Eni Kusrini
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Media Akuakultur

TRANSFEKSI MERUPAKAN METODE TEKNOLOGI TRANSGENIK PENYISIPAN GREEN FLOURESCENT PROTEIN TERHADAP IKAN WILD BETTA Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.165 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.1.2015.7-11

Abstract

Teknik transfer gen banyak dikembangkan untuk mengintroduksi molekul DNA ke dalam embrio. Keberhasilan transfer gen menggunakan metode transfeksi ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain pemilihan larutan transfeksi yang sesuai dengan mempertimbangkan kesediaan secara komersial, mudah diaplikasikan, keberhasilan tinggi, dan tidak bersifat toksik terhadap embrio. Studi awal untuk mengetahui keberhasilan transfer gen terhadap embrio ikan wild betta digunakan Green Fluorescent Protein (GFP) dan juga dapat digunakan sebagai model terhadap ikan betta. GFP merupakan gen yang mengkodekan protein dan memiliki sifat berpendar hijau. Induk jantan dan betina dipijahkan dengan perbandingan 1:1 pada wadah baskom dengan ketinggian air ± 14 cm serta diberikan substrat. Transfeksi dilakukan pada embrio fase pembelahan 2 sel. Larutan transfeksi dibuat dari campuran DNA plasmid pada media NaCl 0.9% hingga mencapai konsentrasi akhir 100 μL media (campuran transfast + DNA + NaCl). Aktivitas gen ini dapat divisualisasikan dengan menggunakan sinar ultra violet. Keberhasilan dari teknik transfer gen tersebut dibuktikan dengan adanya ekspresi gen atau deteksi DNA gen GFP yang dimasukkan. Ekspresi hasil korporasi DNA ke dalam telur melalui transfeksi pada wild betta dan keberhasilan transfer gen GFP dapat dibuktikan dengan analisis PCR. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah menguraikan tentang metode transfeksi yang efektif untuk teknologi transfer gen terhadap ikan wild betta.
PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS KOI (Cyprinus carpio) LOKAL DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS DEPOK Eni Kusrini; Sawung Cindelaras; Anjang Bangun Prasetio
Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.964 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.2.2015.71-78

Abstract

Salah satu komoditas ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini masih menjadi primadona di pasar internasional dan merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi di pasaranpun relatif stabil adalah ikan koi (Cyprinus carpio). Komoditas ikan hias koi telah menjadi komoditas andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi, Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat perekonomian masyarakat dan menjadikannya sebagai alternatif penghasilan selain padi. Guna mendukung produksi ikan hias koi di beberapa sentra yang ada, dilakukan penelitian untuk mengembangkan budidaya secara intensif yang dilakukan pada lingkungan terkontrol melalui perbaikan teknologi budidaya. Penelitian dilakukan skala lapang di BPPBIH dengan metode survai ke sentra produksi untuk koleksi induk, pembenihan, dan pembesaran dengan menggunakan kolam tanah serta kolam beton untuk pemijahan dan inkubasi telur. Hasil dari penelitian ini berupa data dan informasi teknik budidaya dan produksinya yang dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi budidaya ikan hias koi.
IKAN HIAS LAUT: TANTANGAN BUDIDAYA DAN PELUANG BISNIS Anjang Bangun Prasetio; Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.266 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.84-87

Abstract

Indonesia mempunyai potensi ikan hias laut cukup besar, selain ikan yang unik, baik warna, bentuk, dan tingkah laku, serta sifat-sifat lain yang dimilikinya, juga potensi jenis yang cukup banyak di alam. Hal ini cukup menarik untuk peluang bisnis, karena tidak hanya bagi para pencinta ikan hias (hobiis) akan tetapi para pemula juga mulai menggemari ikan hias. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus terkait ikan hias laut ini sehingga upaya untuk memproduksi benih dan induk dari hasil budidaya sudah harus digalakkan, mengingat banyak jenis-jenis budidaya ikan hias laut yang potensial untuk dikembangkan berdasarkan permintaan pasar baik domestik maupun internasional. Beberapa dukungan kebijakan yang dapat dilakukan terkait status budidaya ikan hias laut, antara lain pengembangan ke arah budidaya, industrialisasi budidaya, serta penataan sistem perdagangan.
TANTANGAN BISNIS IKAN HIAS TIGER CATFISH (Pseudoplatystoma fasciatum) MELALUI PENGUASAAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN Eni Kusrini; Agus Priyadi; Anjang Bangun Prasetio
Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1132.662 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.2.2015.79-83

Abstract

Ikan tiger catfish (Pseudoplatystoma fasciatum) merupakan salah satu ikan hias hasil introduksi yang berasal dari Sungai Amazon Amerika Latin dan mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi terutama untuk komoditas ekspor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang pembenihan ikan tiger catfish secara buatan. Metode yang digunakan untuk pemijahan buatan ikan tiger catfish ini adalah dengan stimulasi hormon gonadotropin. Calon induk ikan hias tiger catfish dapat matang gonad dipelihara dalam kolam beton berukuran 2,5 m x 2,0 m x 0,8 m dengan ke dalaman air antara 50-60 cm dilengkapi dengan sistem sirkulasi. Perbandingan antara jantan dan betina yaitu 1:2. Bobot rata-rata induk yang siap dipijahkan sekitar 2,5 kg dan sudah berumur minimal dua tahun. Jumlah telur yang dihasilkan setiap satu induk dapat mencapai 300.000 butir dengan daya tetas rata-rata 80%. Telur akan menetas semua dalam waktu 15 19 jam pada suhu berkisar antara 26oC-30oC. Larva yang telah menetas tetap dibiarkan dalam akuarium sampai kuning telur yang menempel di tubuh habis termakan. Keberhasilan pembenihan diawali dari pengelolaan induk yang benar untuk dapat matang gonad, sehingga kualitas telur bagus dan akan menghasikan benih-benih yang berkualitas. Teknik pembenihan juga menjadi faktor yang menentukan untuk keberhasilan pembenihan. Teknologi pemijahan buatan dengan menggunakan stimulasi hormon gonadotropin ikan tiger catfish telah dikuasai dan telah berkembang di para breeder ikan hias.
PERKEMBANGAN REKAYASA GENETIKA DALAM BUDIDAYA IKAN HIAS DI INDONESIA Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.395 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.59-64

Abstract

Teknologi rekayasa genetika transgenesis telah digunakan sejak 1980 dan sekarang berkembang memproduksi makhluk hidup dengan fenotipe yang diinginkan. Di bidang akuakultur, telah dilakukan beberapa metode transgenik antara lain penggunaan vektor yang dinamakan replicationdefective pantropic retroviral (salah satu elemen vektor) untuk menginfeksi sel lines ikan. Perkembangan riset transgenik yang dilakukan sudah sampai tahapan dapat menghasilkan generasi pertama (F-1) yang masih membutuhkan verifikasi untuk mendapatkan keturunan-keturunan transgenik homozigot yang dapat digunakan untuk memproduksi massal ikan transgenik heterozigot hasil perkawinan dengan ikan normal. Teknik rekayasa genetika terus-menerus mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari metode-metode sebelumnya. Adapun metode-metode yang telah berhasil diterapkan dalam teknologi transfer gen antara lain adalah mikroinjeksi, elektroporasi, dan transfeksi. Keberhasilan menghasilkan ikan hias transgenik melalui biologi molekuler dengan karakter keunggulan tertentu memberikan harapan baru dalam budidaya ikan khususnya dalam menunjang peningkatan kualitas warna dan bentuk. Meskipun rekayasa genetika bukan segala-galanya, karena adanya keterbatasan dalam menghasilkan ikan transgenik seperti badan yang bengkok, kepala bercabang, dan lain-lain.
TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH IKAN HIAS LAUT UNTUK MELESTARIKAN SUMBERDAYA GENETIKNYA Eni Kusrini
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.244 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.65-70

Abstract

Ikan hias laut merupakan salah satu komoditas sumberdaya kelautan yang potensinya masih kurang diperhatikan. Padahal beberapa jenis ikan hias laut tersebut mempunyai nilai jual tinggi di pasaran internasional. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbenihan guna mendapatkan benih yang unggul agar produksi budidaya dapat lebih maju. Sumberdaya genetik ikan hias laut yang tersebar di perairan Indonesia sangat banyak dan beraneka ragam. Sumberdaya genetik yang ada selama ini telah termanfaatkan untuk komoditas ekspor dan telah dilakukan penangkapan yang terus-menerus. Eksploitasi yang berlebihan dikhawatirkan akan menyebabkan sumberdaya genetik yang ada habis. Penelitian dan pengembangan budidaya ikan hias laut telah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol, Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung, dan Balai Budidaya Laut Ambon untuk beberapa jenis di antaranya clown fish, banggai cardinal fish, clown biak, dan letter six. Teknologi pembenihan ikan hias laut tersebut telah dikuasai dengan baik, namun tingkat sintasan dan kualitas benih belum seperti yang diharapkan. Keberhasilan suatu usaha pembenihan ikan hias laut sangat tergantung pada sistem pengelolaan pembenihannya yaitu cara penyediaan dan pematangan induk, cara melakukan pemijahan, pemeliharaan larva dan benih, pengelolaan pakan, penanganan lingkungan, dan pengendalian penyakit. Pada makalah ini akan dipaparkan tentang teknik budidaya ikan hias laut yang telah berhasil dilakukan baik tahap domestikasi maupun pembenihannya, guna ke depannya produksi benih tersebut dapat dijadikan induk-induk yang berkualitas sehingga dapat melestarikan plasma nutfahnya.