Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS EKSTRAK KUNYIT (Curcuma longa Linn) SEGAR DAN SIMPLISIA DENGAN VARIASI METODE EKSTRAKSI Sadwika Najmi Kautsari; Edy Djauhari Purwakusumah; Waras Nurcholis
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.576 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1403

Abstract

Turmeric is a rhizome plant used as traditional Indonesian medicine. Generally, the extraction process influences the efficacy of turmeric in curing a disease. This study compares the thin layer chromatography profile (TLC) of turmeric extract based on variations in the extraction method. The extraction process was carried out using 70% ethanol solvent in fresh rhizomes and turmeric simplicia. The study used maceration, sonication, and microwave assistance techniques. The thin layer chromatography profiles were analyzed using curcuminoid standards in visible and UV light visualization (254 and 366 nm). The results showed higher yields in the fresh turmeric extracts through maceration extraction, sonication, and microwave-assisted techniques, respectively. The thin layer chromatography pattern using eluent chloroform dichloromethane (32.5: 67.5 v / v) showed the extract was separated into 3 - 4 compounds, with different curcuminoid thicknesses in each treatment. The thin layer chromatography profile with the highest quality of curcuminoid content was found successively in sonication simplicia,  maceration, and microwave simplicia extracts, as well as sonication fresh turmeric extract, maceration, and microwaves. The high yield of turmeric extract does not indicate an increase in the quality of the curcuminoid levels produced.Keywords: Turmeric, Thin Layer Chromatography, curcuminoids, extraction modificationKunyit merupakan tanaman rhizoma yang telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Indonesia. Khasiat kunyit dalam menyembuhkan suatu penyakit dipengaruhi oleh proses ekstraksinya. Penelitian ini bertujuan membandingkan profil kromatografi lapis tipis (KLT) ekstrak kunyit berdasarkan variasi metode ekstraksi. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut etanol 70% pada rimpang segar dan simplisia kunyit. Teknik ekstraksi yang dilakukan adalah secara maserasi, sonikasi dan bantuan gelombang mikro. Profil kromatografi lapis tipis dianalisis dengan menggunakan standar kurkuminoid pada visualisasi sinar tampak serta UV  (254 dan 366 nm). Hasil penelitian menunjukkan rendemen yang lebih tinggi terdapat pada jenis ekstrak kunyit segar daripada simplisianya, secara berturut-turut melalui teknik ekstraksi maserasi, sonikasi, dan bantuan gelombang mikro. Pola kromatografi lapis tipis ekstrak dengan menggunakan eluen kloroform:diklorometan (32,5:67,5 v/v) menunjukkan bahwa ekstrak terpisah menjadi 3 - 4 senyawa, dengan  ketebalan kurkuminoid yang berbeda pada masing-masing perlakuan ekstraksi. Profil kromatografi lapis tipis dengan kualitas kadar kurkuminoid tertinggi terdapat pada ekstrak simplisia secara sonikasi, disusul dengan ekstrak simplisia secara maserasi dan gelombang mikro, serta ekstrak kunyit segar secara sonikasi, maserasi, dan gelombang mikro. Rendemen yang tinggi dari ekstrak kunyit tidak mengindikasikan kualitas kadar kurkuminoid yang dihasilkan semakin baik.Kata kunci: Kunyit, Kromatografi Lapis Tipis, kurkuminoid, modifikasi ekstraksi
Kadar Total Fenol dan Flavonoid Ekstrak Temu Kunci (Boesenbergia pandurata) Melalui Metode Ekstraksi Microwave Sadwika Najmi Kautsari; Aji Humaedi; Dian Rachma Wijayanti; Muhammad Safaat
ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 17, No 1 (2021): March
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/alchemy.17.1.46497.96-104

Abstract

Temu kunci (Boesenbergia pandurata) merupakan tanaman yang memiliki kandungan flavonoid dan fenol serta banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Namun, hingga kini temu kunci belum pernah diekstraksi dengan metode ekstraksi menggunakan microwave. Ekstraksi dengan menggunakan microwave memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan pada temu kunci sehingga dapat dihasilkan ekstrak temu kunci yang memiliki kadar total fenol dan flavonoid yang tinggi dengan waktu ekstraksi yang lebih sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar total fenol dan flavonoid ekstrak temu kunci yang diekstraksi dengan menggunakan microwave pada berbagai variasi waktu. Pembuatan ekstrak temu kunci dilakukan dengan meradiasi temu kunci dalam campuran etanol 70% pada tipe pemanasan Low selama 15 menit yang dibandingkan dengan tipe pemanasan Medium selama 3, 5, 7, 9, dan 12 menit. Berdasarkan penelitian, rendemen yang dihasilkan berkisar antara 5,91% - 9,7%. Kadar total fenol yang dihasilkan berkisar antara 6,69% - 9,18%, sedangkan kadar flavonoid berkisar antara 13,46% - 21,41%. Rendemen ekstrak temu kunci semakin meningkat dengan waktu ekstraksi yang lebih lama dan suhu yang lebih tinggi. Kadar total fenol dan flavonoid tertinggi adalah pada tipe pemanasan Medium selama 7 menit pada suhu 57 ℃.Total Phenol and Flavonoid Content of Fingerroot (Boesenbergia pandurata) by Microwave Assisted Extraction. Fingerroot (Boesenbergia pandurata) is a plant that contains flavonoids and phenols. It is often used as traditional medicine. However, fingerroot has never been extracted using a microwave-assisted extraction method. In fact, extraction using microwave has good potential to be developed so that the fingerroot extracts can be produced which have high levels of total phenols and flavonoids with less extraction time. Therefore, this study aims to determine the total phenol and flavonoids extracted by microwave at various times. The preparation of fingerroot extract was carried out by irradiated fingerroot in 70% ethanol mixture on Low heating type for 15 minutes, compared to Medium heating type for 3, 5, 7, 9, and 12 minutes. Based on the research, the yield produced ranged from 5.91% - 9.7%. The total phenol content produced ranged from 6.69% - 9.18%, while the levels of flavonoids ranged from 13.46% - 21.41%. The yield of fingerroot extract increased with longer extraction time and higher temperature. The highest total phenol and flavonoid levels were the Medium heating type for 7 minutes at 57 ℃.