Bambang Priono
Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KERAGAMAN GENETIK DAN KARAKTER BIOMETRIK IKAN BELIDA (Chitala lopis, BLEEKER 1851) BUDIDAYA ASAL SUNGAI KAMPAR, RIAU Estu Nugroho; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Jojo Subagja; Bambang Priono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.1-8

Abstract

Ikan belida telah masuk dalam daftar jenis ikan yang dilindungi di Indonesia. Budidaya dapat digunakan sebagai salah satu upaya perbaikan kondisi populasi ikan belida. Informasi genetik dan keadaan karakter biometrik merupakan hal penting dalam membantu kesuksesan teknologi budidaya. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi genetik dan keadaan karakter biometrik ikan belida yang digunakan dalam budidaya. Sebanyak 20 ekor induk betina dan 15 induk jantan telah dikoleksi dari Sungai Kampar, Riau dan dipijahkan secara alami di kolam tanah ukuran 1.000 m2 di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Keragaman genetik dari 10 ekor induk (G0) dan 10 ekor benih (G1) diobservasi dengan menggunakan marka genetik RAPD (Random Amplified Polymorphism DNA) dengan primer OPC-03, OPZ-05, dan OPZ-09. Data dianalisis dalam heterozigositas dan polimorfisme dengan menggunakan program TFPGA. Karakter biometrik dari 10 ekor induk dan 45 ekor benih berupa panjang standar dan bobot badan ikan digunakan untuk analisis koefisien variasi, pola pertumbuhan, dan faktor kondisi relatif dengan menggunakan program excel. Nilai heterozigositas induk dan benih ikan belida berturut-turut adalah 0,2922 dan 0,2978 dengan polimorfisme 78,69% dan 77,05%. Koefisien variasi panjang standar dan bobot badan induk G0 adalah 10,75% dan 43,21% dan benih G1 adalah 14,20% dan 40,33%. Induk ikan belida G0 mempunyai pola pertumbuhan bersifat alometrik (+) dengan nilai R2= 81,77% dan Kn= 1,007; sedangkan benih G1 mempunyai pola pertumbuhan bersifat alometrik (-) dengan nilai R2= 92,85% dan Kn= 1,024.KATA KUNCI: Featherback fish are included in the list of protected fish species in Indonesia and currently under heavy exploitation with signs of significant wild stock depletion. Aquaculture can be used as an effort to increase the populations of featherback fish. Such effort requires the availability of genetic information and the state of biometric characters which are essential information to ensure the success of the fish aquaculture technology. This research was conducted to obtain the genetic information and state of the biometric characters of featherback fish used in aquaculture. A total of 20 female and 15 male broodstocks were collected from Kampar River, Riau and spawned naturally in 1,000 m2 earthen ponds in Palembang, South Sumatera. Genetic diversity of 10 breeders (G0) and 10 seeds (G1) were observed using RAPD (Random Amplified Polymorphism DNA) genetic markers with OPC-03, OPZ-05, and OPZ-09 primers. Data was analyzed in heterozygosity and polymorphism using the TFPGA program. Biometric characters from 10 breeders and 45 seeds (standard length and body weight) were analyzed to determine the variation coefficients, growth patterns, and relative condition factors using Microsoft excel® software. Heterozygosity of fish broodstock and seeds were 0.2922 and 0.2978 with polymorphism of 78.69% and 77.05%, respectively. The standard length and body weight of broodstock G0 were 10.75% and 43.21% and seeds G1 were 14.20% and 40.33% respectively. Broodstock G0 has an allometric (+) growth pattern with R2= 81.77% and Kn= 1.007, while seeds G1 has an allometric (-) growth patterns with R2= 92.85% and K= 1.024.
DOMESTIKASI IKAN BELIDA LANGKA, Chitalalopis (Bleeker, 1851): PEMBENIHAN SECARA TERKONTROL DI LUAR HABITAT ALAMI Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi; Estu Nugroho; Jojo Subagja; Bambang Priono
Media Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.301 KB) | DOI: 10.15578/ma.14.2.2019.73-81

Abstract

Penelitian pemeliharaan ikan belida, (Chitala lopis Bleeker, 1851) secara ex-situ bertujuan untuk mendapatkan teknik pembenihan yang tepat di luar habitat alaminya. Serangkaian eksperimen dilakukan adalah: 1) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan padat tebar berbeda (45, 90, dan 180 ekor/90 L); 2) pemeliharaan benih dalam akuarium dengan jenis pakan berbeda (pakan buatan dan cacing tubifex); 3) pemeliharaan benih dalam waring dengan padat tebar berbeda (10 dan 20 ekor/m2); dan 4) pembesaran dalam waring dengan jenis pakan berbeda (cacing tubifex; cacing tubifex + pakan buatan, dan pakan buatan). Pemeliharaan benih dalam akuarium menggunakan ukuran awal 3,4 cm selama 30 hari memperlihatkan kepadatan 45 ekor/90 L memberikan laju pertumbuhan bobot terbaik sebesar 3,1%/hari dengan sintasan 96,7 ± 1,33%. Pemeliharaan lanjutan selama dua bulan dalam akuarium dengan pemberian jenis pakan berbeda menghasilkan pertumbuhan bobot tertinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex sebesar 2%/hari dengan sintasan 29 ± 3,42%. Pemeliharaan benih ukuran 4,9 cm dalam waring yang diletakkan dalam kolam tanah menghasilkan pertumbuhan dan sintasan yang lebih tinggi pada padat tebar 10 ekor/m2 dengan laju pertumbuhan bobot 2,6% per hari dengan tingkat sintasan sebesar 77,3%. Pembesaran benih dalam waring dengan ukuran tebar 8-9 cm selama dua bulan menghasilkan pertumbuhan bobot yang lebih tinggi pada benih yang diberi pakan cacing tubifex (1,3%/hari) dibandingkan dengan pakan buatan (0,6%/hari) dan campuran pakan buatan + cacing tubifex (1,0%/hari).Research on the domestication of featherback fish, (Chitala lopis Bleeker, 1851) outside of their natural habitat was carried out primarily to obtain its feasible breeding techniques. A series of experiments was carried out including 1) seed rearing in aquariums with different stocking densities (45, 90, and 180/90 L); 2) rearing of seeds in aquariums with different types of feed (artificial feed and tubifex); 3) seeds rearing in net cage with different stocking densities (10 and 20 fish/m2); and 4) grow-out in net cage with different types of feed (tubifex; tubifex + artificial feed, and artificial feed). The results showed that seeds with an initial size of 3.4 cm reared in an aquarium for 30 days with a density of 45 fish/90 L produced the best weight growth of 3.1%/day with survival rate of 96.7 ± 1.33%. Two months of continued rearing carried out in an aquarium produced the highest weight growth for seeds fed with tubifex of 2%/day with survival rate of 29 ± 3.42%. Rearing of seeds sized 4.9 cm in net cage placed in earthen pond resulted in higher growth and survival than that of aquariums. The best density was 10 fish/m2 with weight growth rate of 2.6% per day and survival rate of 77.3%. Seeds sized of 8-9 cm cultured in net cage for two months produced higher weight growth when feed with tubifex (1.3%/day) than that of feed with artificial feed (0.6%/day) and mixture artificial feed + tubifex (1.0%/day).