This Author published in this journals
All Journal Al-Qalam
Muhammad Sadli Mustafa
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

POTRET KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI KABUPATEN MAMASA Muhammad Sadli Mustafa
Al-Qalam Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.434 KB) | DOI: 10.31969/alq.v20i1.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan mendeskripsikan kerukunan antar umat beragama yangdalam konteks riset ini meng-cover umat Islam, Kristen, Katolik, dan Hindu di Kabupaten Mamasa,Sulawesi Barat. Metode penelitian kuantitatif diterapkan dalam mengukur respon masyarakat terkaitkerukunan antar umat beragama. Hasil penelitian menunjukkan respon masyarakat yang cenderungsangat positif dengan indeks yang berada pada kategori sangat tinggi yakni 3,27. Namun, ditemukan faktalain yang terungkap melalui instrumen wawancara dan kuosioner bahwa sebagian di antara masyarakatmemiliki pandangan cenderung negatif terkait dengan penyebaran agama terhadap penganut agamaberbeda sehingga perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak utamanya tokoh agama agar tidakmenimbulkan riak-riak yang berpotensi memicu konflik identitas antar penganut agama di masa yangakan datang.
AWA ITABA LA AWAI ASSANGOATTA: APLIKASI MODERASI BERAGAMA DALAM BINGKAI KEARIFAN LOKAL TO WOTU Muhammad Sadli Mustafa
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal etnik Wotu yang bernuansa moderasi beragama, fungsi kearifan lokal itu dalam membangun moderasi beragama, dan  upaya yang dilakukan oleh masyarakat etnik Wotu dalam merawat kearifan lokal tersebut. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat etnik Wotu memiliki kearifan lokal dalam bentuk falsafah yang bernuansa moderasi beragama. Falsafah dimaksud adalah awa itaba la awai assangoatta yang bermakna dari kitalah datangnya persatuan/kebersamaan kita. Falsafah itu masih hidup dan mengakar dalam kehidupan masyarakat etnik Wotu hingga kini. Dengan falsafah itu, masyarakat etnik Wotu senantiasa berbaur dan hidup bersama dengan masyarakat sekitarnya yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama selama bertahun-tahun hingga saat ini. Etnik Wotu yang mayoritas muslim tidak sedikit pun pernah mengusik kenyamanan beribadah umat agama lainnya. Mereka juga melindungi, saling membantu dan memperlakukan umat agama lain layaknya saudara. Kearifan lokal itu  dirawat melalui pendidikan dalam keluarga dan dengan keteladanan. Keteladanan orang tua dalam praktik kehidupan bermasyarakat dengan pemeluk agama berbeda. Selain itu, pemerintah setempat turut menguatkan kerukunan dengan membantu pembangunan rumah ibadah semua agama. Tokoh agama dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dalam kunjungannya ke masyarakat sering kali mengingatkan untuk kembali ke akar budaya mereka yang berorientasi pada moderasi beragama
MERAWAT KERUKUNAN UMAT BERAGAMA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI MANOKWARI PAPUA BARAT Muhammad Sadli Mustafa
Al-Qalam Vol 25, No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.095 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i2.755

Abstract

This study aims to describe the general condition of religious harmony in Manokwari, reveal local wisdom that has a nuance of harmony found in the local community, and reveal the function of local wisdom in caring for inter-religious harmony. This research is a qualitative research. Data were collected by observation, interview and documentation techniques and analyzed qualitatively. The results showed that the condition of religious harmony in Manokwari was still maintained, despite certain frictions, but did not lead to conflicts between religious communities due to the synergy between government, customary and religious institutions that continued to engage in dialogue to reduce the potential for conflict. Nani akei sut dani, dani dekei sut nani, (you are good to me, I am good to you) is one of the local wisdoms of the indigenous Manokwari tribe that is full of nuances of religious harmony. Local wisdom is still carried out today until now in the social life of the local tribes of Manokwari and taught from generation to generation by each family from the existing tribes.
Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Darul Ulum Nahdhatul Wathan, Bima Maroa, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Muhammad Sadli Mustafa
Al-Qalam Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.417 KB) | DOI: 10.31969/alq.v24i1.458

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap seputar pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren dengan melakukan penelusuran terkait jenis kitab kuning yang diajarkan, mekanisme pembelajarankitab kuning,dan problematika yang dihadapi dalam pembelajarankitab kuning. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 92 pondok pesantren di Sulawesi Tenggara, hanya sebagian kecil yang masih menyelenggarakan pembelajaran kitab kuning. Salah satu di antaranya adalah Pondok PesantrenDarul Ulum Nahdhatul Wathan di Konawe Selatan yang menjadi sasaran penelitian ini.Kitab kuning yang diajarkan di pondok pesantren ini terdiri dari beberapa jenis kitab yakni kitab-kitab ilmu nahwu dan ilmu Sharaf, fikih dan usul fikih, hadis, tafsir, tauhid, sejarah,  akhlak, dan tajwid. Pembelajaran kitab kuning dilaksanakan dengan sistem bandongan dan dibagi perkelas sesuai tingkat kemampuan dan pemahaman santri terhadap kitab yang dipelajari. Kendala utama yang dirasakan dalam pembelajaran kitab adalah kelangkaan kitab, kekurangan jumlah pembina yang bisa mengajarkan kitab, ketiadaan ruang yang berskala besar sebagai pusat kegiatan ibadah dan pengajian kitab, dan kapasitas asrama yang belum mampu menampung seluruh peserta yang belajar di satuan-satuan pendidikan dalam binaan pondok pesantren ini.