FX Widyatmoko
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : DeKaVe

ESTETIKA, RETORIKA, DAN KOMINIKASI SEBAGAI WACANA FX Widyatmoko
DeKaVe Vol 1, No 2 (2011): DeKaVe Vol. 1 No. 2 2011 Juli-Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dkv.v1i2.159

Abstract

Perbincangan estetika dalam seni, terutama desain, dapat dimulai atau paling tidak berada di wilayah teori. Perbincangan teoritik tersebut telah dimulai sejak era kemunculan filsafat di mana di situ seni merupakan bagian dari estetika. Modernisme yang menggagas bahwa manusia memiliki otonomi (terutama pada peran subjectum) memengaruhi cara seni memandang estetika. Estetika di jaman modern pun memiliki sifat-sifat untuk senantiasa mencari kebaruan-kebaruan. Maka, tak aneh jika bermunculan aliran-aliran dalam seni rupa/fine art. Sedangkan dalam dunia desain, perbincangan estetika dapat dibagike dalam dua aspek yaitu fungsi dan keindahan.
Pembelajaran Game Desain dalam Desain Komunikasi Visual FX. Widyatmoko
DeKaVe Vol 14, No 2 (2021): Jurnal DeKaVe Vol.14 No.2 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dkv.v1i2.6238

Abstract

Filsafat Anti-Korupsi FX Widyatmoko
DeKaVe Vol 7, No 1 (2014): DeKaVe Vol. 07 No. 01 2014 Januari - Juni 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.603 KB) | DOI: 10.24821/dkv.v7i1.889

Abstract

Buku Filsafat Anti-Korupsi setidaknya memberi wawasan akar perilaku tindak korupsi. Darisitu diharapkan manusia mengenal sisi gelap dalam dirinya, dan sebagai jalan setelah mengenalsisi gelap yaitu manusia perlu melakukan transendensi diri. Wattimena, yang juga seorangpengajar di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya (seturut waktu diterbitkannyabuku ini), menjelaskan transendensi diri sebagai berikut: “…saya menyarankan, agar kita semuabelajar untuk mengenali dorongan-dorongan berkuasa, berburu nikmat, gejolak sisi-sisi hewani,kemalasan berpikir, dan kekosongan jiwa kita sebagai manusia. Semuan itu harus diakui dandikenali. Setlah itu kita perlu untuk membangun niat, komitmen, serta teknik untuk menata danmalampaui sisi-sisi gelap yang bercokol di dalam diri kita, maupun diri semua manusia tersebut.”(halaman 201) Lantas, tidak asing manakala simbol korupsi, atau luasnya kejahatan, menunjuk pada duniahewan (tikus, kucing, ular, dsb). Pula menunjuk pada kenikmatan (dasi, mobil mewah, dsb),kekuasaan (sionggasana, raja, dsb). Setidaknya, masih terdapat beragam simbol bagi korupsi.Dari situ sisi-sisi gelap kian nampak, dan dari situ pula manusia kian dikenalkan pada berbagairepresentasi kekuatan gelap yang bercokol dalam dirinya, meski tetap menyisakan sisi gelap yangtak tertembusi, selain juga – seturut pemahaman saya - kita diajak menciptakan simbol bagiusaha dalam melakukan pelampauan/transendensi diri. Katakanlah, simbol-simbol positif.
RESENSI BUKU : “GUSDUR VAN JOMBANG” FX. Widyatmoko
DeKaVe Vol 1, No 1: Januari 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dkv.v1i1.152

Abstract

Buku “Gus Dur Van Jombang” merupakan buku tentang Gus Dur yang dikemas dalam bentuk komik. Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Gus Dur sejak lahir hingga meninggal dunia. Meski buku ini tidak bermaksud menerbitkan sebuah biografi tentang Gus Dur namun setidaknya perjalanan hidup Gus Dur menjadi alur cerita keseluruhan isi buku ini. Ulasan kali ini didasarkan pengalaman membaca buku “Gus Dur Van Jombang” ditambah beberapa informasi yang didapat dari bedah buku tersebut yang diselenggarakan di Prodi DKV ISI Yogyakarta (4 Desember 2010). Sebagai sebuah komik, buku “Gus Dur Van Jombang” terasa hambar cara penyampaiannya. Komik ini datar-datar saja, tak ada penekanan pada satu kisah atau panel tertentu. Konsistensi cara menggambarkan tokoh-tokoh di dalamnya pun tak terjada, di satu sisi memiliki tingkat kemiripan (ikon) yang tinggi, di lain kesempatan kesadaran akan ikon tersebut tak dipatuhi. Pun juga terdapat panel yang memiliki kekurangtepatan dalam meletakkan balon kata dilihat dari alur membaca (yang sebaiknya membaca balon kata dari kanan ke kiri jadi dari kiri ke kanan). Namun demikian, dari sekian panel yang ada terdapat panel yang memiliki kekuatan cara ungkap komik (seperti pada halaman 27). Panel inipun rupanya juga menjadi salah satu panel yang disukai sang komikus buku tersebut. Berdasarkan tuturan sang komikus pula diketahui bahwa dirinya mendapati kesulitan dalam menggambarkan (mengkomikkan) adegan pada saat ibu Gus Dur dan isterinya, Sinta Nuriyah, mengalami kecelakaan(halaman 75).
ESTETIKA (DALAM) DESAIN FX Widyatmoko
DeKaVe Vol 1, No 3 (2012): DeKaVe Vol. 01 No. 03 Januari-Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.396 KB) | DOI: 10.24821/dkv.v1i3.863

Abstract

Aesthetics is a word that is often present in the areas of art, including fine art. However, in thearea of visual communication design aesthetic rarely spoken words compared with the area of fine arts(fine arts). Not that there are no problems in the design aesthetic. Aesthetic issue still exists, but it is rarelyused as a design concept design. Even the design of the study area, there are aesthetic studies. However,the study could have imagined aesthetic has a great distance to the aesthetics of everyday design. There isalso an effort to facilitate the understanding of aesthetics is to provide the name of a visual strategy(Andry Masri, Jalasutra, 2010). However, the strategy also has not explained the visual aesthetic studiesare very diverse. The phrase is intended to facilitate common aesthetic learned, particularly for the needsof design planning (especially product design).This paper aims to offer a way to understand the aesthetic rather than through understanding, butto find the position of each design aesthetic in visual communication design. The objects that wereexamined in the two final ISI Visual Communication Design (one object assessment, the object creation),as well as a book cover design. The goal is clear, to give an overview of the aesthetic. Hopefully, thegrowing diversity of aesthetic closer to the day-to-day. In short, bringing together academic research,design work, the aesthetic experience everyday.