. Rudi S. Suyono
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGGUNAAN METODE PROSES HIRARKI ANALITIK DALAM PENENTUAN LOKASI DERMAGA BONGKAR MUAT ANGKUTAN SUNGAI (STUDI KASUS: KOTA PONTIANAK) Rudi S. Suyono, .
Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 10 No 2 Des - 2010
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.08 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v10i2.242

Abstract

Sungai merupakan salah satu prasarana yang telah tersedia untuk kebutuhan transportasi secara alami. Pulau Kalimantan adalah merupakan satu wilayah yang mempunyai prasarana sungai yang panjang dan lebar sebagai anugerah Tuhan dimana prasarana itu banyak dipakai oleh masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari menurut kepentingannya masing-masing. Sungai-sungai di Kalimantan ini merupakan sarana transportasi yang cukup penting bagi masyarakat disamping angkutan darat, baik untuk daerah perkotaan maupun antar daerah. Menginggat banyaknya dermaga barang yang ada di Kalimantan Barat maka diperlukan adanya suatu studi/analisa untuk memilih beberapa dermaga yang optimal sehingga pembangunan/peningkatan dermaga dapat dilakukan pada dermaga yang tepat. Pada analisa ini dipilih Dermaga Kapuas Indah, Dermaga Seng Hei dan Dermaga Induk Sungai Raya sebagai studi kasus. Analisa untuk pengambilan keputusan digunakan Proses Hirarki Analitik, yaitu suatu model yang mampu mengakomodir seluruh permasalahan dalam pengambilan keputusan untuk memilih satu dermaga yang optimal dari beberapa dermaga. Pada studi ini, kriteria yang menjadi pertimbangan adalah kriteria teknis dan operasional. Dari hasil analisa diperoleh untuk kriteria teknis, dermaga yang paling optimal adalah Dermaga Induk Sungai Raya dengan prosentase 36,5%. Untuk kriteria operasional, dermaga yang paling optimal adalah Dermaga Kapuas Indah dengan prosentase 48%.
PENGGUNAAN METODE PROSES HIRARKI ANALITIK (PHA) DALAM PEMILIHAN LOKASI UNTUK RELOKASI BANDARA RAHADI OESMAN KETAPANG KALIMANTAN BARAT Rudi S. Suyono, .
Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 10 No 1 Juni - 2010
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtsft.v10i1.216

Abstract

Kabupaten Ketapang has an airport that named the Rahadi Oesman Airport. This airport owning location situation which less profit for the development of service activities of air transportation in the future because its location residing in midst of Kabupaten Ketapang and also located reside in the nearby resident settlement. This condition generates the serious problem like noise resulted from aircraft sound whether in its takeoff or landing position that can endanger the resident near the airport location. Therefore it is required to be conducted a study to chosen the other; dissimilar location for the relocation of the airport. This study identify the criterion used in choosing the optimal airport location pursuant to technical aspect, aspect of operational and safety operate for the air transport environmental aspect and. In this study is selected three alternative locations that planned the new airport location, the locations are Desa Tempurukan, Desa Suka Bangun, and Desa Pesaguan. The survey conducted with the respondent amount as much 200 people. Analyze for the decision making of to use the method Process The Analytic Hierarchy (PHA), that is an model capable to coordinate entire problem of decision making to chosen one most optimal location. This assessment done by comparing a number of combinations from element exists in each hierarchy level. Assessment conducted by comparing component of pursuant to assessment scale. From result analyst obtained by pursuant to obtained technical criterion of most optimal alternative location is Desa Tempurukan with the percentage is equal to 35%, Desa Suka Bangun equal to 34% and Desa Pesagunan equal to 30%. Pursuant to criterion of operational and safety operate for the air transport obtained a most optimal alternative location is Desa Tempurukan with the percentage equal to 42%, Desa Suka Bangun equal to 38% and Desa Pesaguan equal to 20%. While pursuant to obtained environmental criterion of most optimal alternative location is Desa Tempurukan with the percentage equal to 58%, Desa Pesaguan equal to 25% and Desa Suka Bangun equal to 17%. So that the conclusion from the result got one most optimal new Ketapang Airport location is Desa Tempurukan.
ANALISIS PEMILIHAN RUTE DALAM KAJIAN KEBUTUHAN PERGERAKAN PADA RENCANA PEMBANGUNAN RUAS JALAN SEMITAU – NANGA BADAU KABUPATEN KAPUAS HULU Rudi S. Suyono, .
Jurnal Teknik Sipil Vol 9, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 9 No 1 Juni - 2009
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.885 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v9i1.287

Abstract

Pembukaan gerbang pergerakan antarnegara di Kecamatan Nanga Badau Kabupaten Kapuas Hulu diharapkan  mampu  memberikan  implikasi  peningkatan  nilai  perdagangan  dan  hubungan  timbale balik  yang  saling  menguntungkan di antara  kedua negara  yang pada akhirnya diharapkan  mampu meningkatkan  taraf  hidup  dan  kesejahteraan  bagi  seluruh  masyarakat.  Namun  demikian,  jarak tempuh  yang  cukup  jauh  saat  ini  mengakibatkan  waktu  tempuh  perjalanan  dan  biaya  yang dibutuhkan  cukup  besar.  Untuk  itu,  direncanakan  membangun  jalur  alternatif  yang  dapat memperpendek jarak dan mempersingkat waktu perjalanan yaitu melalui rute Sintang – Semitau – Badau. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola perubahan pergerakan pengendara terhadap perubahan  rute  perjalanan  terutama  pada  rute  alternatif dibandingkan  rute  yang  lama. Berkenaan dengan  hal  tersebut  maka  pada  analisis ini dibuat  dua  skenario  dasar. Pertama, Skenario  I  (Do Nothing),  yaitu  memperikarakan  pergerakan  kendaraan  bilamana  tidak  dilakukan  pembangunan proyek  jalan  atau  jembatan  dimaksud.  Artinya, pada  skenario  ini  digunakan  kondisi  eksisting. Kedua,  Skenario  II  (Do Something),  yaitu  memperkirakan  pergerakan  kendaraan  bilamana dilakukan pembangunan proyek jalan atau jembatan tersebut. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan,  pada  skenario  Do  Something,  terjadi  peningkatan  pergerakan  kendaraan  yang  cukup besar yaitu dari 34 smp/hari menjadi 113 smp/hari atau sebesar lebih dari 300%. Ini terjadi karena pengendara  lebih  memilih  perjalanan  dengan  jarak  yang  lebih  pendek  dan  waktu  yang  lebih singkat.