Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BAHASA LORANG, BAHASA BARAKAI, DAN BAHASA DOBEL DI KEPULAUAN ARU DALAM KAJIAN LEKSIKOSTATISTIK (Lorang Languages, Barakai Languages, and Dobel Languages in Aru Islands in Lexicostatistic Study) NFN Erni; Mujahid Taha; Fida Febriningsih; Dendi Wijaya; Jusmianti Garing
Kandai Vol 18, No 1 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i1.3197

Abstract

This study aims to determine the kinship relationship between Lorang, Barakai, and Double languages in the Aru Islands Regency, Maluku Province through lexicostatistical studies. In addition to this language being in the same geographical area, it also has some of the same vocabularies so that it is very possible to have linguistic kinship both phonemically and lexically. To prove this assumption, linguistic research needs to be done by documenting the three languages. This study uses a quantitative approach with the method lexicostatistics. The purpose of this research is the kinship relationship between Lorang language, Barakai language, and Double language. Data collection was carried out using direct observation, listening, and recording methods. The results showed that the three languages are still related as language families. The percentage of kinship/kinship between Lorang language and Barakai language is 52%, Lorang language is Double language is 46%, and Barakai language is Double language is 68%. Meanwhile, the separation time between the Lorang language and the Barakai language was about six thousand years ago, between the Lorang language and the Double language about 18 thousand years ago, and between the Barakai language and the Double language it is estimated to have separated about two thousand years ago.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kekerabatan bahasa Lorang, bahasa Barakai, dan bahasa Dobel yang ada di Kabupaten Kepualauan Aru, Provinsi Maluku melalui kajian leksikostatistik. Selain bahasa ini berada pada wilayah geografis yang sama juga memiliki beberapa kosakata yang sama sehingga sangat memungkinkan adanya kekerabatan bahasa, baik secara fonemis maupun leksikal, untuk membuktikan asumsi tersebut perlu dilakukan penelitian kebahasaan dengan cara mendokumentasikan ketiga bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode leksikostatistik. Tujuan penelitian ini adalah hubungan kekerabatan bahasa Lorang, bahasa Barakai, dan bahasa Dobel. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi langsung, simak, dan perekaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga bahasa tersebut masih berkerabat sebagai keluarga bahasa. Persentase kekognatan/kekerabatan antara bahasa Lorang dengan bahasa Barakai sebesar 52%, bahasa Lorang dengan bahasa Dobel sebesar 46%, dan bahasa Barakai dengan bahasa Dobel sebesar 68%. Sementara itu, waktu pisah antara bahasa Lorang dengan bahasa Barakai, yaitu sekitar 6 ribu tahun yang lalu, antara bahasa Lorang dan bahasa Dobel sekitar 18 ribu tahun yang lalu, dan antara bahasa Barakai dan bahasa Dobel diperkirakan berpisah sekitar dua ribu tahun yang lalu. 
CATATAN ETNOLINGUISTIK SUKU MENTAWAI DI DUSUN BUTTUI Dendi Wijaya; Engga Zakaria
Masyarakat Indonesia Vol 49, No 1 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v49i1.1282

Abstract

Pasipiat Sot, Titi, Uma, dan Urai adalah beberapa di antara tradisi dan budaya lokal yang masih hidup di  masyarakat Mentawai. Tradisi dan budaya lokal ini masih hidup hingga saat ini. Akan tetapi, tidak banyak generasi muda yang tergerak untuk melanjutkan tradisi dan budaya tersebut. Catatan etnolinguistik ini merupakan pijakan awal untuk kajian yang lebih luas terkait tradisi dan budaya suku Mentawai yang dikemas dalam dokumentasi bahasa Mentawai. Penelitian ini bersifat dokumentari etnolinguistik, yaitu dengan melakukan pendokumentasian tradisi dan budaya suku Mentawai secara langsung dan menggunakan media bahasa Mentawai. Dusun Buttui menjadi lokus penelitian karena dianggap masih alami dan jauh dari pengaruh modernitas. Data dalam penelitian ini berupa deskripsi tradisi dan budaya suku Mentawai yang diperoleh melalui perekaman audiovisual, yang kemudian ditranskripsi untuk memperoleh gambaran tentang tradisi dan budaya suku Mentawai. Hasil penelitian ini adalah berupa gambaran tradisi dan budaya masyarakat suku Mentawai yang dibagi ke dalam beberapa deksripsi, di antaranya: pasipiat sot, urai, titi, kapurut dan subbet, dan uma.