Kayu yang berasal dari hutan atau lahan masyarakat pada umumnya berkualitas rendah. Oleh karena itu diperlukan aplikasi teknologi tepat guna dan ramah lingkungan agar kayu tersebut dapat diandalkan sebagai bahan bangunan yang baik dan tahan lama tanpa menimbulkan dampak lingkungan yang merugikan. Sehubungan dengan itu maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keawetan kayu setelah diberi perlakuan pemanasan dalam minyak serta mengetahui pengaruh proses pemanasan tersebut terhadap sifat fisis dan sifat mekanis kayu. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu kecapi (Sandoricum koetjape Merr) dan kayu rambutan (Nephelium spp). Pemanasan kayu dilakukan dalam limbah minyak goreng yang sudah disaring pada suhu 100 °C, 150 °C, dan 180 °C dalam waktu satu dan dua jam. Selanjutnya keawetan kayu tersebut diuji dengan metode graveyard test (ASTM D 1758-96). Sifat fisis (penambahan berat dan kerapatan) serta sifat mekanis (MOR dan MOE) kayu juga diuji berdasarkan ASTM D 143. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanasan 100 oC selama satu jam baik untuk meningkatkan keawetan kayu kecapi dan Rambutan dari rayap tanah. Pemanasan minyak 180 °C satu jam juga menghasilkan sedikit peningkatan keawetan kayu kecapi lebih tinggi dari hasil pemanasan 100 °C. Pemanasan kayu dalam minyak juga meningkatkan secara nyata berat dan kerapatan kedua jenis kayu, sedangkan sifat mekanisnya secara umum tidak terpengaruh nyata terutama pada pemanasan yang tidak lebih dari 100 °C.