Yulino Indra
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS SEMANTIK METAFORA WARNA BAHASA MINANGKABAU Yulino Indra
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 1 (2017): METALINGUA EDISI JUNI 2017
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.829 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i1.159

Abstract

This paper tried to investigate the presence of the terms of colors and its connotationin the metaphors of Minangkabau Language. To do so, the data were collectedfrom the native speakers and from the books such as Minangkabau Language Dictionary,The Minangkabau Language of Proverb, text of randai, and the lyrics ofMinangkabau songs. The metaphorical color expressions were analysed by correlatingthem with their literal meanings and other factors such as physical, psychological,historical, and cultural. The findings of this research showed that there weresix colors found in metaphorical expression, i.e itam ’black’, putiah ‘white, kulabu’grey’, sirah ’red’, kunyiang ’yellow’, and ijau ’green’. Some colors such as black,white, red, and yellow, contained both negative and positive connotation. However,the other colors such as grey and green only contained negative connotation. Thesemethaporical color expressions were unique because they were mostly influenced bymany factors in Minangkabau language and culture.AbstrakMakalah ini mencoba meneliti keberadaan warna-warna dan makna yang dikandungdalam ekpresi metafora bahasa Minangkabau. Data diperoleh dari penutur aslidan beberapa buku di perpustakaan, seperti Kamus Bahasa Minangkabau, KamusUngkapan Bahasa Minangkabau, teks randai, dan lirik lagu. Konotasi ekpresimetafora warna tersebut dianalisis dengan cara menghubungkannya dengan maknaliteralnya. Selain itu, analisis juga dikaitkan dengan faktor-faktor lain, seperti keadaanfisik, psikologi, sejarah, dan budaya yang mempengaruhinya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ada enam warna yang ditemukan dalam ekspresi metaforabahasa Minangkabau, yaitu itam ‘hitam, putiah ‘putih’, kulabu ‘abu-abu’, sirah‘merah’, kunyiang ‘kuning’, dan ijau ‘hijau’. Ekspresi metafora yang menggunakanwarna hitam, putih, merah, dan kuning memiliki konotasi positif dan negatif.Akan tetapi, ekpresi metafora yang menggunakan warna abu-abu dan hijau hanyamemiliki konotasi negatif. Setiap ekpresi metafora yang menggunakan kata warnadalam bahasa Minangkabau memiliki keunikan. Keunikan metafora warna tersebutsangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam bahasa dan budaya Minangkabau.
KESALAHAN AFIKSASI DALAM BAHASA INDONESIA TULIS MURID SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT Yulino Indra
Salingka Vol 11, No 01 (2014): SALINGKA, EDISI JUNI 2014
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.778 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v11i01.12

Abstract

Artikel ini mengkaji kesalahan afiksasi dalam bahasa Indonesia tulis murid sekolah dasar di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Umumnya, bahasa ibu murid-murid sekolah dasar di Kabupaten Agam adalah bahasa Minangkabau. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan tipe-tipe kesalahan afiksasi yang mereka buat dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Data penelitian diperoleh dari karangan murid kelas V sekolah dasar di Kabupaten Agam. Data kemudian dianalisis berdasarkan kaidah tata bahasa baku bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan afiks yang dilakukan oleh murid sekolah dasar di Kabupaten Agam mencakup kesalahan penggunaan prefiks, sufiks maupun konfiks. Kesalahan penggunaan prefiks meliputi kesalahan pemilihan bentuk dasar, pemilihan prefiks, penambahan prefiks, dan penghilangan prefiks. Kesalahan penggunaan sufiks meliputi kesalahan penambahan sufiks, dan penghilangan sufiks. Kesalahan penggunaan konfiks meliputi kesalahan penggunaan bentuk dasar pada kata berkonfiks, kesalahan pemilihan konfiks, kesalahan penambahan konfiks dan kesalahan penghilangan konfiks.
PIRANTI KOHESI PADA KONJUNGSI: KAJIAN KASUS TULISAN MURID SEKOLAH DASAR DI BUKITTINGGI (Cohesion Markers on Conjunction: A Case Study on Elementary School Students Writtings in Bukittinggi) Yulino Indra
Salingka Vol 14, No 2 (2017): Salingka, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2552.508 KB) | DOI: 10.26499/salingka.v14i2.157

Abstract

AbstractThis research aimed at describing conjunctions functioning as cohesive device. Data weretaken from the writings of the fifth grade of the Bukittinggi’s elementary shool students. Thisresearch was a qualitative and quantitative analysis. The data were collected by using aserial picture. The students had to write a story based on the pictures. The data were proceesedby using 4 steps: (1) to read all the data and eliminate the texts containing the conjunctions,(2) to input the data into computer, (3) to classify data into four types of conjunction, and (4)to count the usage of conjunction for each types. Then, the data were analysed based on fourtypes of cohesive conjunctions proposed by Halliday and Hassan (1976), additive conjunction,adversative conjunction, causative conjunction, and temporal conjunction. The result of theresearch shows that on the additive conjunction type there were only conjunction dan (and)(98,85%) and atau (or) (1,15%).On the adverbial conjunctional type, it was found the usageof conjunction tetapi (88,88%), sedangkan (7,40%), and namun (3,70%). On the causalconjunction type, it was found karena (88,23%), makanya (5,88%), and sehingga (5,88%). Onthe temporal conjunction type, there were lalu (39,24%), kemudian (12,65%), setelah (21,51%),setelah itu (7,94%), sesudah (2,53%), sesudah itu (2,53%), sebelum(3,79%), dan sambil (10,12%). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan konjungsi sebagai piranti kohesi dalamwacana. Data diambil dari karangan murid kelas lima sekolah dasar di Bukittinggi. Penelitian inibersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan gambar berseri.Murid menulis karangan bahasa Indonesia dengan kalimatnya sendiri, namun harus merujuk padagambar berseri yang diberikan. Pengolahan data dilakukan dengan langkah: 1) membaca seluruhkarangan dan menandai teks yang mengandung kohesi konjungsi, 2) menginput data ke dalamkomputer, 3) mengelompokkan data berdasarkan tipenya, dan (4) menghitung jumlah setiap tipekonjungsi. Data kemudian dianalisis berdasarkan 4 tipe konjungsi yang dikemukakan oleh Hallidaydan Hassan (1976), yaitu konjungsi additif (penambahan), konjungsi adversatif (pertentangan),konjungsi kausatif (sebab akibat), dan konjungsi temporal (urutan waktu). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pada tipe konjungsi additif, konjungsi yang digunakan oleh murid-murid sekolahdasar di Bukittinggi adalah dan (98,85%) dan atau (1,15%). Pada konjungsi adversatif konjungsiyang digunakan adalah tetapi (88,88%), sedangkan (7,40%), dan namun (3,70%). Pada tipekonjungsi kausal, ditemukan konjungsi karena (88,23%), makanya (5,88%), dan sehingga(5,88%). Pada konjungsi temporal, konjungsi yang digunakan adalah lalu (39,24%), kemudian(12,65%), setelah (21,51%), setelah itu (7,94%), sesudah (2,53%), sesudah itu (2,53%),sebelum (3,79%), dan sambil sebanyak 8 buah (10,12%).Kata Kunci : wacana, kohesi, konjungsi, murid sekolah dasar