This Author published in this journals
All Journal Al-Qalam
Fathul Karimul Khair
Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

WAJAH AGAMA DI HADAPAN POLITIK IDENTITAS: REFLEKSI-KRITIS SEJARAH DI/TII DI SULAWESI TENGGARA Fathul Karimul Khair
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.065 KB) | DOI: 10.31969/alq.v25i3.787

Abstract

Posisi agama dalam politik identitas belum banyak dibincangkan secara serius oleh para peneliti sosial. Salah satu peristiwa dalam sejarah Indonesia yang dapat dijadikan acuan untuk lebih jelas memandang persoalan itu adalah gerakan DI/TII di Sulawesi. Pimpinan gerakan ini adalah Qahar Muzakkar, seorang pemuda dari Sulawesi Selatan yang turut berjuang selama revolusi Indonesia. Ia berontak karena beberapa tuntutannya soal ketentaraan ditolak oleh TNI, lalu pada tahun 1953 menjadikan Islam sebagai landasan pemberontakannya. Makalah ini menggunakan kerangka pemikiran Francis Fukuyama soal politik identitas untuk menginvestigasi langkah praktis politik Qahar Muzakkar. Langkah taktis Qahar itu kemudian berimplikasi pada corak gerakan mereka di Sulawesi Tenggara, suatu daerah periferi dari Sulawesi Selatan ketika pemberontakan tersebut dideklarasikan. Berangkat dari studi arsip dan literatur dalam metode sejarah, makalah ini memperlihatkan ciri-ciri megalothymia dalam kelompok Qahar. Ciri yang demikian nampak ketika kelompoknya menggunakan agama baik untuk meneror maupun menarik simpati massa di Sulawesi Tenggara. Terdapat pula gambaran mengenai posisi ulama lokal Sulawesi Tenggara di bawah tekanan arus politik penuh darah itu. Gerakan DI/TII di Sulawesi Tenggara adalah satu contoh konflik politik identitas dalam sejarah Indonesia. Telaah kritis pada episode sejarah ini akan memperlihatkan bagaimana posisi agama sebagai wahana sekaligus korban dari suatu ambisi politik.