Mustafa Hanafi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. DR. Junjunan No. 236, Telp. 022 603 2020, 603 2201, Faksimile 022 601 7887, Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRUKTUR GEOLOGI DI PERAIRAN PASANG KAYU, SULAWESI BARAT Mustafa Hanafi; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 8, No 3 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.417 KB) | DOI: 10.32693/jgk.8.3.2010.192

Abstract

Daerah penelitian dicirikan oleh morfologi dasar laut yang terjal dan bergelombang dengan kedalaman bervariasi dari 40 meter di bagian timur hingga 2150 meter di bagian utara. Berdasarkan data rekaman seismik pantul dapat diidentifikasi adanya struktur geologi berupa sesar, lipatan, dan diapir. Kenampakan struktur-struktur tersebut ditandai dengan adanya lapisan yang patah, bergelombang, dan bentuk kubah. Sesar umumnya berarah timurlaut-baratdaya, dimana perkembangannya diduga sangat dipengaruhi tektonik regional terutama sesar utama Palu-Koro yang ada di daratan Pulau Sulawesi dan menerus ke laut sekitar lokasi penelitian. Kata kunci: morfologi, struktur geologi, sesar Palu-Koro, Pasangkayu The study area is characterized by the steep sea floor morphology with the depth from 40 metres in the east to 2150 metres in the north. On the basis of reflection seismic records, the geological structures such as faults, folds, and diapirs can be recognized. The appearance of such structures is signed by the faulted, wavy and domed layers. The faults in general have NE –SW direction, where it development possibly influenced by the regional Palu-Koro Fault present in Sulawesi island that continue to the study area. Keywords: morphology, geological structures, Palu –Koro Fault, Pasangkayu
PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN DI PELABUHAN PULAU BAAI BENGKULU Lukman Arifin; Juniar P. Hutagaol; Mustafa Hanafi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.391 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.101

Abstract

Alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu selalu mengalami pendangkalan. Untuk mengetahui penyebab pendangkalan tersebut maka akan diberikan beberapa informasi hasil kajian geofisika kelautan dari beberapa metoda. Metoda tersebut terdiri dari pengukuran kedalaman laut, pengukuran arus dan pasang surut. Hasil pengukuran kedalaman laut memperlihatkan bahwa kedalaman yang paling dalam di bagian kolam pelabuhan adalah sekitar 12 meter dan yang terdalam di daerah alur juga 12 meter. Pengukuran arus laut memperlihatkan bahwa kecepatan arus pada saat pasang tertinggi lebih tinggi daripada kecepatan arus pada saat surut terendah. Pengendapan lebih besar terjadi pada saat air pasang, apalagi ditambah dengan adanya arus sepanjang pantai yang membawa sedimen ke arah alur. Tipe pasang surut laut di pelabuhan ini adalah tipe campuran ganda, artinya pasang dan surut akan terjadi sekali atau dua kali dalam sehari. Adapun perbedaan tinggi muka air pada saat air pasang dan saat air surut adalah 1,53 meter. Shoaling always occurs in the sailing channel of Pulau Baai Bengkulu Harbour. To know the reason of the shoaling, some information based on the result, of the analysis of several methods of marine geophysical survey are therefore presented. The methods are echo-sounding, sea current and tide measurement. Result of sounding shows that the deepest depth in the lagoon area is around 12 metres and the depth in the channel area is also 12 metres. Result of sea current measurement shows that current velocity during the spring tide is higher than the velocity during the neap tide. Sedimentation is higher in the spring tide, moreover it is increased by the existence of long shore current which transport the sediments into the channel. The type of the sea tide in the harbour is a mixed semi diurnal type which means that the spring and the neap will occur once or twice a day. The height of sea water level difference between spring tide and neap tide season is 1.53 metres.