Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

CERITA ANAK: ANTARA “GIZI” DAN “RACUN” DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER ANAK Umar Sidik
Kadera Bahasa Vol 9, No 1 (2017): Kadera Bahasa
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3712.574 KB) | DOI: 10.47541/kaba.v9i1.5

Abstract

This paper describes “nutritious” and “poisonous” stories due to developing characters of children to maturity. Thisstudy used pragmatic approach. Data sampling was used by purposive sampling, while the data gathering was used byreading and recording. Analysis was conducted by understanding, interpretation, and meaning, and then presented indescription. The result show that children stories are able to be “nutrition/protein” when they contain personal andeducational values for children, like teaching about patient, struggle, effort, care, obedience, pious, and so on. On thecontrary, the stories are able to be “poison/disease” when they contain vengeance, malice, emotion, tricky, laziness, andso on. AbstrakTulisan ini mendeskripsikan cerita yang “bergizi” dan cerita yang dapat menjadi “racun” bagi usiaperkembangan anak menuju kedewasaannya. Kajian dalam tulisan ini menggunakan pendekatanpragmatik. Sampel data dilakukan dengan teknik purposive sampling, sedangkan pengumpulan datadengan cara membaca dan mencatat sesuai dengan tujuan pengkajian. Penganalisisan dilakukan denganpemahaman, interpretasi, dan pemaknaan, kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi. Hasil yangdiperoleh menunjukkan bahwa cerita anak dapat menjadi “gizi/protein” manakala mengandung nilaipersonal dan nilai edukatif bagi anak, misalnya mengajarkan kesabaran, keuletan, kegigihan, kepedulian,kepatuhan, kesalehan, dan sejenisnya. Namun, cerita akan menjadi “racun/penyakit” manakala memuatpenanaman sifat dendam, kedengkian, emosional, kelicikan, kemalasan, dan sejenisnya.
PENILAIAN KEMAMPUAN BERSASTRA DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Umar Sidik
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.28 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.10

Abstract

Tulisan ini menjawab pertanyaan mengapa penilaian pembelajaran sastra dalam PAUD perlu dilakukan. Bagaimana teknik dan prosedur penilaian yang dapat dilakukan oleh guru dan atau orang tua. Pembahasan dilakukan dengan teknik mengurai, membandingkan (diskusi dan argumentasi), dan menyimpulkan ke dalam hal yang terkait dengan permasalahan penilaian terhadap kemampuan bersastra dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kemampuan bersastra anak terkait dengan perkembangan kognitif, afektif, kepribadian, keindahan, dan bahasa yang dimilki oleh anak. Teknik penilaian dapat dilakukan dengan merekam berbagai kejadian alami dan otentik yang dituangkan ke dalam berbagai perangkat, seperti catatan kejadian khusus (anecdotal record), catatan berkesinambungan (running record), catatan rinci berdasarkan waktu (time sampling record), event sampling recor, rating scale, daftar cek (check list). Kata kunci: penilaian, sastra anak, PAUDAbstractThis writing responded to the question on why literary teaching valuing in PAUD was needed tobe performed. How the eichnique and procedure of valuing that could be performed by teacher or students' parents. The discussion was performed by description, comparison (discussion and argumentation) and resuming technique into the associated things to the valuing problems to the literary capability in children education of Pre School Age (PALID). The result shows that the literary capability of children is dealing with children-'s cognitve, affective, personality, beauty and language development. Valuing technique could be performed by recording any natural and authentic occurrencis that was applied to various equipments like anecdotal record, running record, time sampling record, event sampling record, rating scale and check list. Key word: valuing, literary children, pre school age (PAUD)
TRANFORMASI KISAH ASHABUL KAHFI DALAM AHLUL KAHFI KARYA TAUFIQ AL-HAKIM (TRANSFORMATION STORY "ASHABUL KAHFI" IN AHLUL KAHFI BY TAUFIQ AL-HAKIM) Umar Sidik
Widyaparwa Vol 44, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.317 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v44i2.133

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bagaimana resepsi pengarang dalam menempatkan kisah Ashabul Kahfi dalam karyanya yang berjudul Ahlul Kahfi; dan (2) menemukan hubungan interteks antara naskah drama dan teks Alquran serta tafsirnya sebagai hipogram.Pendekatan yang digunakan dalam pengkajian ini ialah resepsi/transformasi.Teknik analisis dilakukan dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks drama Ahlul Kahfi dan Alquran sebagai hipogram. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini bahwa naskah drama Ahlul Kahfi merupakan penyerapan, penyalinan, enovasi, dan transformasi dari Alquran.Terdapat jalinan yang erat antara kisah Ashabul Kahfi dan Ahlul Kahfi sebagaihasil karya inovasi dan transformasi.Drama Ahlul Kahfi muncul karena adanya kisah Ashabul Kahfi. This paper aims to (1) describe how the reception of the author in involving the story of Ahlul Kahfi in his work entitled Ashabul Kahfi; and (2) find the intertextual relationship between the playwright and the Quran text and its interpretation as hipogram. The approach used in this study was reception/transformation. The analysis was conducted by comparing, aligning, and contrasting the drama text, Ahlul Kahfi and the Quran as hipogram. The results shows that the playwright, Ahlul Kahfi is the absorption, copying, enovation, and transformation from the Quran. There is a close relation between the story of Ashabul Kahfi and Ahlul Kahfi as the work of innovation and transformation. Ahlul Kahfi arise drama appearance was initiated by the story of Ashabul Kahfi.
CERITA BERGAMBAR UNTUK PAUD ITK (KAJIAN TERHADAP TERNA, PESAN MORAL, DAN KESESUAIANNYA DENGAN USIA PERKEMBANGAN ANAK) Umar Sidik
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3998.845 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.47

Abstract

Fokus penelitian ini ialah persoalan tema dan pesan moral yang terdapat dalam cerita bergambar (cergam) untuk PAUD/TK serta kesesuaiannya dengan perkembangan anak usia dini/TK. Tujuan penelitiannya ialah untuk mediskripsikan tema-tema dan pesan moral yang terdapat dalam cegam serta kesesuaiannya dengan perkembangan anak usia dini/TK. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik. Data ditentukan berdasarkan teknik purpossioe sarnpling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema dan pesan moral dalam cergam dapat dikelompokkan menjadi 7 macam, yaitu (1) kepercayaan dan pengamalan terhadap ajaran agama, (2) berperilaku, beretika baik, atau berakhlak baik (mulia), (3) pelestarian/pemeliharaan lingkungan hidup (flora, fauna), (4) bertanggung jawab, bekerja keras, dan kreatif, (5) kepedulian sosial, (6) menjaga kebersihary ketertiban, dan kesehatan, (7) menaati nasihat orang tua, guru, dan aturan yang berlaku. Tidak seluruh tema dan pesan moral yang terdapat dalam cergam sesuai dengan tingkatan usia perkembangan anak usia dini/TK. Pada cergam yang bertemakan keagamaan banyak tema dan pesan moral yang kurang sesuai dengan tahapan perkembangan anak usia dini/TK. Focus of this research is theme and moral value of picture story for PAUD/Kindergarten and its appropriateness with preschool children age/kindergarten. The aim of the research is to describe themes and moral teaching in pictures story and its appropriateness to the growth of preschool children/kindergarten. This research was conducted using pragmatic approach. Data was collected using purposive sampling. The result shows that themes and moral teaching could be classified into 7 kinds, (1) belief and application to the religious teaching, (2) good in attitude, ethic, or characters, (3) preservation/maintenance of natural life (flora, fauna), (4) responsible, hard worker, and creative, (5) social care, (6) keep on clean, orderly, and health, (7) obey to parents, teachers, and rules. The themes and moral teaching are not entirely suitable for children growth in preschool/kindergarten. ln pictures stories with religious theme, there appeared impropriate themes and moral teachings for children in preschool/kindergarten age.
IDEOLOGI CERITA SANG KANCIL DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Umar Sidik
Widyaparwa Vol 41, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2911.989 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i2.75

Abstract

Tujuan penelitian ini mendiskripsikan ideology dan wahan pengasuhannya, yang terdapat dalam dongeng Sang Kancil. Selain itu, penelitian ini untuk mengungkap implikasi ideology Sang Kancil dalam pendidikan anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa dongeng Sang Kancil menebarkan ideologi kelicikan (tipu muslihat). Ideologi itu diejawantahkan secara terbuka dan melekat pada tokohnya, yaitu Sang Kancil. Jika cerita ini diberikan kepada anak usia dini, sama artinya dengan proses merusak kepribadian anak menuju kedewasaannya. The aim of this research is to describe ideology and fostering mode in dongeng Sang Kancil. This research also reveals ideology implication of Sang Kancil in preschool education. Pragmatic approach is used in this research and the result shows that dongeng Sang Kancil teaches tricky ideology. The idology is manifested widely and attaches on Sang Kancil character. If the story is delivered to preschool students, it means contributing to damage children character development.