Nyoman Suci W
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA RED BLOOD CELL DISTRIBUTION WIDTH DAN INDEK TROMBOSIT DENGAN FUNGSI GINJAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Erwin Farida; Herniah AW; Nyoman Suci W
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Red blood cell Distribution Width (RDW) mencerminkan proses patologis mendasari stres oksidatif, inflamasi kronis dan disfungsi endotel. Peningkatan aktivitas trombosit merangsang pelepasan prothrombotik dan proinflamasi pasien DM tipe 2 (DM2) dan perubahan morfologi trombosit berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi mikrovaskuler. Nefropati diabetik merupakan komplikasi mikrovaskuler DM2 dan didefinisikan sebagai penurunan progresif laju filtrasi glomerolus (LFG).Metode: Metode penelitian belah lintang sekunder dari rekam medik bulan Januari sampai September 2017 di RSUP Dr.Kariadi, Semarang. Jumlah sampel 30 pasien. RDW, jumlah trombosit dan MPV diperiksa menggunakan Sysmex XN–1000 dan kadar ureum, kreatinin dengan alat ADVIA–1800. LFG dihitung dengan rumus Cockroft–Gault. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Terdapat korelasi negatif sedang antara RDW dan LFG (p=0,002, r=-0,533) sedangkan jumlah trombosit dan MPV tidak memiliki hubungan bermakna (p>0,05). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa meskipun mekanisme terjadinya peningkatan RDW belum sepenuhnya diketahui namun diduga berhubungan dengan stres oksidatif dalam patogenesis kerusakan fungsi ginjal pada DM2.Simpulan: Peningkatan RDW berkorelasi sedang terhadap penurunan LFG yang mencerminkan gangguan fungsi ginjal pada pasien DM2 sedangkan indek trombosit diantaranya jumlah trombosit dan MPV tidak memiliki hubungan yang signifikan. Peningkatan RDW perlu diperhatikan sebagai deteksi komplikasi kronis mikrovaskuler pada pasien DM2.
HUBUNGAN KADAR KREATININ DENGAN FORMULA HUGE (HEMATOCRIT, UREA, GENDER) PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK Innike Priyanto; Imam Budiwiyono; Nyoman Suci W
Media Medika Muda Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.769 KB)

Abstract

Latar belakang: Chronic Renal Disease (CKD) atau Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan suatu proses yang mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irreversibel. Kadar kreatinin serum sebesar 2,5mg/dl dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal. Formula HUGE (Hematocrit, Urea, Gender), dinyatakan dengan nilai L, merupakan suatu metode yang secara langsung, mudah dibaca, dan murah untuk skrining PGK, dimana formula ini berdasarkan pada hematokrit pasien, kadar ureum plasma, dan jenis kelamin.Metode: Sebuah studi cross–sectional, menggunakan rekam medik pasien yang didiagnosis dengan penyakit ginjal kronik (PGK) di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, selama bulan Agustus 2017. Karakteristik data menggunakan uji normalitas Saphiro–Wilk. Data berdistribusi normal, analisis hubungan menggunakan uji korelasi Pearson, p<0,05 dinyatakan bermakna.Hasil: Sejumlah 34 pasien, laki-laki 18 orang (52,9%) dan perempuan 16 orang (47,1%)yang didiagnosis PGK diikutkan dalam penelitian. Rerata usia pasien 51,65±5,954 tahun, rerata kadar ureum 140,911±69,68 mg/dl, kadar kreatinin 8,35 (4,70–16,80)mg/dl, rerata kadar hematokrit 27,635 ± 4,85 %, rerata nilai L 12,572 ± 8,695. Uji korelasi Pearson kadar kreatinin dengan nilai L dinyatakan bermakna (p=0,007)Simpulan: Terdapat hubungan antara kadar kreatinin serum dengan nilai L (formula HUGE). Dibutuhkan penelitian lanjutan yang dapat membedakan nilai formula HUGE pada derajat keparahan PGK.HUBUNGAN KADAR KREATININDENGAN FORMULA HUGE (HEMATOCRIT, UREA, GENDER)PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK