This Author published in this journals
All Journal Media Akuakultur
Wawan Andriyanto
Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan, Pusat Riset Perikanan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

aplikasi protein sel tunggal dan “spent grains” dalam FORMULASI PAKAN untuk pemeliharaan kerapu hibrid (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus polypekadion) Wawan Andriyanto; Nyoman Adiasmara Giri; Muhammad Marzuqi
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.642 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.41-47

Abstract

Sumber protein alternatif berupa protein sel tunggal (PST) dari sisa produksi bumbu penyedap dan “spent grains” dari sisa produksi minuman bir memiliki kandungan protein yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik dari penggunaan dua sumber bahan tersebut terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan kerapu hibrid (kerapu cantik). Empat pakan uji diformulasikan dengan menambahkan kombinasi tepung spent grains dan PST untuk menggantikan protein dari tepung ikan sebesar (A) 0%, (B) 30%, (C) 40%, dan (D) 50%. Uji pakan dilakukan di keramba jaring apung menggunakan 12 jaring berukuran 2 m x 2 m x 2 m. Bobot awal ikan kerapu cantik yang digunakan adalah 63 ± 0,6 g dan ditebar dengan kepadatan 253 ekor/jaring. Pakan uji diberikan dua kali sehari secara satiasi. Data yang diamati adalah pertumbuhan (bobot dan panjang), sintasan, dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan A (0%) menghasilkan berat akhir sebesar 299,6 ± 27,0 g lebih baik dan berbeda nyata (P<0,05) dari perlakuan C (40%) dan D (50%), namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan pakan B (30%), yaitu 287,4 ± 5,3 g. Hasil ini menunjukkan bahwa substitusi protein tepung ikan dengan campuran protein dari PST dan spent grains pada pakan pembesaran kerapu hibrid dapat dilakukan sampai level 30%.Single cell protein left-over from seasoning factory and spent grains from brewery waste are potential as high protein sources for animal feed. This study was aimed to obtain an optimal supplementation dose of the two ingredients in relation to the growth and survival rate of hybrid grouper (Cantik grouper). Four test feeds were formulated by mixing different combinations of single cell protein and spent grains to replace fishmeal protein content in the feed at 0%, 30%, 40%, and 50%. The feeding trials were conducted at a floating net cage consisted of 12 netpens sized 2 m x 2 m x 2 m. The initial mean weight of hybrid grouper was 63 ± 0.6 g. The fish were stocked at a density of 253 fish/netpen. Feed treatments were given at satiation two times a day. Parameters of growth (final body weight and length), survival rate, and feed conversion were observed. The results showed that fish in treatment A (0%) gained the final body weight of 299.6 ± 27.01 g which was significantly different (P<0.05) with that of treatment C and D, but not significantly different with fish in treatment B (30%), with the mean weight gain of 287.4 ± 5,3 g. Fish in treatment B (30%) showed better growth response and survival rate than that of treatment C (40%) and D (50%). The result also indicated that fish fed with treatment B feed (30%) had not different a mean final body weight with the control feed. This study suggested that a combination of single cell protein and spent grains to substitute fish meal in grow-out feed for hybrid grouper could be applied up to 30%.
PENINGKATAN PRODUKSI DAN KUALITAS TELUR INDUK BANDENG (Chanos chanos) DENGAN PENAMBAHAN BAHAN PENGKAYA PADA PAKAN Muhammad Marzuqi; Retno Andamari; Ni Wayan Widia Astuti; Wawan Andriyanto; Nyoman Adiasmara Giri
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.911 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.11-19

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap performa reproduksi induk ikan bandeng. Ketersediaan pelet komersial yang spesifik untuk pemeliharaan induk bandeng hingga kini belum ada sehingga perlu dilakukan pengembangan pakan untuk menghasilkan performa reproduksi yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas telur induk bandeng melalui aplikasi bahan pengkaya pada pakan. Penelitian dilakukan di unit pembenihan skala lengkap Desa Banyupoh dan Desa Sanggalangit, Bali Utara. Jumlah induk yang digunakan adalah 165 ekor yang dipelihara dalam dua buah bak volume 100 m3 (di Desa Banyupoh) dan 100 ekor yang dipelihara dalam dua buah bak volume 100 m3 (di Desa Sanggalangit). Perlakuan yang digunakan adalah pakan komersial dengan penambahan bahan pengkaya (pakan uji) dan tanpa penambahan bahan pengkaya pakan (pakan kontrol). Bahan pengkaya berupa emulsi yang terdiri atas lesitin, minyak cumi, minyak ikan, minyak jagung, vitamin E, dan vitamin C yang dicampur dalam pakan dengan dosis sebesar 120 g/kg pakan. Pakan diberikan secara at-satiation dengan frekuensi 2-3 kali sehari. Penelitian berlangsung selama 10 bulan. Parameter yang diamati meliputi frekuensi pemijahan, produksi, dan kualitas telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan pengkaya dalam pakan mampu meningkatkan frekuensi pemijahan induk dengan rerata sebanyak lima kali/bulan di unit pembenihan skala lengkap Desa Banyupoh dan empat kali/bulan di unit pembenihan skala lengkap Desa Sanggalangit, serta dapat meningkatkan produksi telur masing-masing sebesar 102% dan 56% dibandingkan pakan kontrol. Teknik penambahan bahan pengkaya pada pakan dapat diterapkan pada pemeliharaan induk bandeng untuk mendukung produksi telur dan frekuensi pemijahan yang baik.Feed is one of the factors affecting the reproduction performance of milkfish broodstock. Hatcheries use mostly commercial pellets to feed broodstock despite that it is not a natural feed for milkfish. Thus, the food has to be enriched to maintain or improve the spawning performance of milkfish broodstock. The purpose of this study was to improve spawning performance of milkfish broodstock through the application of enriched-formulation feed. The study was conducted at two milkfish hatcheries in Banyupoh and Sanggalangit villages, North Bali. The number of broodstock used at Banyupoh village hatchery were 165 ind reared in two 100 m3concrete tanks. In the hatchery at Sanggalangit Village, 100 fish were reared in two 100 m3 concrete tanks. The feed enrichment formulation used a mixture of lecithin, squid oil, fish oil, corn oil, vitamin E, and vitamin C. The feed enrichment formulation was prepared in emulsion form and mixed with 120 g/kg dosage of feed. As a control, the feed used was without enrichment formulation. The feeding frequency was 2-3 times per day to satiation. The experiment was carried out for 10 months. The parameters observed included egg production, egg quality and spawning frequency. The results showed that the enriched feed had increased the spawning frequency of broodstock up to five times/month at the hatchery in Banyupoh and four times/month at Sanggalangit hatchery. Egg production also had increased to 102% (Banyupoh) and 56% (Sanggalangit) compared to the control feed. This feed enrichment formulation has the potential in broodstock milkfish rearing to improve the egg production and spawning frequency.