This Author published in this journals
All Journal Sawerigading
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BENTUK DAN REFERENSI KATA MAKIAN DALAM BAHASA BUGIS Nurlina Arisnawati
SAWERIGADING Vol 16, No 1 (2010): Sawerigading, Edisi April 2010
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v16i1.299

Abstract

This writing explorer the form and reference abusive word in buginese. Abusive wordin Buginese well known as rodda (makkarodda) is emotional language used to expressannoying, angry or dislike feeling toward something. Form of abusive word isidentified based on what is expressed by Buginese speaker when he or she is angry,annoying, and so on. Beside that, listening attentively technique using. Dictionary ofBuginese-Indonesia is also applied, especially entry naming rough or taboo words.The conclusion os abusive word in Buginese are: (1) abusive in word form, (2) abusivein pharase form, and (3) abusive in clause form. While based on the reference, abusiveword in Buginese have several kinds of reference, that is: condition, animal,supernatural creatures, things, part or body, kinship, and profession.AbstrakTulisan ini mendeskripsikan tentang bagaimana bentuk dan referensi kata makiandalam bahasa Bugis. Makian yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah rodda(makkarodda) merupakan bahasa yang paling emosional yang digunakan untukmengekspresikan rasa jengkel, marah, atau ketidaksenangan terhadap sesuatu yangtidak mengenakkan perasaan. Bentuk makian dalam bahasa Bugis ini diidentifikasiberdasarkan makian-makian yang dilontarkan oleh masyarakat/penutur bahasa Bugisketika sedang marah, jengkel, dan sebagainya. Selain itu, juga digunakan tekhnikpenyimakan melalui Kamus Bahasa Bugis-Indonesia, terutama kata-kata yang berlabelkasar atau tabu. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bentuk makiandalam bahasa Bugis meliputi: (1) makian berbentuk kata, (2) makian berbentuk frase,dan (3) makian berbentuk klausa. Sedangkan berdasarkan referensinya, kata makiandalam bahasa Bugis memiliki beberapa jenis referensi, di antaranya: keadaan, binatang,makhluk halus, benda-benda, bagian tubuh, kekerabatan, dan profesi.
MEMBANGUN KARAKTER BANGSA YANG BERADAB MELALUI BUDAYA KOMUNIKASI (BAHASA INDONESIA) YANG SANTUN: KASUS PADA MEDIA CETAK DI MAKASSAR (Building Well-Mannered Character Through Polite Communication (Indonesian Language): Case Study of Mass Media in Makassar) Nurlina Arisnawati
SAWERIGADING Vol 20, No 2 (2014): Sawerigading
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v20i2.25

Abstract

The writing aims at describing the form of polite communication on case study of mass media language in Makassar including Fajar, Tribun, and Cakrawala. Method used is descriptive qualitative with noting technique. Result of analysis shows that speech contained in the mass media is in two forms of communication, impolite and polite communication. The form of impolite communication is marked by: a) critic is conveyed directly, b) there is emotional drive when speaking, c) the speaker is protective towards his opinion, d) The speaker corners the speaker partner, and e) the spesker accuses the speaker partner based on suspicious; whilst the form of polite communication could be identified by: a) the speaker speaks properly, b) the speaker emphasizes on main topic conveyed, c) the speaker always has good prejudice to speaker partner, d) the speaker is opened and conveys critic in general.
STRATEGI KESANTUNAN TINDAK TUTUR PENOLAKAN DALAM BAHASA MAKASSAR Nurlina Arisnawati
SAWERIGADING Vol 18, No 1 (2012): Sawerigading, Edisi April 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v18i1.357

Abstract

This paper discusses the politeness strategies of speech acts in refusal used in Makassarese language. The method used in this paper is qualitative descriptive by listening techniques, interviewingg, notingg, recording, and involving in conversation. These results indicate that there are several strategies used by people to refuse e.g. refusing preceded by saying sorry, refusing preceded by saying thank you, refusing preceded by giving a proposal, refusing implicitly, refusing by giving terms or conditions, and refusing by relying on the third party. In addition, there are also some other vague strategies often used by people in Makassar by giving polite refusal, for example: sinampekpi nicinikki 'will be seen later', kutadeng 'may be', which show hesitation to accept something. However, this does not mean that speakers of Makassarese language cannot provide direct and unequivocal refusal. Direct and unequivocal rejections usually occur when facing difficult circumstances. Abstrak Tulisan ini membahas tentang strategi kesantunan tindak tutur penolakan dalam bahasa Makassar. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik menyimak, wawancara, pencatatan, perekaman, dan libat cakap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa strategi yang digunakan orang Makassar agar penolakannya diterima dengan baik, di antaranya: menolak dengan didahului permintaan maaf, menolak dengan didahului ucapan terima kasih, menolak dengan menggunakan usulan, menolak dengan cara implisit, menolak dengan memberi syarat atau kondisi, dan menolak dengan menyandarkan alasan pada pihak ketiga. Selain itu, ada juga beberapa strategi samar-samar lain yang sering dipakai oleh orang Makassar dalam memberi penolakan secara santun, misalnya: mengambangkan jawaban, seperti: sinampekpi nicinikki ' nanti dilihat', kutadeng 'mungkin', sehingga menunjukkan keragu-raguan penutur untuk menerimanya. Namun, ini tidak berarti bahwa penutur bahasa Makassar tidak bisa memberikan penolakan secara langsung dan tegas. Penolakan secara langsung dan tegas biasa terjadi ketika mitra tutur dihadapkan pada keadaan yang sulit.
KETRANSITIFAN TEKS BERITA PUNGUTAN LIAR DI SEKOLAH MELALUI MEDIA DARING (Transitivity of News Text regarding Illegal Retribution at Schools through Online Media) Nurlina Arisnawati
SAWERIGADING Vol 26, No 1 (2020): Sawerigading, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v26i1.676

Abstract

Corruption is a big problem in Indonesia, and it is always reporting on media. One of them is illegal retribution in school. This research discusses the transitivity of news text regarding the wild levy at school. The aim is to describe the meaning of the material process through the verb of  transitivity in reporting illegal retribution at school. The method used is a descriptive- qualitative method with a critical discourse analysis approach by Norman Fairclough. Data on this research are transitive sentences, and the source of the data is the news text of illegal retribution at school, which takes from the online media of beritakotamakassar. fajar.co.id., and makassar.tribunnews.com with ten titles of news regarding the wild retribution at school published in March 2017. The results of this research indicate that in terms of transitivity, online media (beritakotamakassar.fajar.co.id and makassar.tribunnews.com) use meaningful material processes of actions, circumstances, events, and mental processes (behaviors) in reporting case of the illegal retribution at school. This transitivity reveals that these two online media use more active verbs rather than passive verbs, which indicate that media are more likely to mention actors rather than to hide subjects, in particular on the dominant actor or subject. Dominant subjects are shown or highlighted by using active verbs, while dominated actors are displayed using passive verbs. The more dominant active verb used is the active verb, which states the meaning of action. It indicates that both media strongly support the steps or actions taken by Law Institutions (Kejari) in handling cases of illegal retribution in school.AbstrakKorupsi merupakan masalah besar di Indonesia sehingga tiada hari tanpa pemberitaannya di media. Salah satunya adalah pungutan liar (pungli) di sekolah. Tulisan ini membahas ketransitifan teks berita pungli di sekolah. Tujuannya adalah mendeskripsikan makna proses material melalui verba ketransitifan dalam pemberitaan pungli di sekolah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Data dalam penelitian ini berupa kalimat transitif, dan sumber datanya adalah teks berita pungli di sekolah yang diambil dari media daring beritakotamakassar.fajar.co.id., dan makassar.tribunnews.com dengan sepuluh judul berita tentang pungli di sekolah yang terbit pada bulan Maret 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari segi ketransitifan, media daring (beritakotamakassar.fajar.co.id dan Makassar.tribunnews.com) menggunakan proses material bermakna perbuatan, keadaan, peristiwa dan proses mental (perilaku) dalam memberitakan kasus pungli di sekolah. Ketransitifan ini mengungkapkan bahwa kedua media daring ini lebih banyak menggunakan verba aktif daripada verba pasif yang menandakan bahwa media tersebut lebih cenderung menyebutkan aktor (subjek) daripada menyembunyikan subyek,