Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Produksi Program “Tembang Kenangan” di Banyumas TV Yuni Wulandari; Ade Wahyudin
JUDICIOUS Vol 4 No 1 (2023): Judicious
Publisher : Neolectura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37010/jdc.v4i1.1189

Abstract

Program televisi dengan tema musik nostalgia atau tembang kenangan telah menjadi pilihan populer di kalangan penonton. Banyak stasiun televisi lokal yang mencoba menghadirkan program serupa dengan tujuan untuk menarik minat penonton. Banyumas TV sebagai salah satu stasiun televisi lokal di wilayah Banyumas mencoba menghadirkan program 'Tembang Kenangan' sebagai salah satu program unggulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan proses produksi program 'Tembang Kenangan' di Banyumas TV. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan narasumber terkait, observasi langsung, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi program 'Tembang Kenangan' di Banyumas TV melibatkan beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Tahapan perencanaan meliputi pemilihan tema dan penyanyi yang akan diundang, sementara tahapan pra-produksi meliputi persiapan lokasi syuting dan persiapan teknis. Tahapan produksi meliputi proses pengambilan gambar dan rekaman suara, sedangkan tahapan pasca-produksi meliputi proses editing, mixing suara, dan penyelesaian program. Proses produksi program 'Tembang Kenangan' di Banyumas TV menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan waktu dan sumber daya manusia. Namun demikian, stasiun televisi ini berhasil menghasilkan program yang menarik dan disukai oleh penonton. Dalam hal ini, pengalaman dan keahlian para kru produksi, serta dukungan teknologi yang memadai, menjadi faktor kunci dalam keberhasilan produksi program tersebut. Kesimpulannya, produksi program 'Tembang Kenangan' di Banyumas TV merupakan proses yang kompleks, melibatkan berbagai tahapan dan kendala. Namun, dengan pengalaman dan keahlian yang memadai, serta dukungan teknologi yang memadai, stasiun televisi ini berhasil menghasilkan program yang menarik dan disukai oleh penonton. Hal ini menunjukkan bahwa program musik nostalgia masih memiliki potensi untuk menarik minat penonton, terutama di kalangan yang lebih tua.
Penyiaran Televisi dan Radio di Era Digital: Analisis Etika dan Kepatuhan Regulasi Berdasarkan Data KPI Pusat Tahun 2025-2026 Kundori; Edi Giantoro; Yuni Wulandari
Jurnal Jejak Hukum Indonesia (JHI) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Jejak Hukum Indonesia Vol. 3 No. 1 Mei 2026
Publisher : Yayasan Tri Edukasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63462/s7bxha79

Abstract

This study aims to analyze the mapping of ethics and regulatory compliance among television and radio broadcasting institutions in Indonesia during the post-Analog Switch Off (ASO) digital multi-channel era. Amidst hyper-competition and the pressure of the attention economy, broadcasting companies often perform calculated risks that neglect the Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Utilizing a descriptive qualitative approach with a case study design, this research examines official administrative sanction documents and circular letters issued by the Indonesian Broadcasting Commission (KPI) Pusat from 2025 to the first quarter of 2026. The results reveal three major systemic typologies of violations: first, a failure in internal corporate gatekeeping, evidenced by the mass violation of cigarette advertising regulations across 9 major TV stations ; second, a degradation of journalistic ethics in afternoon news slots characterized by trauma commodification and sensationalism ; and third, the exploitation of adult-oriented borderline content disguised under teenage (R) age classifications. Concurrently, KPI Pusat continues to optimize its preventive functions through religious and cultural circular letters, which achieved a 100% compliance rate. The study concludes that while KPI Pusat operates optimally within its regulatory framework, broadcasting institutions must reinforce their automated internal screening systems and implement strict internal key performance indicator adjustments to mitigate ongoing operational and economic risks.