja berdasarkan parameter akustik dengan acuan teori menurut Les E. Doolie. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan adanya pengukuran parameter akustik dan tanggapan umat gereja sebagai faktor pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akustik ruang gereja dapat mempengaruhi kenyamanan pendengar, dengan beberapa aspek seperti kejelasan suara, bising latar belakang, tata letak sumber bunyi/penguat bunyi dan tingkat dengung. Hasil perhitungan  membuktikan nilai kebisingan lingkungan sekitar tidak mempengaruhi kekhusyukan ibadah, namun hasil perhitungan angka reverberation time gereja mencapai 2.1 detik sehingga belum dapat dikatakan sudah mencapai tingkat ideal, dalam rentang 1.6 hingga 1.9 detik. Langkah yang dilakukan berupa optimalisasi akustik untuk mencapai waktu dengung yang optimal dan menginsulasi kebocoran-kebocoran suara, dengan melibatkan material-material akustik.