Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERAPAN MENCUCI TANGAN PAKAI SABUN, MEMAKAI MASKER, DAN MENJAGA JARAK DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA MASYARAKAT KELURAHAN BANGKINANG Nurul Zahira; Ade Dita Puteri; Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 2 No. 4 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v2i4.2419

Abstract

Penerapan mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan menjaga jarak di masa pandemi, Mencuci tangan adalah salah satu tindakan membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air bersih dan sabun, sebagai salah satu upaya untuk memutuskan rantai pandemi COVID-19. Masker adalah perlindungan yang digunakan untuk melindungi individu dari menghirup virus berbahaya COVID-19. Menjaga jarak dilakukan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran COVID-19. Tujuan penelitian Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak di masa pandemi COVID-19. Jenis penelitan kuantitatif analitik dengan pendekatan crosssectional. Penelitian dilakukan tanggal 2-9 juli 2021 dengan jumlah populasi 3.743 dan sampel 97 Orang menggunakan teknik pengambilan sampel purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data yang digunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan penerapan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dengan pengetahuan, media massa dan dukungan sosial. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang 52 orang 53,6%. Sebagian besar responden yang tidak tahu informasi dari media massa, terdapat 40 orang (41,2%). Sebagian besar responden yang tidak mendapat dukung terdapat 44 orang (45,4%). Oleh karna itu diharapkan kepada petugas kesehatan memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penerapan mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan menjaga jarak di masa pandemi, Kata Kunci : Mencuci Tangan Pakai Sabun, Memakai Masker, Menjaga Jarak Pandemi Covid-19
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PUNGGUNAAN WADAH STYROFOAM PADA PENJUAL MAKANAN DI BANGKINANG KOTA TAHUN 2021 Ningsi Ariestuti; Ade Dita Puteri; Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 2 No. 4 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v2i4.2421

Abstract

Styrofoam saat ini menjadi pilihan kemasan makanan yang paling populer dalam bisnis makanan, padahal styrofoam mengandung stiren, butadien, dan juga dioctyl phthalate yang mampu mengubah gen dan merangsang pembentukan sel kanker. Styrofoam juga menimbulkan masalah pada lingkungan karena sulit diuraikan dan didaur ulang. Pemilik tempat makanan memiliki peranan yang sangat penting dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan untuk memilih kemasan yang akan digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan wadah styrofoam pada penjual makanan. Jenis penelitan adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan crosssectional. Penelitian dilakukan tanggal 1-12 juli 2021 dengan jumlah populasi 75 dan sampel 75 orang menggunakan tehnik total sampling. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan penggunaan wadah styrofoam pada penjual makanan, pengetahuan, sikap, lingkungan dan tindakan. Dari 58 responden (77,3%) memiliki pengetahuan kurang. Dari 45 responden (60,0%) memiliki sifat positif. Sebanyak 44 responden (50,7%) memiliki lingkungan kurang. Sebanyak 50 responden (66,7%) memiliki tindakan positif, dan sebanyak 41 responden (84,0%) menggunakan wadah styrofoam. Diharapkan kepada penjual makanan tidak menggunakan wadah styrofoam sebagai kemasan makanan dan menggantinya dengan wadah yang lebih aman. Kata Kunci : Styrofoam, Pengetahuan, Sikap, Lingkungan, Tindakan
HUBUNGAN KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH TERHADAP KEJADIAN TB PARU DI UPT BLUD PUSKESMAS TAMBANG Harizon Harizon; Lira Mufti Azzahri Isnaeni; Rizki Rahmawati Lestari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 2 No. 4 (2021): Desember 2021
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v2i4.2767

Abstract

Secara global kasus baru tuberkulosis pada tahun 2018 sebesar 6,4 juta, setara dengan 64% dari insiden tuberkulosis. Tuberkulosis menjadi 10 penyebab kematian tertinggi di dunia dan kematian tuberkulosis secara global diperkirakan 1,3 juta pasien pertahun. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan kesehatan lingkungan rumah terhadap kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Tambang. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian case control. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10-17 juli 2021.  Adapun populasi pada penelitian ini adalah 78 orang dengan sampel kasus 32 dan kontrol 32. Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah  univariat dan bivariat. Dari hasil penelitian pada analisa univariat diperoleh bahwa paling banyak responden dengan pentilasi yang tidak memenuhi syarat sebanyak 37 (57.8%). Responden tidak memenuhi syarat pencahayaan sebanyak 36 (56.2%). Responden TB paru kasus 32 (50%) dan kontrol 32 (50%). Uji Chi Square diperoleh ada hubungan yang signifikan antara pencahayaan dan ventilasi dengan kejadian TB Paru di Desa Kualu dan Tarai Bangun Wilayah Kerja UPT BLUD Puskesmas Tambang Tahun 2021 dengan p value masing-masing 0,000 dan 0,011. Diharapkan penelitian ini menambah pengetahuan masyarakat tentang penyakit tuberkulosis paru terutama faktor kesehatan lingkungan rumah apa saja yang berhubungan cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya. Kata Kunci: Kesehatan Lingkungan Rumah, TB Paru
Determinants of Employment Social Security Participation among Informal Workers: Evidence from a Cross-Sectional Study in Riau Lira Mufti Azzahri Isnaeni; Putri Ayuni Alayyannur; Prasetyawati
Journal of Vocational, Informatics and Computer Education Vol 4, No 1 (2026): March 2026
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66053/voice.v4i1.599

Abstract

Purpose – Expanding BPJS Ketenagakerjaan coverage in Indonesia remains difficult, especially among informal workers not enrolled through mandatory employer schemes.Scholars note that both cognitive and emotional factors probably shape voluntary enrollment in social protection, but evidence linking these dimensions to employment-based insurance remains scarce. Methods – The research is a type of quantitative research with a cross-sectional design used to explore how knowledge, attitudes, and beliefs correlate with the participation of informal workers in the BPJS Employment program. A cross-sectional survey of 390 purposively sampled informal-sector participants was conducted. Trained enumerators collected data with a structured questionnaire, which was then analysed by multiple linear regression. Findings –Regression findings indicate that knowledge (B = 0.320, p < 0.001), attitude (B = 0.410, p < 0.001), and trust (B = 0.500, p < 0.001) each positively predict enrollment, with trust showing the strongest effect. The global model is significant (F = 28.350, p < 0.001), thus the three variables together account for a meaningful share of the variance. Enhancing informal workers' uptake of BPJS Ketenagakerjaan demands more than spreading facts; it also calls for cultivating supportive attitudes and building trust in the scheme's agencies Research implications – This study points to multi-faceted approaches, education, direct outreach, and reputation strengthening, that respect the unique patterns and challenges of the informal labour sector. Originality – Its approach specifically examines the determinants of informal sector workers' participation in employment social security programs in Indonesia through a comprehensive cross-sectional study design. This research makes a novel contribution by integrating sociodemographic, economic, social security literacy, and occupational risk perception variables into a single empirical analytical framework rarely explored simultaneously in the context of informal workers.