Bunga Rante Tampangallo
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BEBERAPA METODE STRESSING UNTUK MENGINDUKSI PERKEMBANGAN WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) PADA BENUR UDANG WINDU (Penaeus monodon) Muliani Muliani; Bunga Rante Tampangallo; Koko Kurniawan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.51 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.465-475

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa model metode stressing yang dapat menginduksi perkembangan WSSV pada benur, sehingga dapat terdeteksi dengan PCR konvensional. Penelitian dilakukan di Laboratorium Basah Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP). Wadah yang digunakan adalah kontainer plastik bervolume 40 L diisi dengan air laut sebanyak 30 L dan dilengkapi dengan aerasi kecuali pada perlakuan oksigen. Setiap wadah ditebari benur (PL-12) sebanyak 500 ekor yang diambil dari panti perbenihan komersil di Kabupaten Barru yang sebelumnya telah diketahui negatif WSSV. Perlakuan yang dicobakan adalah: (A) stressing dengan suhu yaitu: 10oC±2oC, 28oC±2oC, dan 40oC±2oC; (B) stressing dengan salinitas yaitu: 5 ppt, 28 ppt, dan 51 ppt; (C) stressing dengan oksigen yaitu: 1 mg/L, 3 mg/L, dan 5 mg/L; (D) stressing dengan pH yaitu: pH 5, pH 6, dan pH 7; dan (E) stressing dengan formalin yaitu: 100 mg/L, 200 mg/L, dan 300 mg/L. Sampling dilakukan 1 jam, 3 jam, dan 5 jam setelah perendaman untuk pengecekan WSSV dengan mengambil contoh benur sebanyak 50-100 ekor/wadah lalu dicek dengan PCR untuk WSSV-nya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stressing dengan oksigen (1 mg/L, 3 mg/L, dan 5 mg/L) memberikan hasil yang terbaik dalam memicu perkembangan WSSV pada benur, disusul dengan suhu (suhu 10oC dan 40oC), pH 5; kemudian penggunaan formalin, dan salinitas. Hasil PCR menunjukkan bahwa benur yang awalnya  negatif menjadi positif dengan kategori ringan hingga berat. Semakin lama waktu perendaman maka semakin memicu perkembangan WSSV dalam badan benur.
BUDIDAYA UDANG VANAME POLA INTENSIF DENGAN SISTEM BIOFLOK DI TAMBAK Gunarto Gunarto; Hidayat Suryanto Suwoyo; Bunga Rante Tampangallo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.044 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.393-405

Abstract

Budidaya udang vaname intensif sistem bioflok merupakan satu di antara beberapa upaya untuk efisiensi biaya produksi, karena bioflok dapat dimanfaatkan sebagai subsitusi pakan bagi udang vaname yang dibudidayakan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan sumber C-karbohidrat (molase) sebagai upaya penumbuhan bioflok pada budidaya udang vaname pola intensif di tambak terutama efeknya pada pertumbuhan, sintasan dan produksi udang. Dua petak tambak masing-masing ukuran 3.520 m2 dan 3.946 m2 ditebari benur vaname dengan padat tebar 75 ekor/m2. Satu petak sebagai tambak kontrol tanpa penambahan sumber Ckarbohidrat (tambak A) dan satu petak tambak lainnya setelah satu bulan pemeliharaan maka sumber C karbohidrat (molase) mulai ditebarkan ke air tambak (tambak B) tujuannya untuk meningkatkan CN ratio menjadi >10:1 sehingga diharapkan bioflok mudah tumbuh. Pakan udang diberikan setelah penebaran dengan dosis 100% dari total biomassa udang pada dua minggu pertama dan setiap dua minggu berikutnya jumlah pakan yang diberikan menurun hingga mencapai dosis 2,5% dari total biomassa udang setelah udang mencapai masa pemeliharaan bulan keempat. Pada petak yang ditumbuhkan bioflok dosis pakan yang diberikan ke udang dikurangi hingga mencapai 10%-20% dari porsi yang seharusnya diberikan. Sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan dihitung setelah udang dipanen. Kualitas air (salinitas, pH, dan oksigen terlarut)di-monitor setiap hari. Total Suspended Solid (TSS), Volatil Suspended Solid (VSS), dan volume bioflok di-monitor setelah terbentuk di air tambak. Total haemosit dan prophenol oksidase udang dihitung pada udang sampel dilakukan menjelang udang dipanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di tambak B yang ditambahkan sumber C-karbohidrat (ditumbuhkan biofloknya) diperoleh nilai konversi pakan udang lebih rendah daripada yang diperoleh di tambak A. Sintasan dan produksi udang di tambak B lebih tinggi daripada sintasan dan produksi udang di tambak A (kontrol). Total haemosit dan prophenol oksidase lebih tinggi pada udang yang hidup di tambak B yang ditumbuhkan floknya daripada yang diperoleh di tambak A (kontrol).