Yulinda Rosa
Pusat Litbang Permukiman Badan Litbang PU Jl. Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Jurnal Permukiman

Metode Analisis Diskriminan dalam Mengenali Karakteristik Penghunian Rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 17 No 1 (2022)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2022.17.28-40

Abstract

Kebutuhan perumahan masyarakat merupakan sesuatu yang akan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan ekonomi (lama bekerja, perkembangan kedudukan jabatan, peningkatan pendidikan dan lain-lain) serta perkembangan kehidupan sosial (berkaitan dengan siklus hidup, pola pikir). Perencanaan program penyediaan perumahan perlu mengakomodir kondisi tersebut. Tujuan dari penyusunan tulisan ini dalam rangka mengenal atau mengetahui karakteristik MBR untuk beberapa alternatif status tinggal suatu keluarga dalam suatu rumah, sesuai dengan perkembangan sosial dan ekonominya, dengan mengambil studi kasus di Kota Daerah Istimewa Yogyakarta, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis diskriminan. Metode multystage sampling (sampling bertahap) digunakan untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini, mengambil resiko kesalahan kurang dari 1%, ditentukan jumlah sampel sebesar 600 kepala keluarga dari 131.092 Kepala Keluarga (KK) di Kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode analisis deskriptif dan analisis diskriminan. Persamaan fungsi diskriminan yang dibentuk dengan klasifikasi status tinggal tiga (3) klaster sangat memperbaiki (lebih layak) persamaan fungsi diskriminan lima (5) klaster memperlihatkan adanya kenaikan cukup signifikan untuk ketepatan penaksiran pengelompokkan objek ke dalam klaster status tinggal: 1) Kenaikan sebesar 35,5% untuk status tinggal dengan orang tua; 2) Kenaikan sebesar 24,4 % untuk status tinggal sewa/kontrak; 3) Kenaikan sebesar 29 % untuk status tinggal milik.
Studi Pemetaan Sistematis Karir Perumahan Studi Kasus: Kota Yogyakarta Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 19 No 2 (2024)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2024.19.85-97

Abstract

The highest proportion of family spending. Efficiency in the provision of housing needs to be done through the provision of the right place to live, at the right time, and with the right people, so that there are no vacancies in the house, one of which is through the application of the Housing Career concept. The housing backlog is currently increasing, and although several housing subsidy programs have been implemented, one of the problems is the mismatch between dynamic housing demand and the current static housing supply. The purpose of this article is to identify, classify, and perform thematic analysis of the current literature to create an understanding of residential careers. The systematic mapping study (SMS) method is used to review research that has been published from time to time. By using this method the fokus, locus, type of research, relying on the Scopus electronic database mapping. Furthermore, an overview of housing careers in Indonesia is given based on city-scale sampling data.
Kebutuhan Tipe Hunian Berdasarkan Umur Dan Status Kepala Keluarga Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.88-99

Abstract

The availability of tendency information was selected by the type of dwelling households based on increasing age and sosial status, economic and cultural families, better known by dwelling type propensities very helpful to solve the problem of housing. Getting an idea of dwelling type propensities in Indonesia, conducted a case study in Depok, Cirebon and Pekanbaru with the technique of taking multistage sampling was taken in 1200 families, used a software program excel and Statistical Package Special Sciences (SPSS) to analyzes all faktors, regression analysis and descriptive analysis. The career of housing in all three samples of the city's most visible change in the age range ≤ 34 years, in line with the magnitude of changes in family income towards the more established and increase the number of families, accompanied by changes in the ownership of dwellings to change the size of the floor area toward larger, the highest achievement in the primary age range of 40 years of age 45 years. On average people in Depok work at the age of 22 years with an average senior high school, taking dwellings with contract status, average income of Rp. 1.3885 million, - (under MSE = Rp. 1,453,875, -). The average of  age almost 23 years began to be separated from their parents and live independently, the average income of Rp. 1.613 million, - inhabit the house with residential status contracting (0.25%) and 0.08% belongs to take the house status. The percentage of families take a house belonging to a sharp rise began when school-age children up to 55 years (69.23%) and tend to take a permanent dwelling place in  one location.
Housing Careers di Indonesia, Studi Kasus Kota Bandung Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 9 No 3 (2014)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2014.9.158-168

Abstract

Penelitian faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan perumahan (housing demand) perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah rumah terbangun yang tidak dihuni dimana dalam kondisi saat ini backlog rumah terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu faktor tersebut adalah housing careers. Housing careers adalah pergerakan seseorang untuk mendapatkan rumah, menggambarkan seseorang atau pasangan muda mulai meninggalkan rumah orang tua dan pindah menyewa rumah di tempat lain. Melalui informasi housing careers, kebutuhan rumah dapat diprediksi dari data demografi yang mudah didapat karena dikumpulkan secara rutin. Metode penelitian survei dengan teknik multy stage sampling, data yang dikumpulkan merupakan data primer, dengan menggunakan instrumen kuesioner serta diskusi atau tanya jawab langsung dengan responden. Metode analisis deskriptif dan analisis faktor digunakan dalam penelitian ini. Housing careers di Kota Bandung terdiri dari dua tahap. Tahap pertama, tahap sebelum menikah ditempuh rata-rata umur 20 sampai 23 tahun, tahapan ini menggambarkan pergerakan waktu ketika seorang memutuskan untuk bekerja, kemudian meninggalkan rumah orang tua untuk hidup mandiri, tempat tinggal yang dimiliki pada tahap ini masih dibantu orang lain belum mempunyai tempat tinggal yang mandiri. Tahap kedua, adalah tahap ketika memutuskan menikah dan mempunyai anak ditempuh pada rata-rata umur 25 tahun, dapat tinggal bersama dengan keluarga inti rata-rata umur 27 tahun dan rata-rata umur anak pertama 6 tahun, pertama kali mempunyai rumah sendiri. Kebutuhan tempat tinggal pada tahap setelah menikah adalah tempat tinggal yang lebih stabil untuk menunjang kehidupan rumah tangga. 
Peta Kondisi Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Aggraini, Fitrijani; Effendi, Rudy R; Prayudi, Tibin Ruby; Rosa, Yulinda; Paryanto, Sugeng
Jurnal Permukiman Vol 9 No 2 (2014)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2014.9.91-101

Abstract

Abstrak Untuk mencapai tujuan pembangunan millenium development goals, pemerintah harus berusaha untuk memberikan cakupan layanan sanitasi dasar nasional sebesar setengah dari seluruh penduduk Indonesia sebesar 62,41% pada tahun 2015. Hal ini memerlukan usaha dan upaya memenuhi kebutuhan akan sarana dan prasarana sanitasi seperti halnya Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja. Tingkat kesadaran pemerintah daerah dalam mengelola lumpur tinja pada umumnya masih rendah. Di antara 507 daerah kabupaten dan kota se Indonesia, baru 134 yang sudah memiliki Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), sedang sisanya masih membuang lumpur tinja ke sungai atau kebun.Penelitian ini bertujuan melakukan pemetaan kondisi teknis IPLT eksisting dengan melakukan audit, telaah, verifikasi, kajian, dan evaluasi terhadap kinerja IPLT berdasarkan standar, pedoman teknis, dan tata cara yang berlaku sehingga fungsionalisasi dan optimalisasi IPLT terbangun dapat tercapai dan terpelihara kesinambungan operasi dan pemeliharaannya.Metode yang digunakan adalah metode deskriptif komparatifyaitu mendeskripsikan hasil penelitian secara sistematis, faktual, dan akurat dari data kualitatif dan kuantitatif yang didapat dari data sekunder dan data di lapangan. Data dikaji dengan membandingkan kondisi eksisting dengan standar, pedoman, petunjuk teknis, dan teori bidang ilmu pengolahan lumpur tinja.Hasil penilaian terhadap kesesuaian pengelolaan sistem IPLT di wilayah studi menyimpulkan bahwa sebagian besar termasuk kategori cukup baik. Hanya satu kota saja dari 11 kota yang termasuk kategori baik dan dua kota termasuk kategori tidak baik sehingga sisanya sebanyak 8 kota atau setara dengan 73% wilayah studi termasuk kategori cukup baik. 
Rumusan Metode Perhitungan Backlog Rumah Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 8 No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.58-68

Abstract

Tersedianya model perhitungan kebutuhan rumah yang sudah distandarkan berlaku secara nasional di Indonesia menjadi kebutuhan cukup mendesak saat ini. Ketersediaan data perumahan saat ini sangat terbatas, selain itu untuk informasi yang sama beberapa instansi mengeluarkan data berbeda . Perumusan model kebutuhan rumah dalam tulisan ini berdasarkan konsep kebutuhan rumah (housing need) setiap rumah tangga/keluarga dianggap sama yaitu jumlah rumah sudah tersedia atau rumah tangga baru yang membutuhkan rumah layak. Metode deduktif akan digunakan melalui pengamatan tiga model perhitungan backlog yaitu : model DCA, Fordham dan Cambridge, untuk mendapatkan model yang paling sesuai di Indonesia. Penelitian ini menghasilkan rumusan Backlog = ∑ faktor penambah - ∑ faktor pengurang + ∑ faktor eksternal. Backlog adalah jumlah rumah yang belum/tidak tertangani; Faktor penambah adalah semua faktor yang berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah backlog rumah. Faktor penambah ini mencakup : 1. jumlah rumah tangga yang tidak memiliki rumah, 2. jumlah rumah tidak layak huni, 3. jumlah rumah rawan tidak layak huni, 4. jumlah bukan rumah tangga; faktor pengurang adalah semua faktor yang berpengaruh terhadap berkurangnya jumlah kebutuhan perumahan. Faktor pengurang ini mencakup : 1. jumlah rumah dibangun, 2. jumlah rumah diperbaiki karena sudah tidak layak huni, 3. jumlah rumah kosong (tidak dihuni). Faktor eksternal adalah faktor lain yang berpengaruh terhadap penyediaan kebutuhan perumahan, yaitu jumlah rumah rusak akibat bencana dan jumlah rumah rusak karena program kebijakan pemerintah.
Faktor Penentu Kebutuhan Rumah, Studi Kasus Kota Cirebon Rosa, Yulinda; Jatnika, Ratna
Jurnal Permukiman Vol 7 No 2 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.110-120

Abstract

Faktor penentu kebutuhan rumah Kota Cirebon berdasarkan analisis faktor eksploratori terdiri dari (9) sembilan faktor yaitu: 1) karir perumahan, 2) lokasi rumah, 3) usaha untuk pengadaan rumah, 4) cara mendapatkan rumah, 5) faktor pendorong keputusan menempati rumah untuk tempat tinggal, 6) harapan mendapat rumah, 7) konstruksi rumah, 8) mata pencaharian, 9) lama bermukim. Kesembilan faktor tersebut dapat menjelaskan variasi kebutuhan rumah sebesar 69,566%. Tiga faktor terbesar yang dapat menjelaskan variasi kebutuhan rumah yaitu faktor karir perumahan dapat menjelaskan sebesar 13,468%, faktor lokasi (jarak terdekat rumah dengan akses ekonomi, pendidikan, peribadatan dan kesehatan) dapat menjelaskan sebesar 10,664%, dan usaha pengadaan dana untuk rumah sebesar 10,456%. Ketiga faktor tersebut dapat menjelaskan sebesar 34,586% dari faktor kebutuhan rumah. Metoda eksploratori digunakan karena rumusan konsep faktor yang mempengaruhi kebutuhan rumah masih harus di cari terlebih dahulu. Hasil analisis di atas didapat dari data primer 480 responden yang diambil secara sampling dengan metode sampling bertingkat (multy stage sampling).
Metode Analisa Data Variabel Sosial Bidang Permukiman Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.128-139

Abstract

Pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan adalah suatu konsep pembangunan dengan mempertimbangkan tiga pilar yaitu: ekonomi, sosial dan lingkungan. Analisa sosial merupakan hal yang penting dilakukan untuk mendapatkan pembangunan perumahan dan permukiman yang berkelanjutan. Terdapat dua metode analisa data secara statistik yaitu deskriptif dan induktif. Metode analisa deskriptif merupakan tahap awal untuk melakukan analisa induktif. Hasil analisa deskriptif memberikan gambaran untuk sejumlah objek yang diteliti, tidak dapat digeneralisasi untuk kelompok yang lebih besar. Data variabel sosial bidang permukiman merupakan data kualitatif. Untuk data variabel sosial bidang permukiman yang diukur melalui kuesioner tertutup terstruktur, analisa deskriptif dilakukan dengan terlebih dahulu membuat distribusi frekwensi. Beberapa metode yang biasa digunakan  dalam pembuatan distribusi frekwensi variabel sosial, diantaranya adalah dengan menggunakan nilai skor kumulatif dari seluruh item yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut, dan metode strugle’s.    Ukuran letak dan ukuran penyebaran yang digunakan dalam analisa deskriptif data kualitatif variabel sosial bidang permukiman adalah rata-rata, modus, persentase, proporsi sebagai ukuran letak, sedangkan ukuran penyebaran diukur melalui nilai range (selisih nilai terbesar dan terkecil). Ukuran rata-rata dalam analisa data kualitatif variabel sosial bidang permukiman diwakili melalui ukuran modus. Metode analisa deskriptif  yang digunakan dalam pembahasan ini adalah melalui  pembuatan distribusi frekwensi dengan menggunakan nilai skor kumulatif seluruh item yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut.
Validitas Instrumen Ukur Variabel Sosial Bidang Permukiman Rosa, Yulinda
Jurnal Permukiman Vol 3 No 4 (2008)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2008.3.264-279

Abstract

Tingkat akurasi dan objektifitas hasil pengukuran dari suatu variabel sangat tergantung pada  tingkat validitas instrumen ukur yang digunakan untuk mengukur variabel tersebut. Dalam bidang sosial khususnya bidang permukiman, pengukuran variabel sosial dilakukan melalui pengukuran indikator-indikator yang membentuk variabel. Pengukuran validitas instrumen ukur variabel sosial bidang permukiman diukur melalui validitas  isi. Validitas isi terdiri dari validitas muka dan validitas logik.  Pengukuran validitas muka, meliputi pengukuran format penulisan, sedangkan pengukuran validitas logik dilakukan dengan mengukur  sejauhmana instrumen yang dibuat dapat menggambarkan ciri-ciri yang hendak diukur. Ciri-ciri diuraikan melalui indikator-indikator yang menyusun variabel yang hendak diukur. Metode yang digunakan untuk mengukur validitas muka  dengan mengunakan analisis rasional atau melalui professional judgment.  Sedangkan  metode yang digunakan untuk mengukur   validitas logik adalah dengan mengunakan analisis rasional atau melalui profesional judgment dan perhitungan secara statistik melalui nilai korelasi antara skor item dan skor total pada analisis item. Item dikatakan valid jika nilai-nilai thitung dari Corrected Item-Total Correlation lebih besar dari nilai r dari tabel untuk jumlah responden = n.