Yon Hendri
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PERTUNJUKAN SOLO PIANO REPERTOAR TOCCATA IN D MINOR BWV 565, PARTITA IN C MINOR BWV 826, MAK INANG PULAU KAMPAI Rizki Isman Haris; Yon Hendri; Zainal Warhat
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 8, No 1 (2022): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v8i1.753

Abstract

Pada penyajiannya, Toccata in D Minor BWV 565 yang merupakan salah satu karya popoler zaman barok yang diciptakan oleh J.S Bach pada kisaran tahun 1730-1735. Karya ini banyak mengandung Chord  dengan interval diminis yang dimainkan dalam bentuk Broken Chord dan penggandaan nada yang selaras dengan jarak satu oktave yang dimainkan dengan tempo cepat. Pada tahun 1899 Ferruccio Busoni menulis transkrip Toccata in D Minor BWV 565 kebentuk solo piano. Partita No. 2in C Minor BWV 826 adalah sebuah karya yang ditulis oleh J.S Bach untuk solo Harpsikord, karya ini ditulis pada tahun 1726. Partita adalah karya instrumental multi gerakan yang isinya beberapa gerakan yang relatif singkatyang di awali dengan Sinfonia.Sinfonia dimainkan dengan pengembangan dari Broken Chord pada tangan kanan dan diringi dengan glissando pada tangan kiri yang dimainkan pada tempo Gruve Adagio. Gerakan kedua dimainkan dengan not sepertigapuluhduaan dan seperenambelasan pada tangan kanan yang diringi dengan not seperdelapan tanpa jeda pada tangan kiri. Mak Inang Pulau Kampai adalah sebuah karya melayu dengan komposer NN yang diaransemen oleh Bapak Rizaldi S.Kar M. Hum kebentuk solo piano. Karya ini cukup populer di Indonesia dan juga di Malaysia. Kata “mak inang”artinya ialah pengasuh, jadi “mak inang” disini adalah seorang memiliki provesi sebagai pengasuh putra dan putri bangsawan pada zaman dahulu. Karya ini dimainkan dengan not seperenambelasan pada tangan kanan dan diringi dengan not seperdelapan yang menyerupai pola ritme Bass pada tangan kiri, dimainkan dengan tempo cepat dan memberikan suasana ceria senang, bahagia, damai dan tenang bagaikan ombak Pulau Kampai, sebuah pulau yang terletak di Muara sungai Besitang yang menghadap ke Selat Malaka.Kata kunci : Solo Piano; Pertunjukan; Klasik; Modern.
Interpretasi dan Ekspresi Solis Violin: Repertoar Concerto In A Minor, Zapin Kasih dan Budi, Rangkaian Melati dan Amazing Grace (Solis Violin Interpretation and Expression: Concerto In A Minor Repertoire, Zapin Kasih dan Budi, Rangkaian Melati and Amazing Grace) Arsenius Edi Susilo; Emridawati Emridawati; Yon Hendri; Martarosa Martarosa
MUSICA : Journal of Music Vol 2, No 1 (2022): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v2i1.2320

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk analisis interpretasi dan ekspresi solis violin dalam pertunjukan Concerto in A Minor, Zapin Kasih dan Budi, Rangkaian Melati dan Amazing Grace.  Arikel terkait interpretasi ini penting untuk dilakukan sebagai upaya bagi seorang penyaji dalam membawakan repertoar dengan mengedepankan aspek interpretasi terhadapa karya yang dimainkan. Repertoar Concerto in A Minor merupakan repertoar zaman barok dengan teknik yang meliputi Staccato, Appoggiatura, Arpeggio, Trill, Double Stop dan legato. Repertoar Zapin Kasih dan Budi yang tergolong musik Melayu, menggunakan teknik trio/triplet, legato dan grenek atau triller. Repertoar Rangkaian Melati yang tergolong musik keroncong, menggunakan teknik cengkok (gruppeto), gregel (mordent), mbesut (glissando), trill, Appoggiatura, Legato dan Staccato. Sedangkan repertoar Amazing Grace merupakan musik zaman barok, dengan teknik Sextuplet, Doublestop, vibrato, legato, dan arpeggio. Adapun metode yang digunakan dalam artikel ini ialah analisis interpretatif terhadap karya dalam pertunjukan. Hasil dari artikel ini menyajikan interpretasi dan ekspresi solis terhadap karya yang diwujudkan melalui pemahaman terhadap zaman, style dan teknik dari masing–masing repertoar.ABSTRACTThis article aims to analyze the interpretation and expression of the violin soloist in Concerto in A Minor, Zapin Kasih and Budi, Melati Series and Amazing Grace performances. This article related to interpretation is important to do as an effort for a presenter in bringing a repertoire by prioritizing the interpretation aspect of the work being played. The Concerto in A Minor repertoire is a baroque repertoire with techniques that include Staccato, Appoggiatura, Arpeggio, Trill, Double Stop and legato. Zapin Kasih and Budi's repertoire, which is classified as Malay music, uses trio/triplet, legato and grenek or triller techniques. The repertoire of the Melati series, which is classified as keroncong music, uses the techniques of cengkok (gruppeto), gregel (mordent), mbesut (glissando), trill, Appoggiatura, Legato and Staccato. Meanwhile, Amazing Grace's repertoire is music from the baroque era, with the techniques of Sextuplet, Doublestop, vibrato, legato, and arpeggio. The method used in this article is an interpretive analysis of works in performances. The results of this article present a solo interpretation and expression of the work that is realized through an understanding of the times, styles and techniques of each repertoire.
Produksi Karya Musik “The Story of Tapa Malenggang” (Production of Musical Works "The Story of Tapa Malenggang") aby rahman; Yon Hendri; Nora Anggraini
MUSICA : Journal of Music Vol 2, No 1 (2022): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v2i1.2370

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk menjabarkan proses kerja produksi karya musik The Story of Tapa Malenggang.Tapa Malenggang merupakan sastra lisan yang berasal dari Kabupaten Batanghari, Desa Tanjung, Maruo Provinsi Jambi. Tapa Malenggang mempunyai nama asli yaitu Mambang Diawan yang hidup dipintu langit merupakan sebuah ritual. Dalam ritual Tapa Malenggang, terdapat dendang yang dihadirkan sebagai bentuk syukur dan terima kasih atas kebaikan Tapa Malenggang yang telah menjaga kedamaian masyarakat disekitar sungai Batanghari. Pengkarya tertarik untuk mengangkat cerita Tapa Malenggang dengan mengadodpsi sepenggal melodi dendang ke dalam konsep musik elektro-akustik dan menggunakan beberapa teknik-teknik sound design. Elektro-akustik merupakan suara atau bunyi yang terdengar, tidak lagi terlihat sumber aslinya. Metode yang di gunakan dalam artikel ini adalah pengolahan elektro-akustik menggunakan beberapa teknik sound design seperti audio synthesis yang meliputi wave shape, LFO dan volume envelope. Hasil yang diperoleh dalam artikel ini adalah gambaran proses kerja dalam produksi karya musik The Story of Tapa Malenggang.ABSTRACTThe purpose of this article is to describe the work process of producing the musical work The Story of Tapa Malenggang. Tapa Malenggang is an oral literature originating from Batanghari Regency, Tanjung Village, Maruo, Jambi Province. Tapa Malenggang has a real name, namely Mambang Diawan, who lives at the door of the sky as a ritual. In the Tapa Malenggang ritual, there is a song that is presented as a form of gratitude and thanks for the kindness of Tapa Malenggang who has kept the peace of the community around the Batanghari river. The authors are interested in bringing up the story of Tapa Malenggang by adopting a piece of dendang melody into the concept of electro-acoustic music and using several sound design techniques. Electro-acoustic is a sound or sound that is heard, no longer seen the original source. The method used in this article is electro-acoustic processing using several sound design techniques such as audio synthesis which includes wave shape, LFO and volume envelope. The results obtained in this article are an overview of the work process in the production of the musical work The Story of Tapa Malenggang.
HOW ESSENTIAL IS THE PROTECTING MANTRA IN THE PERFORMING ARTS IN THE SOUTH COASTAL COMMUNITY? (Seberapa Penting Mantra Pelindung dalam Seni Pertunjukan di Masyarakat Pesisir Selatan?) Irdawati Irdawati; Emridawati Emridawati; Ibnu Sina; Yon Hendri; Delfi Enida
SAWERIGADING Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v29i1.1192

Abstract

This research highlights the function of an antidote or protector for the Pesisir Selatan populace during performance art. Based on prior research findings, it determines that spells possess a structure and function that serves as an antidote. At the same time, mantras contain cultural and religious values. The mantras recited by Minang shamans in their native language are based on verses from the Qur'an and employ the words of Allah SWT and Prophet Muhammad SAW. These mantras serve as a means of expressing belief while maintaining the unity and divinity of Allah SWT. A soft tone characterizes the recitation and employs ideational language to convey ideas and thoughts, reflecting the supernatural powers of the sources and containing hopes and requests. The present study employs a descriptive methodology with a phenomenological orientation, explicitly examining the phenomenon of utilizing mantras to counter adverse effects within a given community. The research involves an analysis of the structure and contextual presentation of mantras as observed within the Minang community. Furthermore, the study involved interviews with informants who served as experts in mantras, providing descriptions of factual or empirical linguistic phenomena present in individuals' daily experiences. The study's findings, which involved interviews with multiple informants, indicate that chants believe to possess magical properties, specifically the ability to avert a negative outcome. AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang fungsi penawar atau pelindung bagi masyarakat Pesisir Selatan pada seni pertunjukan. Berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, telah ditetapkan bahwa mantra memiliki struktur dan fungsi yang berfungsi sebagai penawar racun. Pada saat yang sama, mantra mengandung nilai-nilai budaya dan agama. Mantra yang dibacakan oleh dukun Minang dalam bahasa asli mereka didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an dan menggunakan kata-kata Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Mantra-mantra tersebut berfungsi sebagai sarana mengungkapkan keyakinan dengan tetap menjaga keesaan dan ketuhanan Allah SWT. Nada lembut mencirikan pembacaan dan menggunakan bahasa ideasional untuk menyampaikan ide dan pikiran, mencerminkan kekuatan supranatural dari sumber dan mengandung harapan dan permintaan. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif dengan orientasi fenomenologis, khususnya mengkaji fenomena penggunaan mantra untuk melawan efek negatif dalam suatu komunitas tertentu dalam seni pertunjukan. Penelitian ini melibatkan analisis struktur dan kontekstual penyajian mantra-mantra yang diamati dalam masyarakat Minang di Pesisir Selatan. Selain itu, penelitian ini melibatkan wawancara dengan informan yang berperan sebagai ahli mantra, memberikan deskripsi fenomena linguistik faktual atau empiris yang hadir dalam pengalaman sehari-hari individu. Temuan penelitian, yang melibatkan wawancara dengan banyak informan, menunjukkan bahwa nyanyian diyakini memiliki sifat magis, khususnya kemampuan untuk mencegah hasil negatif.
Pembelajaran lagu kamiri dalam formasi vokal grup pada siswa SMA N 2 PadangPanjang Naluri Erabia Ulfani; Yusnelli Yusnelli; Arga Budaya; Yon Hendri; Hidayatmi Hidayatmi
Musica: Journal of Music Vol 6, No 1 (2026): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v6i1.30889

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran lagu “Kamiri” dalam format vokal grup di SMAN 2 Padangpanjang. Lagu “Kamiri” merupakan lagu tradisional Minangkabau yang mengandung nilai budaya lokal. Melalui pembelajaran berbasis vokal grup, siswa tidak hanya dilatih keterampilan teknik vokal seperti pernapasan, artikulasi, intonasi, dan phrasing, tetapi juga diperkenalkan pada warisan budaya melalui musik daerah. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam dua siklus, dengan subjek delapan siswa yang dibagi dalam formasi suara (sopran, alto, tenor, dan bass). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, lalu dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil menunjukkan peningkatan kemampuan siswa pada aspek teknik vokal dan performa kolektif setelah evaluasi dan perbaikan strategi pembelajaran di siklus kedua. Pembelajaran vokal grup lagu “Kamiri” terbukti meningkatkan kualitas vokal serta menumbuhkan apresiasi terhadap musik tradisional di lingkungan sekolah.
PERTUNJUKAN SOLIS TRUMPET DENGAN REPERTOAR ‘CONCERTO IN Eb MAJOR 2 MOVEMENT (ALLEGRO & ANDANTE)’, ‘PENAWAR RINDU’, DAN ‘CHERRY PINK AND APPLE BLOSSOM WHITE’ Sayyidul Makruf; Selvi Kasman; Yon Hendri; Ferry Herdianto
Musica: Journal of Music Vol 6, No 1 (2026): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v6i1.6305

Abstract

This trumpet solo recital presents three repertoires from different musical genres: Concerto in E-flat Major (Classical) by Haydn, Penawar Rindu (Malay), and Cherry Pink and Apple Blossom White (Popular). This performance aims to analyze the musical characteristics of each repertoire and to interpret them within a trumpet solo performance through the application of genre-specific trumpet techniques. Conceptually, the recital is grounded in the paradigm of practice-based research, in which the performance process is understood as a form of artistic inquiry that generates new knowledge through musical action. The technical foundation of the performance is supported by specially designed etude exercises to address the specific technical challenges of each repertoire, combined with an in-depth interpretative approach. The results demonstrate that through this method, the distinctive characteristics of each genre can be effectively realized within a unified performance framework, highlighting the flexibility and artistic depth of a trumpet soloist.
Contrabass Solo Performance in Cross-Genre Repertoire: Technical and Interpretative Study Mauladi Fathar; Sastra Munafri; Martarosa Martarosa; Yon Hendri; Anton Kustilo
Musica: Journal of Music Vol 5, No 2 (2025): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v5i2.5308

Abstract

Artikel ini membahas pertunjukan solis contrabass melalui tiga repertoar lintas genre, yaitu Sonata in G Minor karya Henry Eccles, Zapin Muara karya Dzul Rabbul, dan The Godfather karya Nino Rota. Pertunjukan ini bertujuan mengeksplorasi tantangan teknis dan interpretatif permainan contrabass sebagai instrumen solis dalam konteks musik Barok, tradisi Melayu, dan musik film modern. Pendekatan yang digunakan adalah praktik artistik berbasis penelitian (practice-based research), meliputi pemilihan repertoar, analisis teknis musikal, serta proses latihan individu dan ansambel. Hasil pertunjukan menunjukkan bahwa contrabass memiliki fleksibilitas teknis dan ekspresif yang memungkinkan adaptasi karakter musikal dari berbagai gaya. Repertoar Barok menuntut penguasaan ornamentasi dan artikulasi, Zapin Muara menekankan adaptasi idiom musikal Melayu pada register tinggi, sementara The Godfather menguji kemampuan interpretasi lintas gaya antara musik klasik dan populer. Selain itu, pertunjukan ini memperlihatkan peran penting aransemen dan pemilihan pendekatan interpretatif dalam memperluas fungsi contrabass sebagai instrumen solis. Pertunjukan ini berkontribusi pada pengayaan wacana akademik mengenai pertunjukan solis contrabass di lingkungan pendidikan seni musik Indonesia
Pertunjukan Solis Gitar Lintas Genre: Kajian Interpretatif Geovani Geovani; Awerman Awerman; Yusnelli Yusnelli; Yon Hendri; Nofridayati Nofridayati
Musica: Journal of Music Vol 5, No 2 (2025): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v5i2.6013

Abstract

Penelitian ini mengkaji pertunjukan solis gitar lintas genre sebagai sebuah kajian interpretatif dalam konteks pertunjukan musik akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis praktik pertunjukan, dengan objek kajian berupa tiga repertoar yang merepresentasikan gaya musik berbeda, yaitu karya gitar klasik, jazz Melayu, dan musik populer progresif. Data diperoleh melalui observasi proses latihan, dokumentasi pertunjukan, serta refleksi interpretatif terhadap strategi musikal yang diterapkan oleh solis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan lintas genre menuntut fleksibilitas interpretasi yang tinggi, baik dari aspek teknis maupun ekspresif. Setiap repertoar memerlukan pendekatan interpretatif yang berbeda, yang dipengaruhi oleh konteks gaya, struktur musikal, dan karakter ekspresi masing-masing karya. Penguasaan teknik gitar serta pemahaman idiom musikal terbukti berperan penting dalam membangun interpretasi yang koheren dan komunikatif. Kajian ini menegaskan bahwa pertunjukan solis gitar lintas genre dapat menjadi model praktik interpretatif yang relevan dalam pendidikan tinggi seni musik serta memperkaya wacana kajian pertunjukan musik
Pembelajaran Lagu Daerah "Rambadia" Dalam Format Ensembel Vokal di SMP Negeri 1 Padangpanjang Agnes Sihaloho; Wilma Sriwulan; Yon Hendri; Hidayatmi
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Menulis - April
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i4.1113

Abstract

Penelitian berjudul “Pembelajaran Lagu Rambadia dalam Bentuk Ansambel Vokal di SMP Negeri 1 Padangpanjang” ini dilatar belakangi oleh isu menurunnya minat siswa dalam mempelajari lagu daerah. Dari isu yang sudah ada maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi, pemahaman, dan pengetahuan siswa terhadap kekayaan lagu daerah. Penelitian ini juga bertujuan mendeskripsikan proses pembelajaran lagu Rambadia yang telah diaransemen ulang ke dalam format ansambel vokal dengan pembagian suara Sopran, Mezzo-Sopran, dan Alto. Aransemen lagu ini menggunakan nada dasar D Mayor dengan sukat 4/4, serta dilengkapi musik pengiring gitar, cajon, dan marakas yang memperkaya warna musikal selama proses pembelajaran berlangsung. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Pendekatan ini membantu peneliti menggambarkan data secara apa adanya, menganalisis tahapan pembelajaran, serta memahami respon siswa terhadap materi, sehingga diperoleh gambaran komprehensif mengenai pembelajaran lagu daerah dalam konteks pendidikan musik di sekolah. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini mencakup teori teknik vokal khususnya pernapasan diafragma, serta teori musik yang meliputi solfeggio, harmoni, dan aransemen, dan Metode pembelajaran yang diterapkan di lapangan meliputi metode latihan (drill), demonstrasi, dan diskusi. Hasil dari penelitian ini adalah dipertunjukkannya lagu Rambadia dalam bentuk ansambel vokal di kampus Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Musik Gong Kecitang Sebagai Pengiring Tari Kejei Curup, Rejang Lebong: Kajian Musikologis Terhadap Fungsi Dan Peran Musikal Anindita Oriana; Wilma Sriwulan; Irwan; Yon Hendri; Vindo Alhamda Putra
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 8 (2026): Menulis - Agustus
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i8.1330

Abstract

Abstrak Musik Gong Kecitang merupakan ansambel tradisional yang menjadi bagian integral pertunjukan Tari Kejei masyarakat Rejang di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Keberadaannya berfungsi sebagai pengiring tari dan memiliki struktur musikal, fungsi, serta peran yang membentuk kesatuan pertunjukan. Penelitian ini bertujuan mengkaji struktur musikal, fungsi, dan peran Gong Kecitang dalam pengiring Tari Kejei. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dalam perspektif musikologi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi audio-visual, dan studi pustaka. Analisis dilakukan terhadap unsur struktur penyajian, ritme, tempo, dinamika, fungsi instrumen, dan hubungan musik dengan gerak tari. Hasil penelitian menunjukkan struktur musikal Gong Kecitang terdiri atas empat bagian: Sambei Pangela, Ombak Laut, Burung Lanting, dan Siamang di Balik Bukit. Setiap bagian memiliki karakter musikal berbeda dan membentuk kesatuan pertunjukan. Ansambel terdiri atas kelintang, gong, redap, dan krilu. Kelintang sebagai pembawa ritme utama dan pengatur tempo, gong sebagai penanda struktur, redap sebagai penguat ritme, dan krilu sebagai pengiring vokal pembuka. Bagian Sambei Pangela dimainkan pada tempo lambat sekitar 60 bpm, sedangkan bagian inti menggunakan tempo sekitar 110 bpm secara stabil.Kajian fungsi menunjukkan Gong Kecitang memiliki fungsi ritual-sosial budaya, pengiring-komunikasi simbolik, serta hiburan-estetika. Perannya tampak dalam mengatur tempo dan pola gerak tari, menandai perpindahan bagian, membangun suasana ekspresif, serta menjembatani interaksi pemusik dan penari. Temuan juga menunjukkan musik ini mengandung nilai kebersamaan, kerja sama, dan identitas budaya Rejang yang diwariskan turun-temurun. Dengan demikian, Gong Kecitang tidak hanya sebagai pengiring Tari Kejei, tetapi juga representasi budaya yang memperkuat keberlangsungan tradisi masyarakat Rejang di Kabupaten Rejang Lebong.