Eny Sutria
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS TINGKAT KEBAHAGIAAN PADA LANSIA PENERIMA MANFAAT DAN BUKAN PENERIMA MANFAAT PROGRAM DAY CARE SERVICE Nur Anna Rakhmadani; Eny Sutria; Muhammad Anwar Hafid
Journal of Islamic Nursing Vol 4 No 1 (2019): Journal Of Islamic Nursing
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.891 KB) | DOI: 10.24252/join.v4i1.7716

Abstract

Considering the importance of providing services for the elderly, the social institution Tresna Werdha also manages the day care service program, where this service is very helpful for the elderly who need services to create social relationships. Services provided through day care services are social services, physical services, psychosocial services, skills services, spiritual and religious services and providing economic business assistance. This service is an activity to increase productivity in order to increase income and as a place or facility for positive activities in the utilization of leisure time for the elderly.Research design is descriptive with a sample of 88 people using purposive sampling divided into two groups, namely 44 elderly people in each group. Data collection techniques using oxford happiness questionnaire sheet while the analysis used with Mann Whitney Test (alpha 0.05)Based on the results of the study, it was found that there were differences in happiness levels in elderly beneficiaries and not beneficiaries of day care service programs (p = 0,000). Elderly beneficiaries of the dominant day care service program have a high level of happiness as evidenced by the number of elderly in the category of high happiness 37 people (84.1%) compared to the elderly who did not receive the benefits of the day care service program as evidenced by the number of 26 people (59.1%) . Elders who attend their day care service get family support and services from social care institutions in the form of physical, skills, psychosocial, spiritual and religious services and can meet with peers. Keywords: Elderly Happiness, Day Care Service
HUBUNGAN TINGKAT KEMANDIRIAN DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA YANG MENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAJENG KABUPATEN GOWA Eny Sutria; Fitriani Fitriani; Muhammad Anwar Hafid

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/asjn.v3i2.33318

Abstract

Lanjut usia adalah suatu kondisi yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Kondisi hipertensi pada lanjut usia dapat mempengaruhi kemampuan kemandirian. Hipertensi pada lanjut usia dapat menyebabkan beberapa masalah pada kualitas hidup lansia, karena kualitas hidup lansia dipengaruhi oleh tingkat kemandirian. Penurunan kualitas hidup lansia hipertensi salahsatunya diakibatkan adanya hambatan-hambatan pada fungsi kesehatan fisik, psikologis, dan sosial. Sehingga jika lansia mengalami hipertensi maka akan berkurang kemandirian dan kualitas hidupnya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kemandirian dengan kualitas hidup lansia yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Bajeng Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptif Analitik Korelatif dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non Probability Sampling dengan teknik Purposive Sampling.Sampel yang diperoleh sebanyak 77 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat kemandirian, dan kualitas hidup lansia hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan 69 (89,6%) responden memiliki kualitas hidup yang tinggi dan 71 (92,2%) responden memiliki tingkat kemandirian tinggi. Dari perhitungan analisis hubungan antar variabel menggunakan spss dengan uji alternatif dari uji chi-square yaitu Kolmogorov-smirnov didapatkan hasil ada hubungan antara tingkat kemandirian dengan kualitas hidup lansia yang menderita hipertensi dengan p value 0,001<0,05. Kesimpulan dari penelitian ini, secara umum gambaran kualitas hidup lansia yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas bajeng Kabupaten Gowa berada pada kategori tinggi, dan tingkat kemandirian berada pada kategori tinggi. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat kemandirian dengan kualitas hidup lansia yang menderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Bajeng Kab. Gowa.
PENGALAMAN TENAGA MEDIS, KESEHATAN, DAN NONKESEHATAN DALAM MENERAPKAN INTERPROFESSIONAL COLLABORATION BERBASIS INTEGRASI KEISLAMAN PADA LANSIA Eny Sutria; Aidah Fitriani; Patima Patima; Nur Azizah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.713

Abstract

Lansia yang berada pada tahap akhir kehidupan mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang kompleks sehingga memerlukan pendekatan perawatan yang holistik dan terintegrasi. Interprofessional collaboration (IPC) menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan lansia, termasuk melalui integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik asuhan. Meskipun layanan terpadu telah diterapkan, implementasi IPC yang terstruktur dan kolaboratif antara tenaga kesehatan dan nonkesehatan belum sepenuhnya optimal. Tujuan Penelitian: Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman tenaga medis, kesehatan, dan nonkesehatan dalam penerapan IPC berbasis integrasi keislaman di Sentra Gau Mabaji Kab. Gowa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Partisipan berjumlah sepuluh orang yang terdiri atas tenaga medis, kesehatan dan nonkesehatan, yang terlibat langsung dalam pelayanan lansia. Pengumpulan data dilakukan melalui focus group discussion (FGD) dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi metode, sumber, peneliti, dan teori. Hasil: Ada tiga tema yang teridentifikasi: 1) pentingnya pemeriksaan kapasitas fisik sebagai dasar kebutuhan intervensi pada lansia, 2) kolaborasi interprofesional melalui kejelasan peran dan fungsi dalam pelayanan lansia, dan 3) penerapan IPC berbasis intervensi spiritual dan motivasi. Diskusi: Pentingnya pemahaman oleh masing-masing profesi tentang praktik kolaborasi berdasarkan tugas dan fungsinya menjadi kunci keberhasilan penerapan IPC serta intervensi spiritual dan motivasi akan memberikan perasaan bermakna bagi diri lansia. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model IPC berbasis integrasi keislaman berkontribusi positif dalam mewujudkan pelayanan lansia yang holistik, bermakna, dan berpusat pada kebutuhan lansia. Penguatan kebijakan, pelatihan kolaboratif, dan sistem dokumentasi terintegrasi diperlukan untuk mengoptimalkan praktik IPC pada pelayanan lansia.Kata Kunci: integrasi, interprofessional kolaborasi, lansia, spiritual Experiences of Medical, Health, and Non-Health Personnel in Implementing Islamic Integration–Based Interprofessional Collaboration for Older AdultsABSTRACTOlder adults in the late stage of life experience complex physical, psychological, social, and spiritual changes that require a holistic and integrated approach to care. Interprofessional Collaboration (IPC) has become an important strategy to improve the quality of elderly care, including the integration of Islamic values in care practices. Although integrated services have been implemented, the structured and collaborative implementation of IPC among medical, health, and non-health personnel has not yet been fully optimized. Objective: This study explores the experiences of medical, health, and non-health personnel in implementing Islamic integration–based IPC at Sentra Gau Mabaji, Gowa Regency. Methods: This study used a qualitative approach with a phenomenological design. Ten participants were involved, consisting of medical, health, and non-health personnel who were directly engaged in elderly care services. Data were collected through Focus Group Discussions (FGDs) and analyzed using the Colaizzi method. Data credibility was maintained through triangulation of methods, sources, researchers, and theories. Results: Three main themes emerged from the analysis: (1) the importance of assessing physical capacity as the basis for determining intervention needs in older adults; (2) interprofessional collaboration through clear roles and responsibilities in elderly care services; and (3) the implementation of IPC through spiritual and motivational interventions. Discussion: A clear understanding among each profession regarding collaborative practice based on their respective roles and responsibilities is a key factor in the successful implementation of IPC. In addition, spiritual and motivational interventions provide older adults with a sense of meaning and psychological support. Conclusion: The findings indicate that the implementation of an Islamic integration–based IPC model contributes positively to the delivery of holistic, meaningful, and patient-centered care for older adults. Strengthening policies, collaborative training, and integrated documentation systems are necessary to optimize IPC practices in elderly care services.Keywords: integration, interprofessional collaboration, older adults, spiritual