Hasaruddin Hasaruddin
Universitas Dayanu Ikhsanuddin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pergolokan Kaum Bangsawan terhadap Kesultanan Buton pada Abad XIX Hasaruddin Hasaruddin
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VI, Nomor 2, November 2020
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pembagian kelompok bangsawan di wilayah kesultanan Buton. Kelompok bangsawan yang dibagi dalam tiga kamboru-mboru pada akhirnya menimbulkan persoalan kekecewaan pada kelompok bangsawan tertentu. Perasaan kekecewaan tersebut diimplementasikan dalam sebuah gerakan yang ditujukan pada pusat pemerintahan kesultanan Buton di abad XIX. Dalam penelitian ini menggunakan metode yang terdiri dari empat tahapan yang terdiri atas : heuristik, kritik, interpretasi, histografi. Hasil peneltian menunjukan bahjwa akibat adanya pembagian kekuasaan menimbulkan adanya perpecahan atau perlawanan atau pergerakan yang dilakukan oleh kelompok bangsawan lain. Khusus pada abad XIX ada dua gerakan yang dilakukan oleh kelompok bangsawaan yang oposisi yaitu gerakan yang berlangsung di wilayah Kamaru dan di Loji. Di Kamaru dipimpin oleh La Manepa dan dapat melakukan pemberontakan tetapi belum sempat masuk dalam wilayah pusat pemerintahan pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh utusan Sultan Muh. Isa yaitu Kapitalao Kamaru. Gerakan yang dilakukan di Loji dipimpin oleh La Ode Japere Yarona Kaedupa yi Loji. Gerakan yang dilakukan dapat diselesaikan dengan tingkat diplomasi.
Jejak-jejak Kolonial Belanda di Pulau Binongko Hasaruddin Hasaruddin
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VI, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hampir seluruh wilayah Indonesia pernah menjadi tempat singgah oleh Belanda di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu kawasan atau wilayah yang menjadi tempat persinggahannya adalah gugusan pulau Buton yang berada di kawasan timurnya yaitu pulau Binongko. Daerah ini menjadi salah satu daerah yang menghasilkan rempah-rempah pada masa silam sehingga mengundang bangsa lain untuk singgah di wilayah ini tidak terkecuali bangsa Belanda yang kemudian meninggalkan beberapa jejaknya di kawasan tersebut. Disamping itu, Belanda menjadikan pulau Binongko sebagai tempat persinggahan untuk mengisi perbekalan menuju kawasan atau wilayah timur nusantara yaitu Ternate. Untuk mendapatkan jejak-jejak peninggalan Belanda di pulau Binongko maka dilakukan sebuah kajian dengan berpedoman pada metode penelitian sejarah yang terdiri atas: heuristik, kritik,interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kolonial Belanda telah berada di wilayah pulau Binongko yang ditandai dengan adanya pembuatan jalan yang mengelilingi pulau Binongko yang dibuat oleh Belanda. Di samping itu, penggunaan mata uang gulden juga diberlakukan di wilayah tersebut.
Pergolakan Kaum Bangsawan terhadap Kesulatanan Buton pada Abad XIX Hasaruddin Hasaruddin
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VI, Nomor 2, November 2020
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangiadanya pembagian kelompok bangsawan divwilayah kesultanan Buton. Kelompok bangsawan yang dibagi dalam tiga kamboru-mboru pada akhirnya menimbulkan persoalan kekecewaan pada kelompok bangsawan tertentu.Perasaan kekecewaan tersebut diimlemtasikan dalam sebuah gerakan yang ditujukan pada pusat pemerintahan kesultanan Buton di abad XIX. Dalam penelitian ini menggunakan metode yang tediri dari empat tahapan yang terdiri atas : Heuristik yaitu kegiatan menghimpun jejak-jejak sejarah masa lampau. Heuristik merupakan tahap awal dari historiografi diawali dengan kegiatan penjajakan, perincian serta pengumpulan sumber yang berkaitan dengan maslah yang teliti.Tahap kedua, kritik yang meyelidiki apakah jejak sejati baik bentuk maupun.Tahap ketiga, interpretasi, yaitu setelah melakukan kritik sumber dihadapkan informasi atau data-data mengenai subyek penulis sejarah yang berhubungan dengan obyek yang teliti.Data-data tersebut adalah fakta-fakta sejarah yang dapat dibuktikan kebenarannya, tahap keempat histografi yaitu mengajukan sintesa yang diperoleh dalam kisah-kisah sejarah. Hasil peneltian menunjukan bahwa akibat adannya pembagian kekuasaan menimbulkan adanya perpecahan atau perlawanan atau pergerakan yang dilakukan oleh kelompok bangsawan lain. Khusus pada abad XIX ada dua gerakan yang dilakukan oleh kelompok bangsawaan yang oposisi yaitu gerakan yang berlangsung di wilayah Kamaru dan di Loji.Di Kamaru dipimpin oleh La Manepa dan dapat melakukan pemberontakan tetai belum sempat masuk dalam wilayah pusat pemerintahan pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh utusan sultan Muh.Isa yaitu Kapitalao Kamaru.Gerakan yang dilakukan di Loji dipimpin oleh La Ode Japere Yarona Kaedupa yi Loji.Gerakan yang dilakukan dapat diselesaikan dengan tingkat diplomasi.
PERAN SULTAN DAYANU IKHSANUDDIN DALAM MENATA SISTEM PEMERINTAHAN MODERN DI KESULTANAN BUTON (1596 - 1632) Munawir Mansyur; Hasaruddin Hasaruddin
Jurnal Wahana Kajian Pendidikan IPS Vol 6, No 2 (2022): Terbit 2 kali dalam setahun
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jwkp-ips.v6i2.35477

Abstract

Tujuan  dalam  penelitian  ini  adalah:  (1)  untuk mengetahui latar balakang terbentuknya sistem pemerintahan modern di Kesultanan Buton, (2) untuk mengetahui peran sultan Dayanu Ikhsanuddin dalam menata sistem pemerintahan modern di Kesultanan Buton, (3) untuk mengetahui perubahan apa saja yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Dayanu Ikhsanuddin. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka. Dari hasil  penelitian  menunjukan  bahwa: (1)  Latar  belakang  terbentuknya sistem  pemerintahan  modern  di Kesultanan  Buton  dipengaruhi  oleh  beberapa faktor yaitu pertama, Masyarakat dari golongan Bangsawan (Kaomu) terkadang melakukan tindakan diluar koridor hukum yang ditetapkan pada masa itu, kedua, tidak adanya suatu aturan hukum yang tegas tentang penentuan wewenang penyelenggaraan negara, ketiga, akibat dari pengaruh krisis ekonomi yang disebabkan oleh kemarau panjang yang terjadi dimasa pemerintahan Sultan Buton ketiga, Sultan La Sangaji  pada tahun  1566-1570, (2) Peranan  Sultan  Dayanu Ikhsanuddin  dalam  menata sistem pemerintahan  modern  di  Kesultanan  Buton ialah ketika beliau berhasil penyusun dan menetapkan Undang-Undang Martabat Tujuh sebagai pedoman dalam menjalankan roda pemerintahan dan kemudian merubah sistem pemerintahan dari monarki menjadi demokrasi, (3) Perubahan yang terjadi pada masa Sultan Dayanu Ikhsanuddin adalah perkembangan pemerintahan Kesultanan Buton dimasa kepemimpinan Sultan ke-IV pada tahun 1596-1632 yang mana pada saat itu banyak sistem yang dibuat dan ditata guna kelancaran  roda  pemerintahan.