Diyono Diyono
Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Metode Penilaian Kematangan Infrastruktur Informasi Geospasial Pemerintah Daerah di Indonesia Menggunakan Capability Maturity Model Integration (CMMI) dan Geospatial Maturity Assessment Ordnance Survey (GMA OS) Asyfi'na Shofiyal Izza; Diyono Diyono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 6, No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.82534

Abstract

Penilaian kematangan Infrastruktur Informasi Geospasial (IIG) dilakukan untuk mengetahui tingkat efektivitas pengelolaan Informasi Geospasial (IG). Saat ini penilaian IIG pemerintah daerah di Indonesia masih pada penilaian performa IIG yang tertuang dalam Sistem Informasi Monitoring Simpul Jaringan IG Nasional (SIMOJANG) pada laman https://simojang.big.go.id/dashboard. Metode penilaian kematangan IIG penelitian ini dilakukan dengan mengadopsi penilaian Capability Maturity Model Integration (CMMI) dan Geospatial Maturity Assessment Ordnance Survey (GMA OS). Perhitungan kematangan IIG dilakukan dengan mendefinisikan kriteria penilaian performa IIG dari SIMOJANG terhadap komponen penilaian CMMI dan GMA OS. Perhitungan kematangan diuji coba pada salah satu data daerah di Indonesia yang berasal dari perhitungan SIMOJANG dengan nilai performa sebesar 90,75%. Hasil penilaian CMMI dengan menggunakan 6 komponen memperoleh nilai total Process Area (PA) 16,893 dari total maksimal 18. Berdasarkan perhitungan, maka nilai kematangan IIG hasil menggunakan CMMI sebesar 93,85%. Sedangkan perhitungan kematangan GMA OS dengan 16 komponen, hasil tingkat kematangan kategori Sangat Matang sebesar 62,50% dan hasil Relatif Matang sebesar 37,50%, apabila nilai tersebut diberikan bobot masing-masing 1,0 dan 0,5 maka diperoleh nilai kematangan IIG GMA OS sebesar 81,25%.
ANALISIS POLA SPASIAL KEJAHATAN JALANAN: PENGARUH APJ DAN CCTV DI PROVINSI DIY Affina Dyan Setyawati; Diyono Diyono
Jurnal Geosaintek Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v12i2.6545

Abstract

Kejahatan jalanan, termasuk fenomena "klithih" di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merupakan isu krusial yang mengancam keamanan masyarakat. Penelitian ini menganalisis pola spasial kejahatan jalanan (2018-2023), hubungannya dengan faktor sosiodemografi, serta pengaruh ketersediaan Alat Penerangan Jalan (APJ) dan Closed Circuit Television (CCTV). Metode yang digunakan meliputi agregasi temporal, time clustering, dan analisis pergerakan untuk pola spasial. Analisis korelasi (Pearson Product Moment, Moran's I lokal) dan regresi spasial (Geographically Weighted Regression/GWR, Spatial Lag Model/SLM) diterapkan untuk menguji pengaruh variabel sosiodemografi, APJ, dan CCTV. Hasil menunjukkan bahwa kejahatan jalanan membentuk pola clustering spasial signifikan di jaringan jalan, dengan intensitas tertinggi antara pukul 22:00 hingga 05:00 WIB dan pergerakan dominan ke timur laut (NE) DIY. Pola sebaran kejadian pada jaringan jalan terklasifikasi sebagai clustered, radial, dan linear. Korelasi dengan faktor sosiodemografi umumnya lemah, sejalan dengan fakta bahwa hanya 31,15% kasus yang melibatkan pelaku lokal sehingga karakteristik wilayah asal kejadian tidak selalu relevan. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa persentase pendidikan tinggi dan luas wilayah berasosiasi signifikan dengan variasi kejadian. Penelitian ini menegaskan bahwa APJ dan CCTV memiliki hubungan spasial signifikan dengan kejahatan jalanan. Model SLM menunjukkan keduanya berhubungan positif dengan jumlah kejadian per grid, dengan kekuatan model (R2) sebesar 0,2358 untuk APJ dan 0,1981 untuk CCTV.