Estu Nugroho
Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SEKUENS mtDNA CO-1, KARAKTER REPRODUKSI DAN TOLERANSI TERHADAP LINGKUNGAN DARI UDANG GALAH BENGAWAN SOLO Estu Nugroho; Astuti Astuti; Fitriana Yulaeni; Pristika Y. Praninda; Riyan K. Putra; Suprayitno Suprayitno; Dian A. Hariyanti; Latifah Sutandi; Farid Irvani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.11-18

Abstract

Indonesia dikenal sebagai pusat sumber daya udang air tawar, salah satu di antaranya adalah udang galah dari daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi secara genetik dan mendapatkan informasi tentang karakter reproduksi dan daya adaptasinya terhadap lingkungan dari udang galah Bengawan Solo. Identifikasi dilakukan melalui sekuensing daerah mtDNA CO-1. Pengamatan reproduksi dilakukan pada saat matang gonad pertama. Toleransi terhadap lingkungan terdiri atas uji salinitas, pH, suhu, dan oksigen terlarut (DO). Data sekuensing dianalisis dengan menggunakan program CLUSTAL OMEGA. Data reproduksi dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan program Excel. Data hasil uji toleransi terhadap lingkungan dianalisis dengan menggunakan program SPSS 16. Sekuens mtDNA CO-1 udang galah Bengawan Solo mempunyai tingkat similaritas 98% terhadap Macrobrachium rosenbergii (KM234150). Proporsi basa A (27,62%), G (19,53%), T (27,34%), dan C (25,52%) menyusun 239 residu asam amino. Filogenetik berdasarkan jarak genetik mengelompokkan udang galah Bengawan Solo, GImacro, Siratu, Mahakam, dan KM234150 dalam satu grup. Induk udang galah umur 216 hari mencapai matang gonad yang pertama dengan ukuran panjang 15,32 ± 0,58 cm; bobot 48,58 ± 5,87 g (jantan) dan 13,86 ± 0,75 cm; bobot 29,04 ± 4,64 g (betina). Tingkat fekunditas yang dimiliki oleh induk betina adalah 834,67 ± 57,73 butir/g. Diameter telur berkisar 0,40-0,53 mm dengan bobot rata-rata 0,112 g. Sintasan larva hingga umur satu bulan adalah sebesar 50,56 ± 0,61%. Benih udang galah pada salinitas 5-25 ppt mempunyai tingkat sintasan 73,33%-86,67%; pH 4-8 dengan tingkat sintasan 66,67%-73,33%; suhu 20°C-34°C dengan tingkat sintasan 76,67%-96,67% dan tingkat oksigen yang dibutuhkan benih udang galah > 1,04 mg/L.Indonesia is known as a resource center for freshwater shrimp, one of which is the giant freshwater prawn from Bengawan Solo watershed. This research aimed to genetically identify and obtain information about the giant freshwater prawn’s reproduction and adaptation characters in a culture environment. Identification was made by sequencing the MtDNA CO-1 region. Reproductive observation was carried out when the first gonad matured. Environmental tolerance tests consisted of salinity, pH, temperature, and dissolved oxygen (DO) tests. Sequencing data were analyzed using the CLUSTAL OMEGA program. Reproduction data were analyzed descriptively using the Excel program. Data from the environmental tolerance tests were analyzed using the SPSS 16 software package. The mtDNA CO-1 sequencing result of Bengawan Solo prawns has a 98% similarity rate to Macrobrachium rosenbergii (KM234150). The proportions of base A (27.62%), G (19.53%), T (27.34%), and C (25.52%) have compiled 239 amino acid residues. Phylogenetic analysis based on the genetic distance has grouped Bengawan Solo, GImacro, Siratu, Mahakam, and M. rosenbergii-KM234150 in one group. The broodstock parent reached the first gonadal maturity at 216 days with an average body length and weight of 15.32 ± 0.58 cm; 48.58 ± 5.87 g for male and 13.86 ± 0.75 cm; 29.04 ± 4.64 g for female, respectively. The fecundity rate of the female parent was 834.67 ± 57.73 eggs/g body weight. Egg diameters ranged from 0.40 to 0.53 mm, with an average weight of 0.112 g. Larval survival was 50.56 ± 0.61%. Seed prawns subjected with: salinity tests between 5-25 ppt have survival rates between 73.33%-86.67%; pH tests ranged between 4-8 have survival rates between 66.67%-73.33%; temperature test between 20°C-34°C have survival rate between 76.67%-96.67%. The optimum oxygen level needed for giant prawn seeds > 1.04 mg/L.
KERAGAMAN GENETIK DAN KARAKTER BIOMETRIK IKAN BELIDA (Chitala lopis, BLEEKER 1851) BUDIDAYA ASAL SUNGAI KAMPAR, RIAU Estu Nugroho; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Jojo Subagja; Bambang Priono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.1-8

Abstract

Ikan belida telah masuk dalam daftar jenis ikan yang dilindungi di Indonesia. Budidaya dapat digunakan sebagai salah satu upaya perbaikan kondisi populasi ikan belida. Informasi genetik dan keadaan karakter biometrik merupakan hal penting dalam membantu kesuksesan teknologi budidaya. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi genetik dan keadaan karakter biometrik ikan belida yang digunakan dalam budidaya. Sebanyak 20 ekor induk betina dan 15 induk jantan telah dikoleksi dari Sungai Kampar, Riau dan dipijahkan secara alami di kolam tanah ukuran 1.000 m2 di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Keragaman genetik dari 10 ekor induk (G0) dan 10 ekor benih (G1) diobservasi dengan menggunakan marka genetik RAPD (Random Amplified Polymorphism DNA) dengan primer OPC-03, OPZ-05, dan OPZ-09. Data dianalisis dalam heterozigositas dan polimorfisme dengan menggunakan program TFPGA. Karakter biometrik dari 10 ekor induk dan 45 ekor benih berupa panjang standar dan bobot badan ikan digunakan untuk analisis koefisien variasi, pola pertumbuhan, dan faktor kondisi relatif dengan menggunakan program excel. Nilai heterozigositas induk dan benih ikan belida berturut-turut adalah 0,2922 dan 0,2978 dengan polimorfisme 78,69% dan 77,05%. Koefisien variasi panjang standar dan bobot badan induk G0 adalah 10,75% dan 43,21% dan benih G1 adalah 14,20% dan 40,33%. Induk ikan belida G0 mempunyai pola pertumbuhan bersifat alometrik (+) dengan nilai R2= 81,77% dan Kn= 1,007; sedangkan benih G1 mempunyai pola pertumbuhan bersifat alometrik (-) dengan nilai R2= 92,85% dan Kn= 1,024.KATA KUNCI: Featherback fish are included in the list of protected fish species in Indonesia and currently under heavy exploitation with signs of significant wild stock depletion. Aquaculture can be used as an effort to increase the populations of featherback fish. Such effort requires the availability of genetic information and the state of biometric characters which are essential information to ensure the success of the fish aquaculture technology. This research was conducted to obtain the genetic information and state of the biometric characters of featherback fish used in aquaculture. A total of 20 female and 15 male broodstocks were collected from Kampar River, Riau and spawned naturally in 1,000 m2 earthen ponds in Palembang, South Sumatera. Genetic diversity of 10 breeders (G0) and 10 seeds (G1) were observed using RAPD (Random Amplified Polymorphism DNA) genetic markers with OPC-03, OPZ-05, and OPZ-09 primers. Data was analyzed in heterozygosity and polymorphism using the TFPGA program. Biometric characters from 10 breeders and 45 seeds (standard length and body weight) were analyzed to determine the variation coefficients, growth patterns, and relative condition factors using Microsoft excel® software. Heterozygosity of fish broodstock and seeds were 0.2922 and 0.2978 with polymorphism of 78.69% and 77.05%, respectively. The standard length and body weight of broodstock G0 were 10.75% and 43.21% and seeds G1 were 14.20% and 40.33% respectively. Broodstock G0 has an allometric (+) growth pattern with R2= 81.77% and Kn= 1.007, while seeds G1 has an allometric (-) growth patterns with R2= 92.85% and K= 1.024.
DOMESTIKASI IKAN BELIDA LANGKA, Chitalalopis (Bleeker, 1851): PEMBENIHAN SECARA TERKONTROL DI LUAR HABITAT ALAMI Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Estu Nugroho; Jojo Subagja; Bambang Priono
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.301 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.73-81

Abstract

Penelitian pemeliharaan ikan belida, (Chitala lopis Bleeker, 1851) secara ex-situ bertujuan untuk mendapatkan teknik pembenihan yang tepat di luar habitat alaminya. Serangkaian eksperimen dilakukan adalah: 1) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan padat tebar berbeda (45, 90, dan 180 ekor/90 L); 2) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan jenis pakan berbeda (pakan buatan dan cacing tubifex); 3) pemeliharaan benih dalam waring dengan padat tebar berbeda (10 dan 20 ekor/m2); dan 4) pembesaran dalam waring dengan jenis pakan berbeda (cacing tubifex; cacing tubifex + pakan buatan, dan pakan buatan). Pemeliharaan benih dalam akuarium menggunakan ukuran awal 3,4 cm selama 30 hari memperlihatkan kepadatan 45 ekor/90 L memberikan laju pertumbuhan bobot terbaik sebesar 3,1%/hari dengan sintasan 96,7 ± 1,33%. Pemeliharaan lanjutan selama dua bulan dalam akuarium dengan pemberian jenis pakan berbeda menghasilkan pertumbuhan bobot tertinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex sebesar 2%/hari dengan sintasan 29 ± 3,42%. Pemeliharaan benih ukuran 4,9 cm dalam waring yang diletakkan dalam kolam tanah menghasilkan pertumbuhan dan sintasan yang lebih tinggi pada padat tebar 10 ekor/m2 dengan laju pertumbuhan bobot 2,6% per hari dengan tingkat sintasan sebesar 77,3%. Pembesaran benih dalam waring dengan ukuran tebar 8-9 cm selama dua bulan menghasilkan pertumbuhan bobot yang lebih tinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex (1,3%/hari) dibandingkan dengan pakan buatan (0,6%/hari) dan campuran pakan buatan + cacing tubifex (1,0%/hari).Research on the domestication of featherback fish, (Chitala lopis Bleeker, 1851) outside of their natural habitat was carried out primarily to obtain its feasible breeding techniques. A series of experiments was carried out including 1) seed rearing in aquariums with different stocking densities (45, 90, and 180/90 L); 2) rearing of seeds in aquariums with different types of feed (artificial feed and tubifex); 3) seeds rearing in net cage with different stocking densities (10 and 20 fish/m2); and 4) grow-out in net cage with different types of feed (tubifex; tubifex + artificial feed, and artificial feed). The results showed that seeds with an initial size of 3.4 cm reared in an aquarium for 30 days with a density of 45 fish/90 L produced the best weight growth of 3.1%/day with survival rate of 96.7 ± 1.33%. Two months of continued rearing carried out in an aquarium produced the highest weight growth for seeds fed with tubifex of 2%/day with survival rate of 29 ± 3.42%. Rearing of seeds sized 4.9 cm in net cage placed in earthen pond resulted in higher growth and survival than that of aquariums. The best density was 10 fish/m2 with weight growth rate of 2.6% per day and survival rate of 77.3%. Seeds sized of 8-9 cm cultured in net cage for two months produced higher weight growth when feed with tubifex (1.3%/day) than that of feed with artificial feed (0.6%/day) and mixture artificial feed + tubifex (1.0%/day).